Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa
kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama.
Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya
mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan
menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan
menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan
beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya.
Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan
kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat
ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang
perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada
laki-laki.
Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup
dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah
memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana
kemudahan yang orangtuanya dapatkan di masa sulit saat Ia dilahirkan.
***
Sungguh, tidak ada manusia yang benar-benar mengerti
semua hal di dunia ini. Semua sama kuat di satu hal dan kosong di bidang yang
lain. Pelan-pelan aku mulai merasa bahwa manusia ini sombong sekali. Dan aku
mulai membenci kata ‘mungkin’, ‘seharusnya’, dan kata-kata permisalan kalau
saja sesuatu terjadi sesuai dengan teorinya.
Karena aku sendiri beberapa kali menjadi si sombong
itu.
“mungkin dia sesuatu karena sesuatu”, dan kemudian
kalimat yang kuucapkan dengan yakin itu terbantahkan dan membuatku malu
sendiri, beberapa kali.
Hingga aku menyadari betapa mata manusia hanya bisa
melihat apa yang nampak di depannya saja.
Hingga aku menyadari betapa dunia bekerja tidak sama
dengan teori akal sehat para manusia.
Dengan tabunganku yang paling tinggi pada masanya, aku
tidak bisa menikmati rasa gurih dan manis pada makanan-makanan yang dengan
mudah kubeli.
Aku merasa telah sangat sibuk di beberapa waktu penuh
dalam dua puluh empat jamku tapi di akhir hari aku merasa tak terlalu melakukan
sesuatu atau mencapai sesuatu dengan berguna.
Sampai aku terus merasa bahwa dunia bukan selalu
tentang: dua tambah dua sama dengan empat. Ada hal yang seharusnya A terjadi
karena semua aspek telah terpenuhi namun nyatanya tidak bisa. Ada yang
seharusnya tidak terjadi namun malah bertemu. Ada suatu hal yang belum
kutemukan bagaimana cara terbaik untuk menggambarkannya.
Dan aku mulai mematikan layarku dan duduk lebih lama,
barangkali selama ini aku terlalu terdistraksi sampai kalimat-kalimat lama
hanya kuterima sebagai petuah saja tanpa dimaknai benar apa maksudnya.
“Suatu hari..
Akan datang padamu bayangan-bayangan bagaimana kiranya
dunia luar sana. Akan datang cita-cita untuk melihat apapun yang selama ini
hanya kau dengar dan kau baca di halaman-halaman buku atau layar internet.
Troli mainan, dapur mini, kartu-kartu, dan krayon ini
akan terganti dengan seragam-seragam dan tumpukan tugas sekolahmu. Sering aku
lelah membereskannya. Sering aku bertanya kapan kiranya engkau akan besar dan membersamaiku
membereskan rumah bersama. Hingga ketika mereka menyampaikan padaku bahwa kau
sudah besar, aku tak percaya.
Aku tak percaya.
Karena setiap sudut rumah mengingatkanku padamu dan
kau tak ada di rumah, aku membuka album dengan sangat lama.
Sampai ternyata aku menerima bahwa kau sudah sangat
jauh berbeda.
Pelan tapi pasti selalu tumbuh, kini mulai menjawabku
padahal seingatku dulu aku selalu bicara sendiri dan kau menjawabnya dengan
guratan senyum dan tawa tanpa gigi.
Aku takut membayangkan bahwa pada suatu hari aku pasti
akan membuat kesalahan padamu. Entah bersikeras pada egoku, entah memberitaumu
dengan kurang tepat, atau banyak hal lain.
Aku akan selalu belajar untuk meminta maaf.
Hanya kami, orang tuamu yang paling kau percaya.
Aku bilang itu aman maka kau mau melewatinya. Aku bilang
tidak apa-apa maka bagimu semuanya bukan masalah. Aku bilang itu sudah sembuh
maka kau mulai bangkit dan bermain padahal jelas itu masih memar.
Akan ada beberapa hari dimana engkau tidak percaya
padaku lagi.
Kau baru akan percaya kecuali dengan melihatnya sendiri.
Iya, anggukan, dan tanpa bantahan hanya sebuah sikap santun
untukmu menjawab kalimat kami orang tua.
Maryam, dunia itu sangat keras.
Tidak ada kalimat majas yang tepat untuk membungkusnya
agar terlihat tidak terlalu menyeramkan.
Semua orang akan lelah, semua orang berusaha untuk
terus hidup di jalan ceritanya masing-masing.
Semua orang akan berbicara sesuai apa yang mereka tau
dan apa yang mereka mau. Berhati-hatilah pada mereka, namun lebih hati-hatilah
pada dirimu sendiri.
Dirimu yang akan menjadi paling sulit untuk kau
arahkan. Namun tidak ada yang bisa bicara pelan dengan dadamu kecuali suaramu
sendiri.
Jika suatu hari kau mau memakai rompi atau seragam
yang hebat, usahakanlah.
Namun kau harus menjawab ‘iya’ semua pertanyaanku
tentang kebutuhan suamimu, makan dan ilmu anak-anakmu, dapurmu, dan kebaikan
rumahmu. Bila satu mampu kau tangani sedang yang lainnya tak berjalan baik,
lepaskan seragammu.
Sungguh kau sendiri mampu menjawab mana yang lebih
penting dari semuanya. Sungguh kau yang lebih tau apa yang selama ini terjadi
dan apa yang harus dilakukan.
Jika tempat tidurku mulai dingin dan aku tak bisa
melihatmu lagi, Allah pasti menepati janji.
Ia akan menjagamu, dan akan selalu begitu”.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar