Umurku hampir dua puluh delapan tahun
saat aku mengingat lemari gantung itu lagi. Ia berwarna coklat, kuat, dan
kusam. Aku ingat lemari gantung itu ada di rumah Alwy sekitar tahun 2008 atau
kurang. Dan ya, 2008 adalah delapan belas tahun yang lalu. Delapan belas tahun.
Sedikit ke
bawah, ada rice cooker putih dengan aksen bunga-bunga merah muda. Hei,
aku sangat mengenalmu. Rice cooker itu pernah ada di dapur rumahku sudah
lama sekali. Mungkin ia sudah lupa padaku. Terakhir melihatnya di dapur rasanya
aku masih memakai setelan seragam sekolah dasar yang benci kegiatan sarapan
karena memang sudah kesiangan.
Di rumah
ini, sedikit sekali barang yang benar-benar milik Mbah Uti. Barang di rumahnya sebagian
besar adalah milik anak-anaknya yang diberikan karena mereka ingin beli sesuatu
yang baru lagi. Mbah Uti tidak berkeinginan membeli dan menumpuk barang baru
kecuali mukenah. Setiap ada rezeki beliau bilang mau beli mukenah saja katanya.
Ibu mertua
adalah wanita usia 50-an yang selalu memasak tiap pagi. Beliau lincah, modis,
dan bugar untuk seusianya. Rasa di masakannya selalu tidak ragu-ragu dan
meyakinkan bahwa bawang putih, kemiri, dan seledri ada di sana. Bukan hanya
rasa garam, lada, dan penyedap yang mendominasi. Makanan yang disajikan selalu
terlihat beragam, tapi aku tidak pernah merasa kenyang di sana. Kecuali jika
aku makan sesuatu yang lain sebelumnya atau aku memutuskan menambah nasi
sedikit lagi. Aku mengambil porsi dengan sungkan-sungkan, tapi ternyata yang
lain juga mengambil porsi seperti milikku. Tidak mungkin mereka juga merasa
sungkan bukan? Piring tanggung yang kuanggap kurang ini, entah kenapa menjadi
makanan lezat yang menempel di kepalaku setiap kali.
Di suatu
tempat milik wanita kaya yang sudah melewati masa kerjanya, ada etalase kaca
berisi beragam wadah plastik premium dan gelas kaca. Padat, penuh yang sampai
hampir tidak bisa ditutup. Kita tidak akan bisa mengambil sesuatu di bagian
paling belakang kecuali mengeluarkan semua barang di depannya dahulu. Beberapa sudut
rumah terdapat paket-paket empat tahun lalu yang belum juga dibuka. Panci dan
alat masak besar berebut tempat di rak piring, meja, dan paku-paku. Wanita kaya
ini juga pandai memasak. Rasa masakannya khas dan tidak berubah. Jika sedang
ingin, ia memasak menu dengan porsi empat orang untuk dua orang saja. Habis tak
habis masalah belakang pikirnya. Di akhir hari, makanan itu tetap bersisa, tak
habis, dan dibuang. Sayur yang melimpah ketika dibeli juga mau tak mau harus
dibuang karena layu dan bahan baru membutuhkan tempat untuk disimpan di kulkas.
Lalu,
Aku bingung.
Kenapa menjadi kaya tidak benar-benar membuat nyaman dan lega,
dan kenapa menjadi kurang tidak benar-benar membuat sempit dan tertekan. Banyak
hal di dunia ini yang aku tak benar-benar paham tentang bagaimana matematika
kehidupan bekerja. Motivasi petinggi yang tak selalu terbukti terbentur dengan
petuah klasik yang seringkali menjadi kenyataan. Mungkin itu memang batasanku,
tidak mampu mengerti tentang semua hal dan hanya bisa mencoba untuk percaya.
Untuk beriman.
Sering aku merasa silau dengan mobil futuristik, gadget,
dan kehidupan travelling mereka. Tak sengaja aku menanti hari-hari
seperti mereka akan datang kepadaku juga. Namun ketika aku berkemas dan menyadari
bahwa barangku membuatku kewalahan, dalam sekejap aku menjadi diam. Diam yang
bertanya-tanya kenapa aku merasa keinginanku tidak pernah selesai sedangkan
barangku saja sudah sebanyak ini. Barang yang baru dipakai sekali, barang yang
tinggal setengah, dan barang yang akan dipakai jika perlu padahal hari itu
tidak pernah tiba.
Ramadhan sudah di belakang,
Seperti biasa disambut dengan semangat dan berakhir dengan
penyesalan. Barangkali aku si munafik itu. Berjanji akan lebih baik lagi sambil
menduga bahwa esok hal yang sama akan terulang lagi.
Kenapa lemah sekali?
Apakah karena tidak ada kawan dan manusia lain yang tau?
Apakah karena tidak ada emas dan uang kontan yang bisa
ditukar dengan gerakan sholatku?
Bukankah aku tau bahwa perpisahan tidak selalu sempat
mengucap selamat tinggal?
Apakah aku sudah yakin bahwa bacaan Qur’an yang tergesa-gesa
itu kelak mau menjadi saksiku?
Beberapa kenangan masa kecilku sudah pergi lebih dulu, aku
sedih, namun tak lama menjadi klasik lagi. Berulang kali.
Hari demi hari uang masuk dan berputar tak pernah berhenti.
Aku sudah membeli barang dan makanan yang aku inginkan tapi mereka
malah menekanku.
Bertanya kapan akan dihabiskan,
Bertanya kapan akan dipakai lagi,
Sesekali marah dan mengancam akan menjadi pemberatku di hari
semuanya akan terasa berat.
Panas, dan semakin panas.
Cukup, aku akan mengemas kalian semua.

Komentar
Posting Komentar