Langsung ke konten utama

Bicara

 

“Lupa adalah benang dari-Nya untuk menjahit luka yang sudah seharusnya ditutup”

*** 

Tentu semua ada asalnya. Termasuk bagaimana bisa siswi SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial justru benci bersosialiasi, mengerjakan tugas kelompok sendiri, susah tertawa, dan banyak diamnya. Masih jelas sekali tentang janji latihan pukul satu siang tapi mereka tak nampak-nampak juga. Aku yang sulit memaklumi itu langsung ambil setir dan pulang tanpa memberi toleransi sepuluh atau lima belas menit kepada anggota drama kelas tiga itu. Beberapa orang yang sudah datang dan melihatku pulang mungkin bingung kenapa kami malah bertemu di arah jalan yang berlawanan. Sudahlah. Aku pulang.

Sedikit yang aku ingat saat itu aku menangis saja di kamar setelahnya. Ayah Ibu bertanya kenapa tapi pasti memahami bahwa mereka tidak akan mendengar apa jawabannya. Tak lama, datang rombongan kawan latihan yang menanyakanku pada mereka. Kenapa pulang? Kenapa tidak latihan? Dan kenapa aku?

Aku tidak suka mengatur, tidak juga berkelompok, dan latihan-latihan asal seperti itu, dari dulu.

SMA dulu aku masih normal dan berbicara dengan siapa saja. Menjawab pertanyaan mereka, atau aku yang bertanya, atau ikut menghargai kawan dengan tertawa, atau hal-hal normal lainnya. Tapi di balik itu aku tetap ingin duduk sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Bagiku, manusia terlalu manipulatif sehingga membuatku yakin bahwa mereka tidak bisa dipercaya. Mereka terlalu manipulatif.

Sikap seperti itu pasti ada karena sesuatu yang aku sudah tidak mampu mengingatnya. Namun sepertinya tidak jauh dari karena ‘tidak diterima’, ‘dimaki’, dan ‘tidak dihargai’. Mungkin seperti aku tidak punya hak atas peranku di dunia mereka lantas aku minggir dan membuat duniaku sendiri.

Aku tumbuh di tempat yang tidak luas dan petak jalan yang tidak panjang. Sekolahku hanya dua setengah kilometer dari pintu dan itu kulewati tiga tahun lamanya. SMP juga hanya sebatas menyeberang jalan di pertigaan, SD apalagi.

Prinsip berdiri sendiri dan tidak percaya pada siapapun rupanya tidak bisa kugunakan selamanya. Orientasi Mahasiswa Baru harusnya menjadi hal yang menyenangkan sekaligus sebuah kesempatan untuk menjadi pribadi yang baru. Lihat, mereka tinggi-tinggi, berkulit bersih, berparfum wangi, lalu tertawa-tawa. Dimulai dengan saling bertanya nama, mengerjakan tugas yang sama, bernyanyi, berlari, dan banyak lagi. Dua kali orientasi, dua kali juga aku tidak peduli.

“kamu sakit?”,

“ada apa?”, tanya mereka.

Wajar saja mereka bertanya saat semua berfoto, melompat-lompat, dan ikut melambaikan tangan saat bernyanyi penutupan ospek sedangkan aku hanya diam dan ingin pulang. Kalau saat itu aku bisa melihat diriku sendiri, sepertinya diamku terlihat tidak bersahabat dengan ekspresi garis muka menurun yang kelihatannya ingin marah saja. Bukan seperti mahasiwi yang terlihat tidak sarapan dan nyaris pingsan, melainkan benar-benar seperti orang yang tidak tertarik dengan segala motivasi semangat belajar dan candaan MC di depan.

Semua orang pasti pernah bermasalah dan itulah salah satu masalahku. Sejak saat itu beban perkuliahan terlihat lebih berat dua kali lipat karena belum lagi selesai tentang diguling di lapangan, menghafal alur perdagangan internasional, membagi jatah uang untuk sebulan, juga harus memaksa diri berbicara dan berkawan.

Aku suka menulis. Tapi tunggu, materi dosen di layar depan bukan genre kesukaanku. Bukuku penuh tapi otakku kosong. Lain hari bukuku kosong, tapi pikiranku yang penuh. Penuh dengan pertanyaan kenapa mereka bisa dan aku tidak? Kenapa bahasa mereka bisa sangat tinggi saat bertanya pada Dosen Teknis Kepabeanan? Kenapa kaki mereka tidak berguncang-guncang ketika maju presentasi di depan?

Salah satu tips yang kudapat dari internet untuk tetap tegar di depan adalah ‘jangan fokus pada audiens’. Tips itu kuamalkan selama empat tahun belakangan. Tiap presentasi aku tak lupa untuk mensugesti diri bahwa aku sedang berbicara sendiri. Harus merasa sendiri di ruangan dan tatap muka dinding lurus ke depan. Tapi di akhir sesi, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang berlomba mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Panik, materi yang sudah kupelajari semalaman mulai hilang pelan-pelan.

Apakah kawan suka konser musik? Tentu saja. Konser adalah tentang lampu redup dan bahu bertemu bahu sambil menyanyikan lagu yang sudah dihafalkan sebelum datang. Panggung dimulai dengan MC yang mempersilakan para pemusik untuk menyanyi pelan bergantian. Lihat mereka, kawan-kawan kelasku yang datang dengan setelan sangat berbeda dari yang kutemui sehari-hari. Sesekali mereka mengambil gambar dan tertawa-tawa, mengambil gambar lagi, lalu tertawa-tawa lagi. Malam itu adalah kesempatan untuk beristirahat dari dunia perkuliahan. Konser musik yang jarang diadakan membuat tribun perlahan penuh. Tapi dengar, aku ingin pulang. Bagiku konser musik sangat berisik, mereka melompat, berkeringat, lalu terbahak-bahak. Lain hari aku memutuskan untuk tidak ke sana lagi.

Melihat karakter Squidward di animasi televisi seperti melihat versi diriku yang hidup di dalam air. Banyak diam, muka datar, dan banyak tidak peduli. Selalu memilih berjalan sendiri dan melakukan apapun sendirian. Setelah sekian lama menghakimi diri sendiri, perlahan aku mulai mencoba menyusun jawaban dan jalan keluar. Aku selalu merasa aneh pada mereka yang dengan percaya diri berbicara. Mereka selalu menemukan cara untuk menyampaikan apa maksud dan tujuan pikirannya. Apakah mereka tidak merasa takut salah? Atau apakah mereka tidak merasa malu? Sebagaimana aku melihat mereka, seperti itulah mereka melihatku. Aneh.

Beberapa hal yang terlihat jelas dari tatapan mereka adalah aku seorang yang tidak bisa diandalkan. Kenapa presentasi saja harus begitu gemetar? Kenapa tidak tertarik dengan konser musik yang justru membuat semua orang bersenang-senang? Kenapa tiap hari pasif sekali? Dan banyak kenapa-kenapa lainnya.

Jadi, bagaimana seharusnya? Apakah dunia yang harus memahamiku atau aku yang harus memahami dunia?

[Berpura-pura]

Semakin lama rasanya aku tidak bisa untuk selalu diam di tengah mereka yang lantang bersuara. Ditambah pikiranku tidak bisa mengajari diriku sendiri tentang rumus-rumus statistika. Akhirnya pelan-pelan aku mulai belajar berjalan seperti berjalannya mereka, berbicara dengan bahasa mereka, dan tertawa lebih keras dari biasanya.

Minggu pertama rasanya lelah sekali, tapi aku harus seperti ini agar selamat sampai wisuda. Agenda besok adalah pergi ke kos Sufi, bertanya tentang banyak soal statistika yang lama aku tidak peduli. Ketika kawan meminjam telinga untuk mengeluh tentang hidupnya, aku mendengarkan dengan sesekali pura-pura terkejut dan bertanya. Seringkali aku memuji apa saja dari mereka. Saat bersama yang lainnya, tidak ada kata aku, yang ada adalah banyak kata tanya tentang bagaimana kabar atau apapun tentang mereka. Meskipun nyatanya terlihat menyebalkan, bukankah berpura-pura juga sebuah usaha?

Oktober 2018, akhirnya aku wisuda juga. Sampai hari ini banyak hal yang telah terjadi. Meskipun kewajiban sudah beralih di atas meja kerja, saat ini aku masih tetap sama. Bedanya, pagi hari kuawali dengan mengejek gaya rambut salah satu rekan kerja, bercanda, dan tertawa-tawa. Agenda rapat capaian kinerja di awal bulan, aku sudah baik-baik saja. Bukan suatu masalah besar untuk berbicara di depan umum meskipun masih sedikit menjadi masalah bagiku.

Saat aku melihat banyak diriku yang dulu, setidaknya aku paham bahwa sebenarnya mereka juga ingin berbicara. Jangan iba ketika melihatnya diam di meja makan atau berjalan kemanapun sendirian, itu memang dunianya. Kita sama-sama manusia dengan cara bertahan hidup yang berbeda-beda. Semua boleh bercita-cita menjadi apapun meskipun dulu tak bisa memilih lahir menjadi siapa dan bagaimana. Jadi, kenapa tidak memilih menjadi mengerti dan berjalan beriringan saja?


(dengan potongan tulisan untuk Nawala Bintu)

***


Tiga tahun satu kelas dengan dua dari mereka, kawan SMA.
Semeja dengan berbagi kisah tentang beratnya menembus skripsi atau panas-panasan mengawasi petak pohon di hutan. Hanya lima, tapi serasa masih sama seperti Senin di tujuh tahun yang lalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...