Selamat pagi Bulan Mei,
rasanya sudah sangat lama.
Lama yang membuatku lupa tentang
bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini
bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah
benar-benar lupa.
Tapi aku ingat sekali rasa lelah
di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun
masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan
semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu
sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja.
Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu.
Seragam dinas berpangkat putih dengan
brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku
yang terpasang di sebelah kanan.
Seragam dinas itu, seragam biru
tua yang lebih sering terlihat berwarna hitam kebanggaan.
Seragam itu,
Seragam yang telah dua tahun
kulepaskan dan kukeluarkan dari dalam rumah agar aku tak bisa melihatnya lagi.
Berkali-kali pikiran itu datang
lagi.
Ia berkata padaku bahwa aku tak
lagi berharga. Tak lagi berdaya. Dan aku benci mendengar pertanyaan itu lagi, “kau
menyesal bukan?”.
Kalian semua pasti tau aku akan dengan
keras kepalanya menjawab: tidak.
Tidak dengan puluhan kata ‘tapi’
yang ditutup-tutupi.
Namun jika aku berhenti sejenak
dari melakukan apapun dan mulai berpikir dengan terbuka, lihatlah betapa
beruntung adalah nasibku hari ini.
***
Siang di hari-hari terakhir
bekerja di 2022, aku pulang dari membeli sedikit isi piring untuk suami dan
ayah mertuaku. Sebelum motor biru putih itu benar-benar diangkat ke mobil pick
up dan aku tak pernah lagi mengendarai sendiri setelah itu. Sesekali aku
meminta untuk kita bergantian posisi, aku yang memboncengnya. Tapi suamiku
enggan dengan beberapa alasan. Bisa jadi karena khawatir aku lupa caranya
memutar setir dan mengendalikan gas, bisa jadi karena takut aku tak kuat
menahan beban, atau bisa jadi was-was kalau aku akan membuat keributan dengan
itu.
Aku
tau ‘tidak’ adalah jawabannya jika aku meminta ingin ke suatu tempat sendirian
tanpa diantar. Sebelum teman-temannya bertemu denganku, Ia memintaku memakai
hijab paling panjang dan bermasker. Apapun caranya, Ia akan menutupku
rapat-rapat agar tak terlihat.
Adalah Ia, lelaki dari 2017 lalu.
Lelaki yang basa-basi tentang merk
apa jam tangan milikku. Laki-laki dengan tatapan menyebalkan saat aku panik
karena tak mendapat pengumuman perpindahan kelas. Ia, laki-laki yang nilai B dengan
sungkan datang ke transkripnya, dan nilai C akan tau diri untuk tak hadir di
dalamnya. Laki-laki pintar yang tak pernah sekalipun melihatnya tidur selama
kelas, dan dengan itu aku membencinya.
Ia masuk ke tipe-tipe manusia
yang enggan untuk kujadikan teman bicara. Cukup saling sapa dan mengobrol
sebatas kerja kelompok saja. Setelahnya aku dengan kawanku, dan Ia dengan anak-anak
gamers lainnya.
Aku benci melihat tangan dengan lengan
bajunya yang digulung ¾ bagian bergerak-gerak selama presentasi di depan. Aku benci
aku menjadi paham karena penjelasannya dan tak paham dengan materi yang
kupikir-pikir sendiri.
Setelah kami lulus, semuanya
berjalan biasa-biasa saja.
Ada sebuah fase berat bagi wanita
dimana Ia sangat membutuhkan sebuah perlindungan. Tentu saja, apalagi di ruangan
kerja hanya aku satu-satunya wanita dengan para senior yang bermacam-macam
wataknya. Pekerja keras ada, leader ada, pasukan ‘siap-siap saja’ juga
ada, para pria yang ringan dalam membahas berbagai topik tentang wanita pun
ada. Barangkali karena mereka melihat kami semua tak ada bedanya, umpatan dan
kalimat-kalimat kasar pun sampai padaku juga. Harusnya aku tak perlu terkejut
dan cukup menahannya sampai di kamar kos saja.
Ya, selamat datang di titik
terberat menurutku. Fase dimana aku harus segera menikah dengan orang yang
tepat tapi masalah besarnya adalah aku tak tau harus dengan siapa. Setelah
masalah itu, aku menjalani Tahun 2020 dengan sangat beratnya. Begitu beratnya
sampai jika anakku mengatakan keinginannya untuk menikah saat tujuh belas
tahun, maka akan kunikahkan saat itu juga.
Mendung November 2020, pesan panjang
itu datang. Tertulis nama kawan kelas kuliahku dulu sebagai pengirimnya. Pesan panjang
yang cukup membuat fokus kerjaku pamit hilang dan berantakan saat itu juga.
Minggu di 2021, aku melihatnya untuk pertama kali setelah sekian lama, duduk di kursi ruang tamu bersama ayahku.
Sungguh, beruntung atau
tidaknya nasib hari ini tergantung dari cara mata kita melihatnya sendiri.
.jpg)




Komentar
Posting Komentar