Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Tumbuh

Pagi terindah adalah bangun dari tidur dan tidak bertemu dengan ketakutan apapun. Tidak takut telat sekolah karena aku belum sekolah juga tidak buru-buru memasak di dapur karena aku masih kecil. Tidak ada takut untuk bertemu manusia, pun tidak takut untuk bicara dengan siapapun. Kalau ada pertanyaan besar yang sulit atau pertanyaan kecil yang membosankan, aku bebas melamun atau memilih untuk tidak menjawab. Bagi mereka, “ah, biasalah. Namanya juga anak kecil.” Saat itu aku punya banyak waktu untuk mengamati sesuatu. Seluruh waktuku dalam sehari hanya tentang harus menunggu. Menunggu untuk dipanggil mandi, menunggu untuk harus makan, menunggu untuk berangkat mengaji sore, dan menunggu untuk disuruh tidur. Aku punya banyak waktu untuk bermain dan berbicara, tapi sayangnya aku tidak tau harus dengan siapa. Semua orang dewasa bergerak kesana sini dari pagi. Kadang mereka terlihat tertawa tapi juga lebih banyak terlihat serius dan menakutkan. Kakakku juga tidak ada. Ia sekolah dan kemudian ...

Sedikit

  Umurku hampir dua puluh delapan tahun saat aku mengingat lemari gantung itu lagi. Ia berwarna coklat, kuat, dan kusam. Aku ingat lemari gantung itu ada di rumah Alwy sekitar tahun 2008 atau kurang. Dan ya, 2008 adalah delapan belas tahun yang lalu. Delapan belas tahun.              Sedikit ke bawah, ada rice cooker putih dengan aksen bunga-bunga merah muda. Hei, aku sangat mengenalmu. Rice cooker itu pernah ada di dapur rumahku sudah lama sekali. Mungkin ia sudah lupa padaku. Terakhir melihatnya di dapur rasanya aku masih memakai setelan seragam sekolah dasar yang benci kegiatan sarapan karena memang sudah kesiangan.           Di rumah ini, sedikit sekali barang yang benar-benar milik Mbah Uti. Barang di rumahnya sebagian besar adalah milik anak-anaknya yang diberikan karena mereka ingin beli sesuatu yang baru lagi. Mbah Uti tidak berkeinginan membeli dan menumpuk barang baru kecuali mukenah. Setiap ada r...