“Lupa adalah benang dari-Nya untuk menjahit luka yang sudah seharusnya ditutup”
Tentu semua ada asalnya. Termasuk bagaimana bisa siswi SMA jurusan Ilmu
Pengetahuan Sosial justru benci bersosialiasi, mengerjakan tugas kelompok
sendiri, susah tertawa, dan banyak diamnya. Masih jelas sekali tentang janji latihan
pukul satu siang tapi mereka tak nampak-nampak juga. Aku yang sulit memaklumi
itu langsung ambil setir dan pulang tanpa memberi toleransi sepuluh atau lima
belas menit kepada anggota drama kelas tiga itu. Beberapa orang yang sudah
datang dan melihatku pulang mungkin bingung kenapa kami malah bertemu di arah jalan yang berlawanan. Sudahlah. Aku pulang.
Sedikit yang aku ingat saat itu aku menangis saja di kamar setelahnya. Ayah
Ibu bertanya kenapa tapi pasti memahami bahwa mereka tidak akan mendengar apa
jawabannya. Tak lama, datang rombongan kawan latihan yang menanyakanku pada mereka.
Kenapa pulang? Kenapa tidak latihan? Dan kenapa aku?
Aku tidak suka mengatur, tidak juga berkelompok, dan latihan-latihan asal
seperti itu, dari dulu.
SMA dulu aku masih normal dan berbicara dengan siapa saja. Menjawab
pertanyaan mereka, atau aku yang bertanya, atau ikut menghargai kawan dengan
tertawa, atau hal-hal normal lainnya. Tapi di balik itu aku tetap ingin duduk sendiri
dan melakukan semuanya sendiri. Bagiku, manusia terlalu manipulatif sehingga membuatku
yakin bahwa mereka tidak bisa dipercaya. Mereka terlalu manipulatif.
Sikap seperti itu pasti ada karena sesuatu yang aku sudah tidak mampu
mengingatnya. Namun sepertinya tidak jauh dari karena ‘tidak diterima’, ‘dimaki’,
dan ‘tidak dihargai’. Mungkin seperti aku tidak punya hak atas peranku di dunia
mereka lantas aku minggir dan membuat duniaku sendiri.
Aku tumbuh di tempat yang tidak luas dan petak jalan yang tidak panjang. Sekolahku
hanya dua setengah kilometer dari pintu dan itu kulewati tiga tahun lamanya. SMP
juga hanya sebatas menyeberang jalan di pertigaan, SD apalagi.
Prinsip berdiri sendiri dan tidak percaya pada siapapun rupanya tidak
bisa kugunakan selamanya. Orientasi Mahasiswa Baru harusnya menjadi hal yang
menyenangkan sekaligus sebuah kesempatan untuk menjadi pribadi yang baru. Lihat,
mereka tinggi-tinggi, berkulit bersih, berparfum wangi, lalu tertawa-tawa. Dimulai
dengan saling bertanya nama, mengerjakan tugas yang sama, bernyanyi, berlari,
dan banyak lagi. Dua kali orientasi, dua kali juga aku tidak peduli.
“kamu sakit?”,
“ada apa?”, tanya mereka.
Wajar saja mereka bertanya saat semua berfoto, melompat-lompat, dan ikut melambaikan
tangan saat bernyanyi penutupan ospek sedangkan aku hanya diam dan ingin pulang.
Kalau saat itu aku bisa melihat diriku sendiri, sepertinya diamku terlihat tidak
bersahabat dengan ekspresi garis muka menurun yang kelihatannya ingin marah
saja. Bukan seperti mahasiwi yang terlihat tidak sarapan dan nyaris pingsan, melainkan
benar-benar seperti orang yang tidak tertarik dengan segala motivasi semangat
belajar dan candaan MC di depan.
Semua orang pasti pernah bermasalah dan itulah salah satu masalahku. Sejak
saat itu beban perkuliahan terlihat lebih berat dua kali lipat karena belum
lagi selesai tentang diguling di lapangan, menghafal alur perdagangan
internasional, membagi jatah uang untuk sebulan, juga harus memaksa diri
berbicara dan berkawan.
Aku suka menulis. Tapi tunggu,
materi dosen di layar depan bukan genre kesukaanku. Bukuku penuh tapi otakku
kosong. Lain hari bukuku kosong, tapi pikiranku yang penuh. Penuh dengan
pertanyaan kenapa mereka bisa dan aku tidak? Kenapa bahasa mereka bisa sangat
tinggi saat bertanya pada Dosen Teknis Kepabeanan? Kenapa kaki mereka tidak
berguncang-guncang ketika maju presentasi di depan?
Salah satu tips yang kudapat dari
internet untuk tetap tegar di depan adalah ‘jangan fokus pada audiens’. Tips
itu kuamalkan selama empat tahun belakangan. Tiap presentasi aku tak lupa untuk
mensugesti diri bahwa aku sedang berbicara sendiri. Harus merasa sendiri di
ruangan dan tatap muka dinding lurus ke depan. Tapi di akhir sesi, tiba-tiba
muncul sekelompok orang yang berlomba mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan.
Panik, materi yang sudah kupelajari semalaman mulai hilang pelan-pelan.
Apakah kawan suka konser musik?
Tentu saja. Konser adalah tentang lampu redup dan bahu bertemu bahu sambil
menyanyikan lagu yang sudah dihafalkan sebelum datang. Panggung dimulai dengan
MC yang mempersilakan para pemusik untuk menyanyi pelan bergantian. Lihat
mereka, kawan-kawan kelasku yang datang dengan setelan sangat berbeda dari yang
kutemui sehari-hari. Sesekali mereka mengambil gambar dan tertawa-tawa,
mengambil gambar lagi, lalu tertawa-tawa lagi. Malam itu adalah kesempatan
untuk beristirahat dari dunia perkuliahan. Konser musik yang jarang diadakan membuat
tribun perlahan penuh. Tapi dengar, aku ingin pulang. Bagiku konser musik
sangat berisik, mereka melompat, berkeringat, lalu terbahak-bahak. Lain hari
aku memutuskan untuk tidak ke sana lagi.
Melihat karakter Squidward di
animasi televisi seperti melihat versi diriku yang hidup di dalam air. Banyak
diam, muka datar, dan banyak tidak peduli. Selalu memilih berjalan sendiri dan
melakukan apapun sendirian. Setelah sekian lama menghakimi diri sendiri,
perlahan aku mulai mencoba menyusun jawaban dan jalan keluar. Aku selalu merasa
aneh pada mereka yang dengan percaya diri berbicara. Mereka selalu menemukan
cara untuk menyampaikan apa maksud dan tujuan pikirannya. Apakah mereka tidak
merasa takut salah? Atau apakah mereka tidak merasa malu? Sebagaimana aku
melihat mereka, seperti itulah mereka melihatku. Aneh.
Beberapa hal yang terlihat jelas
dari tatapan mereka adalah aku seorang yang tidak bisa diandalkan. Kenapa
presentasi saja harus begitu gemetar? Kenapa tidak tertarik dengan konser musik
yang justru membuat semua orang bersenang-senang? Kenapa tiap hari pasif
sekali? Dan banyak kenapa-kenapa lainnya.
Jadi, bagaimana seharusnya?
Apakah dunia yang harus memahamiku atau aku yang harus memahami dunia?
[Berpura-pura]
Semakin lama rasanya aku tidak
bisa untuk selalu diam di tengah mereka yang lantang bersuara. Ditambah pikiranku
tidak bisa mengajari diriku sendiri tentang rumus-rumus statistika. Akhirnya pelan-pelan
aku mulai belajar berjalan seperti berjalannya mereka, berbicara dengan bahasa mereka,
dan tertawa lebih keras dari biasanya.
Minggu pertama rasanya lelah
sekali, tapi aku harus seperti ini agar selamat sampai wisuda. Agenda besok
adalah pergi ke kos Sufi, bertanya tentang banyak soal statistika yang lama aku
tidak peduli. Ketika kawan meminjam telinga untuk mengeluh tentang hidupnya,
aku mendengarkan dengan sesekali pura-pura terkejut dan bertanya. Seringkali
aku memuji apa saja dari mereka. Saat bersama yang lainnya, tidak ada kata aku,
yang ada adalah banyak kata tanya tentang bagaimana kabar atau apapun tentang
mereka. Meskipun nyatanya terlihat menyebalkan, bukankah berpura-pura juga
sebuah usaha?
Oktober 2018, akhirnya aku wisuda
juga. Sampai hari ini banyak hal yang telah terjadi. Meskipun kewajiban sudah
beralih di atas meja kerja, saat ini aku masih tetap sama. Bedanya, pagi hari
kuawali dengan mengejek gaya rambut salah satu rekan kerja, bercanda, dan
tertawa-tawa. Agenda rapat capaian kinerja di awal bulan, aku sudah baik-baik
saja. Bukan suatu masalah besar untuk berbicara di depan umum meskipun masih
sedikit menjadi masalah bagiku.
Saat aku melihat banyak diriku
yang dulu, setidaknya aku paham bahwa sebenarnya mereka juga ingin berbicara.
Jangan iba ketika melihatnya diam di meja makan atau berjalan kemanapun
sendirian, itu memang dunianya. Kita sama-sama manusia dengan cara bertahan
hidup yang berbeda-beda. Semua boleh bercita-cita menjadi apapun meskipun dulu
tak bisa memilih lahir menjadi siapa dan bagaimana. Jadi, kenapa tidak memilih menjadi mengerti
dan berjalan beriringan saja?
(dengan potongan tulisan untuk Nawala Bintu)
***

Komentar
Posting Komentar