Langsung ke konten utama

Andai


Kepadamu,

              Dua puluh satu tahun kami jalan dan tumbuh dengan petuah kami sendiri. Melihat, mendengar, menahan dan mengartikan semuanya sendiri. Menjadi berandal, tersesat, kemudian lama mencari-cari arah pulang kami. Lihat Mbak Ul, dia sangat keras kepala. Sekeras Ia ingin bermain padahal seharusnya tidur siang. Sekeras Ia enggan mendengarku dan menggambar-gambar petanya sendiri. Kerasnya Ia membuatnya begitu tangguh dan mampu membuatku berseragam seperti sekarang ini. Tapi aku akan bercerita tentang Mbak Ul lain kali. 

Ruangan bising sekali. Sound speaker di tengah-tengah nyaring dengan lagu-lagu acak yang membuat mereka bernyanyi. Exhaust masih mengisap putaran asap wangi-wangi tembakau dari pagi sampai pagi lagi. Suara tertawa, pantofel, bunyi klik komputer, tarikan kertas-kertas printer, dan aku malah sedih sendiri. 

Punggung banyak membungkuk, paham seribu kata tapi hanya bisa menjawab iya, lalu membenarkan kata mutiara mereka yang aku banyak tidak setuju.

Kau tau, aku bisa panjang alasan dan lama tidak peduli. 'Tidak' untuk tidak dan 'Baiklah' untuk iya. Sekarang sudah lain, mau tidak setuju atau keberatan, mau menolak atau meng-iyakan, jawabannya adalah sama-sama Iya, siap, dan oke. Tidak ada permisi untuk jawaban lainnya. Mungkin ada, tapi yakinlah itu hanya untuk pasukan berani mati.

Kata mereka, kita adalah korban di cerita masing-masing. Berdialog dengan bemacam-macam antagonis dan protagonis di luaran. Mereka tidak tau seberapa keras kita menahan untuk selalu diam dan setuju. Tidak.


Tidak kubilang. 


Aku bukan korban. Aku sendiri yang menekan diri setiap hari. Kurang syukur dan banyak tidak peduli. Jadi siapa yang salah?


Surga benar-benar jauh ya, entah pintu mana yang pagarnya boleh terbuka untukku.  Kalau surga adalah seberat menahan kantuk saat bekerja, maka aku sudah pasti masuk neraka. Bila surga adalah tentang selalu jujur, maka aku sudah lama tak akan bisa kesana. Dan kalau surga adalah kewajiban untuk berangkat pagi setiap hari, maka aku juga bukan untuknya. Berat sekali.


Kalau, aku tidak berhasil di dunia tapi juga tidak ada tempat untuk namaku di surga, lalu dimana lagi aku bisa menemukanmu?


Aku juga ingin menjadi paling pagi, mengambil apapun sesuai porsi, istirahat pada saatnya, dan menerima apa yang sudah seharusnya. Tapi lagi, itu berat sekali. 


Andai saja kau masih diberi waktu untuk melatih kejujuranku, maka sepertinya aku telah lama mengecewakanmu. Menjadi paling baik di bawah sini adalah sesuatu yang sekaligus paling tidak bisa. Aku rendah, lemah, dan payah. Saat dunia masih pagi dan terang, kadang aku mudah tak terlihat apalagi dihargai.


Kau tau, dulu aku menjadi yang paling sendiri dan kini seperti yang paling punya banyak suara untuk tertawa. Sampai mereka benar-benar percaya dan bersamaku tertawa-tawa juga. Sampai saat sudah tak bisa lagi berpura-pura dan benar-benar kecewa, mereka masih dan selalu tertawa. Sudah sejauh itu kemampuanku. 


Seandainya suatu hari berat bebanku lima kali lebih dari ini, tolong sampaikan bahwa pundakku telah ditegakkan sepuluh kali lagi. Aku ingin sekali berjanji bahwa bila suatu nanti duduk di kursi tertinggi, aku akan melunasi hutang kewajibanku. Menghargai para lemah yang terlihat seperti aku yang dulu. Lalu menyelamatkan mereka dari yang tidak seharusnya mereka tau. 


Manusia adalah yang paling banyak salah kira. Egois. Kasar. Sekaligus yang paling tidak berhak atas surga. Semakin besar mereka semakin tidak mendengarkan. Semakin tinggi semakin sedikit yang punya kuasa untuk menasihati. Semakin lama semakin percaya dengan diri sendiri dengan beralasan bekal pengalaman. Manusia, adalah yang paling besar sombongnya. Sombong sekali. 


Dan aku adalah manusia. 

Padahal, mereka hilang satu pun bulan akan tetap berputar, matahari terbit tenggelam, awan tebal kemudian hilang, dan tak ada lagi yang mengingatnya. 


Beri aku kepercayaanmu untuk berani berjanji dan pasti menepati, Ummi.


Kepadamu, yang mungkin pesanku tak akan sampai, semoga Allah membacakannya untukmu. Dariku, putrimu.

             
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...