Langsung ke konten utama

Bunga-Bunga


Masa itu aku pernah muda dan pemalu.

Sama seperti rata-rata mereka, akupun punya mau dan cita-cita. 

Bukan suara-suara bicara atau bunyi langkah kaki, aku justru mencari tinta dan menyulamnya.

Beberapa darinya menjadi doa dan titik komanya menjadi bunga-bunga.

Tapi suara tetap sepi dan pagar menjadi semakin tinggi. Lembar kiri penuh dan lembar kanan mulai terisi, 

sampai lama sekali..

Hingga datang suatu angka yang tidak juga suka berpuisi.

Kalimatku menari-nari namun ia malah berhitung.

Aku tak menyukainya tapi ia tidak mau pergi. Kemudian bukuku menjadi kosong dan lama sekali menunggu.

Tapi di luar sana, angka itu juga tetap menunggu.

Sampai basah angin dan tebal berdebu-debu.

Akhirnya aku mempersilakan angka-angka itu untuk berhitung di lembaranku.

Dan kata-kata serta tanda baca bunga-bunga itu akhirnya menjadi ingatan dan kasih sayang dari Rabb-ku. Tentang betapa aku sudah berusaha selagi takut melakukan dosa. Tentang betapa doa-doa di malam sepi tidak semua harus terjadi. Tentang betapa anak-anak rindu tidak harus selalu bertemu tuannya.

Allah telah memberiku banyak arti, sekaligus memberiku banyak sekali bukti.

Sekarang bagianku hanya harus percaya, 

bahwa yang paling baik tetap menurut kadar hikmahNya.

Hari ini aku sudah menulis buku yang baru.

Yang kuisi dengan menu makanan dan barisan janji-janji. 

Janji untuk teguh dan tidak saling mengkhianati. 

Kepada bunga dan banyak anak-anak rindu, aku mengembalikanmu pada Rabb-ku. Melempar salam pada ingatan dan mengatakan selamat dan hati-hati. 

Pergilah dengan aman dan berjanjilah untuk tidak melukai,  meskipun ia tidak mengetahui. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...