Langsung ke konten utama

Tahun Ini

         Pagi itu sama seperti pagi yang dulu-dulu, bangun dengan disambut langit-langit genting yang sama, celotehan yang sama, dan rutinitas yang sama pula. Rasanya pagiku panjang sekali dengan mengaduk-aduk air di bak mandi dan meniup busa-busa sabun setiap hari. Saat itu aku bertanya kenapa mereka meminta kami mewarnai dan bernyanyi-nyanyi di kelas karena itu susah sekali. Padahal menjadi murid TK adalah kelas terbaik untuk bermain-main yang baru kusadari hari ini. Kewajibannya hanya makan dan tidur siang, setelahnya terserah aku mau lepas berenang ke sungai mana saja meskipun tidak mungkin karena berenangpun aku tak bisa.

Aku yang kecil itu mengaduk pasir dengan sendok dapur bersama para tetangga yang menyapu setiap pagi dan sore, mengaji kemudian, menyapu lagi, lalu tau-tau menikah saja. Mereka berumah tangga, membangun rumah di sebelah rumah orangtuanya, kemudian anak-anaknya menyapu-menyapu juga seperti ibunya. Menikahlah anak-anak mereka dan membangun rumah pula di sebelah rumah orangtua dan juga neneknya. Begitu saja sampai gang demi gang meluas menjadi dusun dan semuanya rata-rata adalah keluarga. Tidak ada garam yang mahal karena kalau habis, minta saja ke dapur saudara.

Dulu kukira akupun akan berputar-putar saja di gang yang sama, membangun rumah sampai berakhir di sana pula dan tidak kemana-mana. Tapi satu yang jelas, mereka adalah orang-orang baik yang membiarkan dirinya sarapan lauk dari piring yang sama seterusnya asalkan anak-anaknya menjadi jauh lebih baik darinya.

Dan aku adalah anak-anak mereka.

Sampai hari ini, tak pernah kulihat Ayah memakan ayamnya kecuali dipindahnya ke piring makanku. Satu kotak nasi dari undangan-undangan selalu dibawanya pulang lalu meminta kami untuk membukanya. Mbak Ul dan aku berkelahi saja berdua tanpa bertanya apakah Ayah sudah makan juga di sana. Tak perlu bertanya, karena makan tak makan pun kami tau bahwa jawabannya hanya: "Makan saja, Ayah sudah kenyang."

Dengan protein dan vitamin yang tercukupi, kami melihat gambar-gambar televisi berganti-ganti. Kami membaca nama-nama kota yang tak tau itu ada dimana. Bersamanya, soal berhitung dan pengetahuan umum juga makin menjadi-jadi. Usia delapan belas mengatakan padaku untuk lebih percaya diri ketika harus kemanapun sendiri karena jalanan terlalu tega untuk mereka yang tidak berani.

Tidak berani adalah hal manusiawi yang memaksa manusia sepertiku untuk bersiap-siap dengan semua hal yang mungkin akan terjadi. Termasuk tentang bagaimana caranya menjadi satu dengan lingkungan kerja yang semua mejanya terlihat sibuk bersama layar komputer yang tidak pernah mati. Aku yang biasa di kelas duduk-duduk saja dan menyalin catatan kawan di hari-hari menjelang ujian, masih belum bisa membayangkan bagaimana rasanya bekerja dan berkawan dengan mereka yang macam-macam usianya. Apakah aku harus menambah ilmu tentang susu formula agar bisa sekadar diterima di topik pembicaraan ibu-ibu di sana? Atau apakah aku harus menyimak koran setiap hari agar mengerti obrolan mereka dengan kopinya setiap pagi?

Hari pertama terasa mudah karena kami hanya berkeliling-keliling ruangan saja. Hari kedua lebih mudah lagi karena kami sudah berani menumpang kapal kayu ke seberang untuk membeli jajanan. Hari kemudian sampai beberapa waktu panjang ke depan, aku sudah lupa. Beberapa hal yang masih hangat kuingat adalah tentang mencetak laporan berlembar-lembar, banyak berkeringat, dan menangis sesekali. Tapi sekali lagi, aku sudah lupa bagaimana rasanya. Hari ini terasa lebih mudah lagi bersama mereka yang aku tidak perlu belajar dulu untuk sekadar mengobrol setiap pagi.

Dan lagi, surat keputusan mutasi itu memang tidak pernah mengenal hari.

Kami adalah beberapa meja dengan tiga lantai dan selalu naik turun tangga yang sama sampai pukul lima sore. Dengan jumlah pegawai sedemikian kini membuat kabar sekecil apapun milik mereka bisa terdengar sampai lamanya. Dinding pun mendengar, katanya. Kami sering makan dalam satu meja, menertawakan semuanya, dan bertanya berbagai masalah yang lainnya meski akhirnya tidak saling memberi solusi.


Kali ini benar benar telak sekali. Masing-masing seksi menyumbang nama anggotanya di atas kertas mutasi: Mbak Risma, Mas Putro, Mas Prakas, Mas Didik, Mas Brian, Bang Fathur, dan Bang Septino.

"Kamu belum pernah naik pesawat, In?," tanya Bang Sep, pas sekali dengan nada dan ekspresi yang membuatku seakan tidak pernah naik pesawat adalah sebuah kesalahan. Ia sudah tau bahwa namaku mengandung huruf 'Y' tapi tetap saja aku dipanggilnya begitu, Iin. 

Bang Septino dulu ngeri sekali. Pertama kali kulihat ia keluar pintu lalu lurus menuju koridor kantor tanpa menyapa kami para anak baru, senyum pun tak pernah ada padanya. Tatapannya kaku dan bisa dimaklumi kalau anak-anak kecil tak akan memilih untuk berada di dekatnya. Berada satu unit dengannya membuatku mencuci opiniku berkali-kali. Salah besar. Ia adalah satu dari sekian yang paling taat administrasi, serius sekaligus santai, humoris, dan paling bisa membaca maksudku. Ternyata tertawanya lucu sekali, pantas saja ia lebih sering menyimpannya. Kalau saja ia langsung mutasi tanpa terlebih dulu pindah seksi ke lantai tiga, mungkin aku akan menangis saat itu juga.

Selamat bertugas di homebase, Bang. Salam untuk keluarga ya, maaf sekali dulu anaknya saya puji ganteng padahal perempuan. Kalau Bang Sep tanya lagi jerawat obatnya apa, maaf lagi karena saya juga belum tau. Terima kasih telah banyak membantu dan menutupi banyak salah-salah saya, khawatir pulang naik apa, dan banyak melindungi dari yang tidak seharusnya. Sehat terus  Bang, selamat mutasi. Akhirnya kali ini bukan bercanda ya.

Lihat, Bang, saya akhirnya naik pesawat juga kan.


Kereta adalah tranportasi yang lebih kupilih dibanding yang lain. Harum Roti 'O di kursi tunggu, suara-suara mesin cetak boarding pass, dan banyak lagi. Tidak seperti terminal yang lebih banyak para bapak yang bertanya mau kemana atau bandara yang penuh dengan wangi parfum kaum metropolis, di stasiun semua boleh berada di sana. Foto ini adalah gambar terakhir kali aku kebingungan di Stasiun Pasar Senen demi menunggu kereta yang berangkatnya masih sekitar delapan jam lagi. Tapi lebih baik menunggu begini daripada hampir tertinggal pesawat dari Raden Inten II menuju Soekarno-Hatta karena masih pertama kali.

Mbak Ria dan Mas Prakas sudah lebih dulu berpamitan di penginapan. Akhirnya setelah tujuh tahun, selamat mutasi Mas Prakas, titip Mbak Ria ya. Ingat sekali kalau Mas Prakas enggan calon bayinya lahir di bulan Juni sepertiku hahaha. Alhamdulillah, Malang ya. Terima kasih juga sudah menjadi baik pada Gem, kucingku dulu. Hati-hati karena dia pasti belum putus asa untuk terus melompat pagar.


Bang Fathur dan Mas Brian, kalau bingung mau bagaimana, beli Ikan Cupang lagi saja di sana. Bagaimana ya ruangan tanpa mereka berdua, dua karib yang dengan senang hati mencari Pokemon kemana saja. Satunya senang memancing sedangkan satunya lagi senang menyelam. Tenang Bang Thur, kopi di Malang nanti lebih bervariasi. Jarak ke anak istri juga insyaaAllah lebih dekat. Kecuali Mas Bri, dilihat darimana saja Batam-Malang tetap jauh-jauh juga. Selamat bertugas senior, selamat absen setiap hari.

Mas Didik, yang rambutnya tidak akan goyah hanya karena jam dinding sudah enam jam lebih berputar, akhirnya didekatkan dengan keluarga kecilnya. Mbak Risma, tidak pernah ada ghibah di antara kita ya. Pembicaraan dengannya selalu menambah sesuatu yang baru dengan cara pandang yang berbeda. Mas Putro, selamat pulang ke tempat sendiri, baik-baik dengan Mbak Risma dan Ara ya. Wah rasa-rasanya lima tahun lagi Ara akan lebih fasih berbicara dengan aksen-aksen ala Jakarta.

Lagi-lagi kalimat itu nyata lagi: semua akan pindah pada waktunya. Hanya saja ada yang lama dan ada yang sebentar saja. Tidak ada yang kebetulan, semua memang sudah ada masanya. 


Kami baru sadar benar, bahwa sejatinya pertemuan adalah langkah pertama menuju perpisahan.
Terima kasih telah saling menerima, menjadi keluarga di meja kerja, dan menjadi saudara dimanapun juga.
Maaf sekali, kami tidak kuasa berkata selamat jalan, karena kenangan kawan akan selalu datang setiap hari dan berkata "selamat pagi" seperti biasanya.
Sampai jumpa, kalau tidak di sini, semoga di kesempatan yang lebih baik lagi.

***


Akhir 2020,

@potretsemangat


Bukankah lelah adalah suatu kepastian bagi siapa dan dimana saja mereka bekerja?


Aku pernah enggan hanya sekilas berbicara karena merasa kertas di atas meja tak ada habis-habisnya. Pernah juga dalam sehari mudah sekali membeli dan memesan apapun juga, namun pada akhirnya selalu merasa bahwa semua yang kudapat adalah biasa-biasa saja. Ternyata, hidupku terlalu cepat sekaligus terlalu mudah. Aku tidak melatih hatiku untuk bersabar atas sesuatu dan tidak memberi waktu menunggu bagi laparku. Tahun ini memberi banyak ruang untuk kita beristirahat lebih lama dan berkaca bahwa terlalu banyak kebaikan yang tidak dibalas dengan semestinya.

Semoga kita selalu punya alasan untuk membeli barang mereka, setidaknya mereka bekerja bukan demi kaya, tapi demi berbuka untuk puasa panjangnya. Dunia memang tidak menjamin kita menjadi baik setiap hari, tapi ketika dorongan itu ada, jangan pernah ditunda ya.

Meskipun tahun ini kami tidak berhari raya di kursi-kursi kami, tidak memberi banyak pilihan untuk pulang-pulang lagi, dan sakit-sakit yang tidak pernah ada sebelum ini, tapi terima kasih telah berjuang sampai kini.

Sekali lagi, tidak ada beban berat untuk pundak yang telah Allah kuatkan.

Kemudian, sampai jumpa di kebaikan-kebaikan tahun depan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Andai

Kepadamu,               Dua puluh satu tahun kami jalan dan tumbuh dengan petuah kami sendiri. Melihat, mendengar, menahan dan mengartikan semuanya sendiri. Menjadi berandal, tersesat, kemudian lama mencari-cari arah pulang kami. Lihat Mbak Ul, dia sangat keras kepala. Sekeras Ia ingin bermain padahal seharusnya tidur siang. Sekeras Ia enggan mendengarku dan menggambar-gambar petanya sendiri. Kerasnya Ia membuatnya begitu tangguh dan mampu membuatku berseragam seperti sekarang ini. Tapi  aku akan bercerita tentang Mbak Ul lain kali.  Ruangan bising sekali. Sound speaker di tengah-tengah nyaring dengan lagu-lagu acak yang membuat mereka bernyanyi. Exhaust masih mengisap putaran asap wangi-wangi tembakau dari pagi sampai pagi lagi. Suara tertawa, pantofel, bunyi klik komputer, tarikan kertas-kertas printer, dan aku malah sedih sendiri.  Punggung banyak membungkuk, paham seribu kata tapi hanya ...