Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.
1. Sagan, Depok (Sleman)
Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.
Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu teman untuk mengatakan padaku bahwa besok dan seterusnya akan baik-baik saja, jangan khawatir.
Ah, masa kuliah benar-benar membuka mataku lebar-lebar.
Betapa segala hal ternyata rumit dan macam-macam. Tentang sambel tempe tiga ribuan sampai akhir bulan, makan nasi dengan chiki, keyboardku yang berkelahi dengan air panas, dan jalanan banjir gang kos-kosan. Yogyakarta, aku tak pandai berbicara. Satu tahun di sana, aku lebih banyak menyusuri jalanan kampus yang hijau di kanan kiri. Berangkat dari satu stasiun sepeda ke stasiun sepeda yang lainnya. Mengumpulkan tekad naik TransJogja dan berlanjut cukup terbiasa setelahnya. Jangan lupakan Mirota, mulai lantai satu ke lantai tiga. Melihat-lihat etalase, memegang produk satu persatu, dan menghindari bagian jaket diskon karena jaket yang kupakai sekarang adalah hasil beli dari tempat itu kapan hari.
Tapi Jogja, sepertinya aku harus pergi..
2. Jalan Makadam, Pondok Jaya (Bintaro)
Sebenarnya aku tak paham benar tentang kampus baruku kali ini. Rasanya hanya seperti kembali ke masa baju seragam dan sepatu hitam-hitam. Kamar kos yang dibayar dengan terburu-buru karena takut kehabisan rupanya tak menjamin adanya sinyal 4G, bahkan sinyal WiFi sekalipun. Kamar mandi dalam dengan bekas tong cat 20 kg saja sudah menghabiskan setengah luasnya. Bukan, bukan pintu. Penutupnya hanya satu lapis gorden saja.
Tapi kali ini aku punya kawan-kawan satu atap. Punya lagi satu teman jurusan yang uniknya nama kami pun sama, hanya beda vokal saja.
Di Pondok Jaya, tidak ada apa-apa. Sepi, malam apalagi. Sepi dari rombongan orang dan sepi dari pilihan makanan. Ada warung kecil Masakan Padang pas di sebelah kos tapi dengan harga yang lumayan mahal. Seringkali aku menyembunyikan bungkusan lauk agar tidak terlihat oleh Uni, si penjaga warung. Ah, anak gadis kecil itu, aku lupa namanya. Salah satu temanku yang meskipun masih kecil tapi cukup genit kepada para tetangga pria di lantai atas.
3. Jalan Haji Riban, Bintaro
Ketika sewa kos tahunanku di Pondok Jaya hampir habis, aku segera mencari kos bulanan dengan harga yang terjangkau. Agak jauh untukku yang berjalan kaki, tapi tak apalah untuk mahasiswa yang sudah tak punya jam untuk kuliah lagi. Tinggal menunggu rentetan acara wisuda saja.
Bangunan ini dulunya Panti Asuhan, pantas saja bentuknya unik dan kadang agak menyeramkan. Kamarku di lantai dua paling ujung. Kalau mau menjemur baju seingatku tangga kayunya kecil sekali. Tentu yang paling kuingat, kasur itu. Perlu kusiram air dulu, nyalakan kipas, lalu tidur. Persis seperti cerita-cerita mahasiswa Indonesia di Mesir. Tapi jangan salah, kamar mandi dalamnya bagus sekali untuk ukuran kos ini. Entahlah, tapi beberapa wewangian yang memanggil memori, lebih sering mengingatkanku lagi pada tempat ini.
4. Jalan Teluk Buli, Perak Barat (Surabaya)
Salah satu pertanyaan hidup baru terjawab di sini. Ya, aku pingsan untuk pertama kali. Saat itu aku pergi ke kamar mandi di luar kamar lengkap dengan hijab. Bocah laki-laki pemilik rumah itu masih saja bercanda dan mengikuti sampai mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Setelahnya, aku lupa. Ketika terbangun, bocah itu memanggil-manggilku dan sepertinya aku belum terlalu lama berada di dalam. Sampai di kamar, ternyata bagian atas kepalaku sedikit mengeluarkan darah. Tak perlu waktu lama untukku berpikir dua kali, ya, aku pindah kos saja. Satu rumah dengan beberapa laki-laki yang entah siapa membuatku hanya bertahan satu minggu saja di sana.
5. Jalan Teluk Pang-Pang, Perak Barat (Surabaya)
Satu kos dengan Irma, hari-hariku lumayan sibuk mendengar cerita dan candaan ekstrovertnya. Annas, teman satu angkatan kami pernah pindah kesini siang hari lalu keluar malamnya juga. Rekor ter-tidak betah masih ada padanya. Terlalu sempit, katanya.
Hal-hal baru tentang pekerjaan mulai kami alami. Tentang rekan kerja, drama-dramanya, dan lembar mutasi, datang satu per satu. Termasuk namaku dan Annas juga.
Sampai jumpa lagi, Balai Lab Bea Cukai Surabaya (pada masanya)
Untuk tujuh jam ke depan, perjalanan masih panjang menuju Kalianget di ujung sana.
6. Jalan Jokotole, Pamekasan
Kali ini kamar kosku luas sekali, bahkan kamar mandi dalamnya tak mengurangi tempatku untuk berkali-kali wara-wiri. Mesin cuci bisa masuk dan masih lega kamar mandinya. Tempatnya sepi, pilihan makanan banyak, yang tidak ada hanya satu: udara sejuk.
Dari kami berenam, hanya aku yang bertahan di sana. Sisanya sudah pindah ke kontrakan atau kos AC tak jauh dari sini. Maret 2019 - Januari 2022, tempat ini menjadi sarang bagiku. Aku mampu masuk ke kamar Jumat sore, dan tak keluar lagi sampai Senin paginya. Masa itu, uang bukan lagi masalah bagiku (akhirnya). Aku cukup berpikir keras untuk membeli barang mahal, tapi tak perlu melihat bandrol harga barang di Indomaret.
Pencarian makna hidup, agaknya, lebih banyak terjadi di sini. Mulai membawa motor sendiri juga di sini. Hijabku menjadi semakin lebar pun di sini.
Aku tidak sendirian, ada tiga kucing yang kupelihara di dalam kamar. Sampai pada suatu hari kurasa mereka harus tinggal di luar, berlari masuk lagi tak karuan karena tak pernah mereka melihat motor-motor berlalu lalang.
7. Jalan Tumenggungan, Parteker (Pamekasan)
Selamat datang, penghuni baru. Aku sudah bukan manusia seorang diri di tempat ini. Rumah kontrakan 45 meter persegi yang sudah sangat cukup dengan anehnya hanya tujuh juta/tahun. Murah sekali. Dengan Bapak Kontrakan yang entah siapa, tapi ketika dimintai tolong bantuan, pasukannya langsung datang.
Maret 2022, kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Satu janin kecil Allah titipkan padaku, dan satu amanah untuk kembali ke kampus Bintaro datang untuk ditunaikan suamiku.
Masa-masa itu berat sekali. Seakan aku menikah untuk kembali sendiri, ditambah perubahan fisik dan hati tak bisa disangkal juga.
17 September 2022, aku bukan menyerah, tapi aku memilih menjadi sesuatu di peran yang lain lagi.
Selamat tinggal, segalanya.
Kali ini tidak ada sampai jumpa lagi.
8. G5 Pondok Lakah Permai, Ciledug (Tangerang)
Mari kita lihat akan jadi seperti apa kehidupan dengan rekening gajiku yang tak lagi terisi tiap bulan, hamil besar, jauh dari orang tua, dan pendapatan suami yang mendapat potongan.Ternyata: ini adalah hari-hari yang hebat.
Kami banyak mengenal satu sama lain, banyak belajar, dan tentu saja banyak berkeliling. Karena lebih jauh lagi dari Bintaro adalah jalanan yang sangat padat, maka jadilah tujuan kami tak jauh-jauh dari Taman Menteng, Warung SS, dan sekitarnya saja.
Satu hal yang mengesankan saat itu, aku tak pernah benar-benar menghitung uang.
Dan kami tak pernah benar-benar kekurangan.
Aku berlepas diri dari menghitung uang masuk dan uang pergi, juga berlepas diri dari standar duniawi. Bukan, bukan karena ilmu sudah sangat merasuk ke tulang-tulangku sehingga aku menjadi rendah hati. Melainkan hanya karena aku malas saja.
Tapi aku percaya. Bagaimana bisa kami jadi jatuh miskin setelah aku meninggalkan seragamku dan pergi untuk membersamai suami. Tidak mungkin, dan itulah yang memang terjadi.
Di sana, kami diberi banyak kesempatan yang entah apakah bisa terwujud lagi.
Cici, apa kabar?
Cici adalah tetangga pas sebelah rumahku. Sudah tua usianya, tidak terlalu lancar berbahasa, tapi beliau sangat baik. Manusia mana yang hari sudah hampir gelap dan berpikir mau membantu mengambil jemuran-jemuran depan rumahku? Beliau beberapa kali mengecek dan membantu menutup pagar rumah yang kurang rapat, dan beberapa kali bertanya apa yang bisa Ia bantu. Cici, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan Islam di suatu hari.
September 2023, sampai jumpa lagi suatu hari!
9. Setro Baru Utara I, Tambaksari (Surabaya)
Saat menulis ini, hanya tinggal beberapa hari lagi kami di sini. Jalan gang yang sangat panjang seperti ruang liminal dan akan langsung tertutup bila ada tenda hajatan di depan rumah-rumah. Dalam satu minggu, bisa diibaratkan lima hari sekaligus mereka menutup jalan. Pernah suatu hari, di kanan rumah ada hajatan, di kiripun tak mau ketinggalan. Jadilah suamiku menunggu di ujung jalan dan bertanya-tanya kapan kiranya bisa masuk rumah sepulang kerja yang tentu saja sangat melelahkan.
Sudah biasa rasanya melihat mereka rebahan di atas tikar depan rumah-rumahnya. Saking panasnya memang, meskipun di malam hari.
Meskipun kami ingin segera bertemu jalanan yang lebih lebar dan tanpa penutupan jalan, tapi ada rasa sedih untuk sekedar meninggalkan tempat ini.
Para tetangga, warung makan langganan, dan taman-taman kotanya, terlihat akan lebih jauh dari tempat yang baru nanti.
Terima kasih, semoga semua tetap baik-baik saja seterusnya.
***
Sangat lelah, sejujurnya.
Bagiku, tidak ada ketenangan tentang hidup yang seringkali berpindah di waktu-waktu pendek yang tiba-tiba. Mengepak tumpukan baju berulang kali, melepas dan merakit barang-barang plastik, menata dan menumpuk barang-barang kecil, kemarin-kemarin tak ada habisnya.
Tapi siapalah aku yang berani mengatur ingin seperti apakah kiranya suatu hari. Aku adalah hamba yang sudah tau namun nyaris selalu lupa bahwa kami bebas untuk berdoa. Tetap bergerak, berprasangka baik, dan banyak meminta pada-Nya.
Salah satu harapan yang selalu kuulang, semoga kelak Allah memberi kami rumah tinggal untuk menetap, tak berpisah, tak berpindah, tanpa menyentuh riba, dan tanpa rela berhutang.
Cukup muluk-muluk, tapi bukan hal yang tidak mungkin tentunya.
Tidak perlu harus rumah yang dilengkapi portal perumahan. Pun tidak perlu rumah yang tinggi ke atas atau lebar ke belakang. Cukup dinding bersekat, atap yang kuat, dan tempat yang bersih untukku menyajikan makanan selagi anak-anakku bermain dan belajar bersama ayahnya.
Rumah untuk kami menabung dan bersiap-siap untuk meninggalkannya pulang menuju rumah terakhir yang sebenar-benarnya.
***
Menjadi umur sebelas, tujuh belas, dan dua puluhan tahun saja aku sudah muak melihat bagaimana jahatnya dunia berputar. Para kuasa hanya dengan duduk dan bermain teori saja sudah berlimpah harta, pun di sebelah sana mau membanting tulang sampai makan hanya sesuap-pun sedikit uang tak dapat-dapat juga. Setiap melihat satu demi satu cerita, aku semakin yakin begitulah tempat ini dihinakan Allah bernama Ad-Dunya.
Duduk sebentar di sini, ada Ia yang berjalan mulai pukul tiga pagi untuk bekerja tapi membeli beras cukup mampu satu dua kilo saja untuk lima orang keluarganya. Pindah sedikit ke sebelah sana, ada Ia yang menyesalkan keputusanku keluar kerja, rugi! katanya, cari pengasuh saja, lihat anak-anakku sekarang sudah S2 di Jerman sana.
Kadang aku takut sendiri tentang bagaimana anak-anakku menghadapi hari-hari dewasa mereka nanti. Bagaimanapun keadaannya, mereka pasti akan merasakan sangat lapar yang disembunyikan, tangisan panjang yang ditutupi, kata sehat yang dibuat-buat, seperti halnya masaku dulu dan kebanyakan lainnya juga.
Satu yang sangat kuyakini sekarang adalah manusia harus punya pedoman untuk hidup. Tanpa berpegang arah, mereka akan mudah percaya. Si B yang cerdas berkata demikian maka pasti itu benar. Tapi si C menyatakan ini barangkali ini yang lebih pasti. Terombang-ambing. Tersesat. Hilang.
Cukup ingat patokan yang Allah sampaikan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam wariskan, bunyi-bunyi selain itu langsung tinggalkan karena ketika terlalu dalam kalian pelajari pun tidak akan masuk akal.
Pada akhirnya, hanya ada Allah di ujung semua pencarian.
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar