Sama seperti rata-rata mereka, akupun punya mau dan cita-cita.
Bukan suara-suara bicara atau bunyi langkah kaki, aku justru mencari tinta dan menyulamnya.
Beberapa darinya menjadi doa dan titik komanya menjadi bunga-bunga.
Tapi suara tetap sepi dan pagar menjadi semakin tinggi. Lembar kiri penuh dan lembar kanan mulai terisi,
sampai lama sekali..
Hingga datang suatu angka yang tidak juga suka berpuisi.
Kalimatku menari-nari namun ia malah berhitung.
Aku tak menyukainya tapi ia tidak mau pergi. Kemudian bukuku menjadi kosong dan lama sekali menunggu.
Tapi di luar sana, angka itu juga tetap menunggu.
Sampai basah angin dan tebal berdebu-debu.
Akhirnya aku mempersilakan angka-angka itu untuk berhitung di lembaranku.
Dan kata-kata serta tanda baca bunga-bunga itu akhirnya menjadi ingatan dan kasih sayang dari Rabb-ku. Tentang betapa aku sudah berusaha selagi takut melakukan dosa. Tentang betapa doa-doa di malam sepi tidak semua harus terjadi. Tentang betapa anak-anak rindu tidak harus selalu bertemu tuannya.
Allah telah memberiku banyak arti, sekaligus memberiku banyak sekali bukti.
Sekarang bagianku hanya harus percaya,
bahwa yang paling baik tetap menurut kadar hikmahNya.
Hari ini aku sudah menulis buku yang baru.
Yang kuisi dengan menu makanan dan barisan janji-janji.
Janji untuk teguh dan tidak saling mengkhianati.
Kepada bunga dan banyak anak-anak rindu, aku mengembalikanmu pada Rabb-ku. Melempar salam pada ingatan dan mengatakan selamat dan hati-hati.
Pergilah dengan aman dan berjanjilah untuk tidak melukai, meskipun ia tidak mengetahui.

Komentar
Posting Komentar