Dari awal
sudah bakatku untuk tidak suka bertanya-tanya. Tidak pernah aku bertanya kenapa
harus makan siang bukannya tidur atau bermain saja. Dan tidak pernah juga aku
bertanya kenapa kami hanya di sini bertiga.
Saat itu dunia rasanya adil
sekali. Meskipun lebih sering bermain sendiri, tapi tangan dan kakiku tidak
pernah mengenal sakitnya pukulan sapu. Saat itu kiri kananku adalah orang-orang
baik. Aku mempercayakan awal hari hingga tidurku pada mereka semua. Bersama mereka,
hidupku pasti baik-baik saja. Mbah Uti berteriakpun, aku menyukainya karena teriakan
itu pasti untuk kebaikanku. Agar aku mau pulang, agar aku mau makan siang.
Saat itu, aku tidak bertanya jam berapa Ayah akan pulang. Aku yakin bahwa siang atau sore, Ia pasti segera datang dan bertanya bermain apa aku seharian. Dengan bermain kertas kartun yang sama, kupasang dan kulepaskan lagi berulang kali.
Saat itu meskipun aku sering ditinggalkan, tapi aku tau bahwa kakakku pasti kembali. Meskipun lama Ia bermain dengan sebayanya, aku tau bahwa sore nanti Ia akan berjalan denganku untuk bersama berangkat mengaji. Saat itu, meskipun Ia tak punya uang, tapi Ia rela memberikan dirinya melawan malam dan hujan untuk mengantar apapun untukku.
Dan saat itu, kukira semua akan
tetap sama selamanya.
Sampai pada suatu hari, aku mulai
mempunyai satu dua pertanyaan dan beberapa pertanyaan yang lebih banyak lagi. Deretan
pertanyaan yang intinya: tak bisakah semua kembali seperti dulu?
Seandainya aku punya pena untuk
menulis takdirku sendiri, pasti jalan ceritanya akan lebih baik bukan?
Seandainya jari-jari empat
tahunku diberi kesempatan menggambar semuanya, akan kubuat kami semua tak
pernah mengenal uang. Akan kubuat kami semua untuk tak akan pernah kemana-mana.
Akan kujadikan hari selalu pagi dan tak mengenal tidur agar tak menyiakan waktu
dengan berhadapan dan saling diam. Akan kujadikan semua warnanya indah. Akan kujadikan
semuanya cerah. Meskipun akan ada yang berkata bodohnya karena memilih untuk
tak punya apa-apa, tapi setidaknya kami semuanya tersenyum bukan?
Lama aku masih tidak bernyali untuk sekali saja bertanya,
“Kenapa?”
Barangkali, meskipun tak terucap,
tapi Allah mendengarnya dengan jelas. Rasanya Allah paham bahwa aku lebih
sering untuk bersembunyi. Kemudian lihatlah, banyak sekali jawaban yang akan
kumengerti suatu hari.
“Kenapa aku di
sini?”
Jawabnya, karena aku memang
harus ada di sini
“Kenapa aku bertemu
mereka semua?”
Jawabnya, karena mereka akan menjadi jalan untuk menyelamatkanku. Dan aku, akan menjadi jalan Allah untuk menyelamatkan mereka pula
Aku diperlihatkan bahwa selalu
tersenyum nyatanya tidak akan pernah menyelamatkan siapapun. Dengan gelap,
terang akan terlihat begitu berharga. Katanya, saudara kembar manusia adalah
dosa. Sekali mencoba pergi, dosa baru akan datang dengan bentuk yang lain lagi.
Dan aku adalah manusia. Suatu hari, aku pasti akan menyakiti salah satu dari
mereka juga. Entah dengan lisan yang kusengaja, atau dengan hati yang tanpa
alasan memutuskan untuk membenci saja.
Dan ruginya, aku selalu merasa
punya waktu.
Semuanya sudah seharusnya
terjadi. Aku tidak akan pernah tau cara bersabar jika selalu mempunyai segalanya.
Setiap nama pasti tidak dilahirkan sendiri. Marah bersama tabah dan susah
bersama mudah. Harus ada yang berani pergi untuk memberikan jalannya agar
dilewati. Harus ada yang bersalah untuk memahami bahwa memaafkan adalah lebih
indah. Harus ada yang hilang untuk mendapatkan ganti. Lalu, harus ada yang
datang untuk membawa hikmah sekali lagi. Datang lagi, dan begitu seterusnya.
Aku pasti ingin bertemu para
baik itu sekali lagi. Dan bila suatu hari ingin berada di tempat yang sama, aku
harus berusaha menyelamatkan mereka. Sebelum itu, harus ada yang menyelamatkan
diriku juga.






Komentar
Posting Komentar