Langsung ke konten utama

Postingan

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...

Bunga-Bunga

Masa itu aku pernah muda dan pemalu. Sama seperti rata-rata mereka, akupun punya mau dan cita-cita.  Bukan suara-suara bicara atau bunyi langkah kaki, aku justru mencari tinta dan menyulamnya. Beberapa darinya menjadi doa dan titik komanya menjadi bunga-bunga. Tapi suara tetap sepi dan pagar menjadi semakin tinggi.  Lembar kiri penuh dan lembar kanan mulai terisi,  sampai lama sekali.. Hingga datang suatu angka yang tidak juga suka berpuisi. Kalimatku menari-nari namun ia malah berhitung. Aku tak menyukainya tapi ia tidak mau pergi. Kemudian bukuku menjadi kosong dan lama sekali menunggu. Tapi di luar sana, angka itu juga tetap menunggu. Sampai basah angin dan tebal berdebu-debu. Akhirnya aku mempersilakan angka-angka itu untuk berhitung di lembaranku. Dan kata-kata serta tanda baca bunga-bunga itu akhirnya menjadi ingatan dan kasih sayang dari Rabb-ku. Tentang betapa aku sudah berusaha selagi takut melakukan dosa. Tentang betapa doa-doa di malam sepi tidak semua harus te...

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Menjadi

Setelah sekian hari yang kukira tak akan pernah menulis lagi, *** Ya Allah, bagaimanakah menjadi seorang Istri itu? Apakah menjadi seorang Istri berarti selalu memutar kunci dan membuka pintu untuk menjadi yang pertama kali dilihat oleh Suaminya ketika pulang? Apakah itu berarti aku harus mengisi meja dengan nasi setiap hari agar tak perlu lagi lelakiku berpikir makanan apa kiranya yang menjadi menunya hari ini dan esok hari? Apakah menjadi Istri artinya Abi bukan lagi menjadi imam bagiku dan Ibuku di rumah kami? Bagaimana sebenarnya menjadi seorang Istri itu? Lalu, Bagaimana kiranya menjadi seorang Ibu? Apakah Ia adalah seorang wanita yang pasti selalu mensyukuri nikmat dari pemberian Rabb-nya? Apakah Ia adalah seorang wanita yang pantang patah dan menangis demi anaknya tak menjadi serentan dirinya? Dan, apakah seorang Ibu adalah Ia yang tak pernah memaksa anaknya untuk melepas genggaman tangan dan menutup telinga dari tangisannya demi harus segera kembali berang...

Seharusnya

Dari awal sudah bakatku untuk tidak suka bertanya-tanya. Tidak pernah aku bertanya kenapa harus makan siang bukannya tidur atau bermain saja. Dan tidak pernah juga aku bertanya kenapa kami hanya di sini bertiga. Saat itu dunia rasanya adil sekali. Meskipun lebih sering bermain sendiri, tapi tangan dan kakiku tidak pernah mengenal sakitnya pukulan sapu. Saat itu kiri kananku adalah orang-orang baik. Aku mempercayakan awal hari hingga tidurku pada mereka semua. Bersama mereka, hidupku pasti baik-baik saja. Mbah Uti berteriakpun, aku menyukainya karena teriakan itu pasti untuk kebaikanku. Agar aku mau pulang, agar aku mau makan siang. Saat itu, aku tidak bertanya jam berapa Ayah akan pulang. Aku yakin bahwa siang atau sore, Ia pasti segera datang dan bertanya bermain apa aku seharian. Dengan bermain kertas kartun yang sama, kupasang dan kulepaskan lagi berulang kali. Saat itu meskipun aku sering ditinggalkan, tapi aku tau bahwa kakakku pasti kembali. Meskipun lama Ia bermain dengan seba...