Langsung ke konten utama

Menjadi

Setelah sekian hari yang kukira tak akan pernah menulis lagi,

***

Ya Allah,

bagaimanakah menjadi seorang Istri itu?

Apakah menjadi seorang Istri berarti selalu memutar kunci dan membuka pintu untuk menjadi yang pertama kali dilihat oleh Suaminya ketika pulang?

Apakah itu berarti aku harus mengisi meja dengan nasi setiap hari agar tak perlu lagi lelakiku berpikir makanan apa kiranya yang menjadi menunya hari ini dan esok hari?

Apakah menjadi Istri artinya Abi bukan lagi menjadi imam bagiku dan Ibuku di rumah kami?

Bagaimana sebenarnya menjadi seorang Istri itu?

Lalu,

Bagaimana kiranya menjadi seorang Ibu?

Apakah Ia adalah seorang wanita yang pasti selalu mensyukuri nikmat dari pemberian Rabb-nya?

Apakah Ia adalah seorang wanita yang pantang patah dan menangis demi anaknya tak menjadi serentan dirinya?

Dan, apakah seorang Ibu adalah Ia yang tak pernah memaksa anaknya untuk melepas genggaman tangan dan menutup telinga dari tangisannya demi harus segera kembali berangkat bekerja?

Kalau menjadi Istri sekaligus menjadi seorang Ibu adalah benar seperti itu, lalu, pantaskah aku?

 ---

Nak, lihat Ibu di belasan tahun yang lalu.

Sekolah, halaman parkir, semua ramai. Temanku yang sedari tadi menunggu Ibunya kini sedang senang menggendong adiknya yang sesekali diajaknya bercanda bersama kami. Para siswa siswi semuanya harus menunggu di depan kelas menunggu wali kelas selesai dengan apapun yang ingin beliau sampaikan di dalam sana kepada para orang tua. Kulihat pintu kelas sedikit terbuka. Satu per satu orang tua itu maju lalu tandatangan dan menerima rapor semester anak-anak mereka. Setelah Ibunya keluar, teman-temanku meminta jajanan yang tak biasanya mereka beli. Hari itu uang jajan mereka aman, Ayah atau Ibu mereka semua datang.

Lapangan pelan menjadi sepi.

Seperti biasa, aku masuk dan menghadap wali kelasku dan mengatakan bahwa orang tuaku tak bisa datang. Hari itu dan hari-hari pengambilan rapor selanjutnya, aku mengambilnya sendiri dengan selalu mendapat nomor antrian paling belakang.

 Nak, ada hari dimana Ibu belum bisa membaca.

Bangku kecil yang menghadap jam dinding itu selalu menjadi tempat dudukku ketika hari menjelang siang atau sore. Dimintanya aku menyebutkan pukul berapa jam dinding waktu itu. Lama, lama sekali aku mengira-ngira dan terbata-bata. Kayu sapu itu selalu menakutiku kalau-kalau aku membuang-buang waktu ibuku demi menungguku.

Sering kali rasanya aku sudah lama sekali tidur siang. Berpindah-pindah dari sofa atau dimanapun itu di rumah tetangga. Ketika kudengarkan lagi, belum ada suara knalpot motor Abi. Sudah siang, tapi rumahku masih sepi. Beberapa kali tetangga menawariku makan siang lalu aku enggan, entah karena malu atau memang sedang tak ingin makan. Aku sudah pulang sekolah dari tiga jam yang lalu. Mbak Ul masih sekolah, Abi baru pulang pukul satu, dan Ibu akan menyusul pukul empat sore.

Ketika rumah mulai terdengar suara-suara keras dan meninggi, aku harus selalu mengira bahwa mereka pasti sedang lelah setelah seharian bekerja. Aku harus diam agar mereka tidak menjadi semakin marah.

Saat itu, kami semua sedang sama-sama berusaha.

Abi dan Ibu berusaha bagaimana baiknya menjadi orang tua dan kamipun belajar bagaimana cara mendengarkan dan mematuhi mereka.

 ---

Nak, taukah engkau kenapa mendidik anak perempuan lebih sulit dibanding anak lelaki?

Sebatas yang Ibu tau dan alami, orang tuaku memang tidak bisa memberi semua yang aku mau, tapi itu adalah segalanya yang mereka bisa. Mungkin memang jalan demikian yang mereka pilih agar kami semangat berangkat sekolah dan agar kami selalu bersikap baik di rumah. Aku tidak pernah membeli baju kecuali bisa dihitung jari. Semua isi lemari sudah Ibu isi dengan ukuran dan warna yang Ia harap semoga cocok padaku dan aku menyukainya. Abi yang pulang dengan dua kotak utuh yang berisi kue-kue dan nasi ayam. Selalu berkata bahwa Ia telah kenyang dan makanlah untuk kami berdua.

Dua puluh tiga tahun bersama mereka, akan selesai ketika Abi dengan ijabnya menyerahkanku kepada seorang lelaki. Mulai hari itu, suaranya bukan yang pertama lagi. Mereka yang mengikat perut demi melihat kami tumbuh bukanlah surga kami lagi. Pada akhirnya, kami akan pergi dan datang lagi sebagai tamu di rumah sendiri. Berhasil atau tidaknya mendidik agamaku dan kakakku-lah yang bisa menjadi harapan mereka untuk mendapat ridho Rabb-Nya.

 ---

Nak,

Misalnya Ibu harus menaruh mangkok makan dan melepas tanganmu, percayalah bahwa Ibu harus berangkat untuk nantinya pulang lagi menemuimu. Ketauhilah bahwa Ibu juga sangat ingin duduk di kelas untuk mengambil dan melihat apapun isi rapormu. Bila Ibu marah padamu, semoga Ibu tidak memukulmu dan selalu ingat bahwa cara Ibu yang salah dalam mendidikmu.

***


Ketika aku mengatakan sedihku pada mereka, masing-masing dari mereka menjawab bahwa kilometer yang panjang ini tidaklah lama. Jangan lemah dan kuatlah. Paksa dirimu bahagia untuk kebahagiaan anakmu. Yang tanpa mereka sadari memaksa kebagiaan kepada seseorang adalah upaya tipuan yang tidak pernah membantu.

“nggapapa, masih banyak lho di luar sana yang kondisinya jauh lebih parah dari kamu”

harusnya kamu masih bersyukur masih diberi banyak hal”

Kawan, kalimat itu sama sekali tidak memberi solusi. Lebih parahnya bukannya Ia yang sedih jadi sedikit hilang bebannya, kalimat itu malah membuatnya berpikir sudahlah aku berat melewati ini, ditambah payah tak bisa bersyukur seperti mereka.

Dari awal pun aku berusaha mengerti bahwa mereka menyampaikan itu tak lain untuk kebaikanku. Hanya saja aku tak menemukan kalimat-kalimatnya yang bisa aku terima.

Namun dengan itu,

Aku kembali pada Rabb-ku.

dan kembali ingat untuk tidak menggantungkan kebahagiaanku kepada manusia,

entah siapapun itu.

   

“I think the strongest prayer I’ve ever prayed is a single phrase I declared with complete honesty:

Allah, I have no idea what you’re doing,

but I trust you”

-unknown


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...