Langsung ke konten utama

Pada Akhirnya

 



Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi.

Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya.

Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana.

“kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali.

Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri.

“Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi.

Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama.

Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatakan padanya. Masih dengan tersenyum tentunya.

Harimu pasti sulit sampai kamu bisa ada di sini,” katanya memulai kembali.

Aku tersenyum. Senyum penuh rasa yang hanya bisa disampaikan dengan senyum yang khas.

“Sulit, sesulit hari-hari mereka juga,” jawabku.

Aku ingin sekali mendengarnya, bisakah kau sampaikan padaku?,”

“Apakah kamu makan dengan baik? Apakah hari-harimu bahagia?.”

Aku sangat ingin mengatakan segalanya, dan sekarang satu dua haripun tersedia untuk hanya sekadar bercerita.

“Aku tidak terlalu ingat kapan terakhir kali makan dan tidur dengan benar setelah menikah dan punya anak”

“Sehari-hari, dari kecil sampai dewasa, aku selalu meraba dan mencari-cari arti bahagia. Bagiku maknanya selalu berubah-ubah sesuai dengan apa yang kutemukan”

Menatapnya sebentar lalu Ia bilang, “lanjutkan”, sambil tetap tersenyum dan terlihat tertarik.

“Hari-hariku lebih banyak sepi. Sepi yang kubuat sendiri karena aku menarik diri entah karena apa. Aku mendengarkan banyak orang. Awalnya aku merasa bersyukur bisa mengetahuinya, namun seiring berjalannya waktu, aku tau ternyata mereka berbohong dan aku tidak mempercayainya lagi”

“Aku sering naik bus berkeliling sendiri, hanya dengan tiga ribu saja!

Aku sudah bisa sampai mana-mana. Melihat jalanan baru dan anehnya saat itu aku tidak takut. Mungkin karena aku belum paham benar betapa orang jahat bisa ada dimana saja. Aku suka melihat barisan botol warna-warni di etalase dingin dan terang. Melihat nama-namanya, mencium baunya sesekali, dan mengamati harga-harganya dengan santai, yah karena aku tidak berniat untuk membeli.”

“Waktu itu aku suka sekali malam hari, dan aku menanti lampu-lampu jalan dinyalakan. Aku merasa tidak terlihat, tidak perlu bersembunyi, tapi aku bisa melihat mereka dan semua yang lainnya”

“Gedung-gedung itu sangat indah. Aku merasa sangat berhasil hanya dengan melihatnya dan masuk ke dalamnya beberapa kali. Tapi ternyata aku tidak begitu betah di sana. Ternyata rindang pohon lebih sejuk daripada angin AC di ruangan.”

Ia tertawa dan agaknya sepakat dengan jawabanku barusan.

“Sebenarnya aku senang dengan hari-hariku. Berpikir setiap hari agar kepalaku tidak kaku. Mencatat, mengetik, dan menjawab beberapa pertanyaan penting dan pertanyaan yang tidak penting lainnya. Tapi aku harus memilih. Aku tidak bisa mempunyai segalanya seketika dan sekaligus.”

“Aku mulai mengganti bajuku dan melakukan pekerjaan yang banyak dilakukan ibu yang lainnya. Aku sendiri juga kaget, padahal dulu aku juga gadis rumahan yang melakukan segalanya dengan lamban dan melakukan hal itu-itu saja. Ternyata aku bisa berubah, hahaha”, tiba-tiba sekali aku tertawa.

Kau belum menceritakan bagian paling sulitnya,” katanya.

Aku terdiam.

“Bingung rasanya memilih mana bagian paling sulit. Karena ketika menghadapinya, semua terasa sangat sulit. Tapi anehnya semuanya selesai, dan aku bertumbuh. Apakah semua orang juga merasa hal yang sama?,”

“Mungkin bagiku yang tidak menguasai kemampuan menunggu ini, hal paling sulit adalah saat harus terus menenangkan diri sendiri. Berkata semua akan baik-baik saja, berkata semua akan sembuh, berkata mungkin ada hal yang lebih baik, ketika aku sendiri merasa sangat takut dan khawatir. Terus mengingat bahwa ada keindahan di ujungnya, jangan percaya pandangan mata. Padahal jelas-jelas aku melihat sang kaya selalu tersenyum, dan si miskin selalu lelah dan kelaparan. Aku harus mengatakan bahwa itu semua belum tentu, padahal yang kulihat setiap hari seperti itu. Tunggu, apa aku mulai terlalu banyak bicara?,” tanyaku dengan segan.

Ia tertawa lagi, kali ini lebih kecil suaranya, “tak apa, aku memang menunggumu untuk mengatakan semuanya. Aku menunggu lama sekali, kau tau.”

Seketika hilang beban di kedua bahuku, dan aku ingin menceritakan padanya dengan lebih panjang lagi.

“Terkadang aku tidak suka menyalakan kompor, padahal setiap hari aku melakukannya. Terkadang aku marah mendengar tangisan anakku yang terus menangis entah karena apa. Aku juga bingung bagaimana cara membuatnya agar menghabiskan makanan dalam lima belas menit saja, karena aku juga harus melakukan banyak hal lainnya”

“Setiap hari aku selalu bercermin. Tidak ada yang menarik dan tidak ada perubahan, yang ada hanya wajahku. Sampai suatu hari aku melihat mataku kelelahan dan garis-garis wajahku tidak bisa menutupinya. Aku melihat tangan dan jariku, kakiku, dan tubuhku, semuanya berubah. Aku melihat genggaman tanganku untuk memegang sepeda setiap hari saat sekolah dulu, kini pun sudah berubah. Dan lagi, aku merasa napasku tidak sepanjang ketika masih sekolah dulu. Napas yang tidak terkalahkan, kuat, dan mudah bangkit ketika kelelahan. Aku takjub bila mengingat pernah ada di masa itu.”

Kami berayun dengan pelan bersama. Sesekali agak tinggi dan derajat kaki kami pun sama.

Anehnya aku tidak merasa pusing, padahal dulu aku tidak terlalu suka ayunan. Hanya dorongan pelan saja dan itu membuat anakku bosan karena tidak menantang.

Rambut kami sama panjangnya, berayun mengikuti kemana angin mengarahkan helaiannya.

Kami senang bisa bertemu, sangat senang.

“Aku sudah dengar tentang apa saja yang telah terjadi. Aku menunggumu bercerita langsung padaku. Meskipun terasa tidak selama itu, tapi menunggu tetap terasa lama dan melelahkan bukan?,”

“Tidak ada hal lain yang kulakukan selain terus berdoa agar kita akhirnya bertemu dan aku bisa meminta maaf padamu untuk tidak pernah ada di segala keadaan.”

Aku mulai diam. Aku mulai tidak sanggup menjawabnya lagi.

“Aku tau lelah yang kau rasakan itu. Namun lelah kita pasti berbeda bukan? Tidak ada lelah paling juara bagi orang yang berbeda, semuanya kesakitan. Dan aku meminta maaf padamu untuk tidak menghiburmu, dan berakhir kau mengatakan semua akan baik-baik saja sendirian.”

“aku meminta maaf untuk tidak melipat dan menyusun bajumu, atau bahkan bermain pasir bersama, atau bahkan membacakanmu buku-buku. Saat itu aku tidak tau, bahwa waktuku sesingkat itu. Jikapun aku tau, aku pasti akan berusaha lebih baik lagi.”

Masih diam, aku mulai mengingat masa-masa itu.

“Meskipun kau tidak pernah langsung mendengarnya, kuharap kau tau bahwa aku selalu bangga padamu, atas apapun yang kau lakukan demi kebaikan. Atas hal yang kau anggap kecil, atas hal yang kau sembunyikan, atas hal yang kau tulis lalu kau coret, dan hal-hal paling besar tentangmu.”

Langit tetap kuning terang, tidak berubah malam dengan cepat, dan tidak menjadi dingin.

Semuanya di sini terasa sangat lain dan berbeda.

“Dengan kau duduk di sampingku sekarang, semuanya sudah selesai. Selamat padamu karena tidak ada sakit dan lelah lagi setelah ini. Tidak ada sedih dan tidak dikenal kecewa. Tidak ada perpisahan dan tidak ada musuh baru. Selamat datang, selamat datang.”

Ia menarikku pelan ke arahnya, digenggamnya bahu kiriku. Genggaman yang pelan, genggaman yang tidak takut untuk berpisah lagi.

Aku melihatnya sebagaimana Ia melihatku.

Tingginya sebagaimana tinggiku, dan usianya sebagaimana usiaku.

Akhirnya kami menjadi teman di sini, tidak ada perbedaan. Ia tidak lebih lemah pun aku juga tidak lebih kuat darinya. Layaknya sebaya yang senang bertemu dan bermain, layaknya kawan yang telah berjanji dan menepatinya untuk bertemu. Layaknya musafir yang kehabisan bekal minum dan bertemu kawan yang memberinya sebotol penuh air dingin. Semuanya terasa sangat melegakan dan manis tak terkira. Serasa tidak pernah ada haus sebelum ini, serasa tidak pernah ada kesengsaraan di masa lalu.

Setidaknya itu yang selalu kubayangkan bila hari mulai terasa sangat berat dan semua pintu rasanya terkunci rapat. Semua ini akan berakhir. Semua ini akan berbalas. Aku bukan sedang bertransaksi dengan manusia yang banyak culasnya. Aku sedang berada di atas takdir penguasa yang tau awal dan akhir ceritaku dan membuat kisahnya dengan sangat indah.

Ceritaku tidak ditulis untuk menjadi komedi. Tidak disusun untuk membuatku menjadi seorang figuran yang hanya tayang sebentar. Aku sedang dibangun, aku sedang naik ke dataran yang lebih tinggi dengan kaki yang harus lebih kuat.

Jika aku terus berusaha, jika aku memilih bersabar untuk kesekian kali, dan jika aku tidak selalu malas untuk belajar mencari mana yang benar dan baik, Allah pasti menemukanku padanya, pada ibuku yang sudah lama turun dari kendaraan kami yang masih terus berjalan dan kehujanan.

Pada suatu hari, jika salah-salahku telah dimaafkan, jika Allah ridho dengan sedikit apa yang kulakukan hari ini, aku pasti akan beristirahat. Aku pasti akan pulang.

Semoga Allah memaafkan ibuku.

Semoga Allah memaafkanku, berulang kali.

 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

(Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...