Langsung ke konten utama

Menjadi Sepertimu



Selamat pagi meja kerja,

terserah berapa kalipun kursiku ditukar karena aku tidak peduli lagi. Entah kertasku bergeser kemana, entah itu botol air siapa, aku sudah diam saja dengan barang apapun yang mereka letakkan di atas mejaku. Semakin hari berkas yang kuselesaikan selalu kalah tinggi dengan map yang kutumpuk saja di dalam loker. Hari ini lima, besok tiga, lalu besoknya lagi aku sudah enggan mengerjakan apapun dan memilih untuk sering cuti saja. Setengah dari cutiku tidak kugunakan untuk kemana-mana, di kos saja sambil mematikan data handphone dan melakukan apa saja selain bekerja. 

Uang ada, air penuh, makanan dan vitamin-vitaminnya juga tinggal dibuka,

Lalu apa lagi?

---

[Oktober 2020]

Maaf sekali aku tidak cepat datang dari dulu. Dan maaf lagi karena kedatanganku tidak lama dan terburu-buru. Hari itu aku mengkhawatirkan nisanmu, apakah sudah bengkok atau kusam warnanya. Maaf sekali lagi karena aku tidak membawa bunga. Aku penasaran apakah kamboja yang gugur di tempat ini sama nilainya dengan bunga yang kutabur sendiri dari tanganku. Sesungguhnya, aku ingin menabur bunga apa saja sampai menutup seluruh warna tanah kuburmu. Ingin sekali. 

Aku manusia yang takut berjanji untuk segera bisa datang lagi. Tapi ketika kesempatan untukku ternyata ada lagi, semoga saat itu tidak gerimis atau hujan yang membuatku harus berteduh dibanding merapatkan kaki dekat di sebelahmu. 

Apakah engkau mengenalku? Sejujurnya akupun juga sama sekali tak mengenalmu. Cerita tentangmu sama seperti legenda kota-kota yang kudengar sesekali saja tanpa tau apakah ia nyata atau hanya bercanda. Saat aku mulai mampu mengingat, yang kutau aku hanya punya Abi saja. Yang kutau aku sudah bisa berjalan entah dengan bantuan lengan siapa. Yang kutau mereka punya Ibu dan aku tidak ada. Tidak apa-apa, aku tidak sedih sama sekali. Aku gembira-gembira saja karena tidak paham rasanya mempunyai sehingga berakhir tidak paham rasanya kehilangan. Berbeda dengan Mbak Ul. Di balik keras kepalanya, aku tidak tau ingatan apa saja tentangmu yang coba ia tutupi berkali-kali. Aku tidak tau di dinding mana saja ia pernah menangis dan bersembunyi untuk merayakan kesekian tahun tanpa dirimu. 

"Ummi, lihat aku sudah bekerja. Tapi kemarin-kemarin sampai hari ini aku sudah tidak semangat lagi. Kenapa? Apakah karena engkau tak pernah mengucapkan selamat barang sekali kepadaku?"

Kalau bahagiaku adalah demi mendengar sekali saja suaramu, maka lebih baik aku selesai bekerja saja. 

Dulu aku pernah bertanya bagaimana agaknya wajahmu pada kakakku, dan jawabnya adalah: "kau bercemin saja"

Lucu sekali bukan? Kucari foto-fotomu pada siapa saja, kusimpan apa yang ada, meskipun rusak, meskipun tetap saja tak terbayangkan bagaimana wujudmu kiranya. Tujuh belas tahun, dua puluh tahun, masih mencoba mencari tau padahal mereka bilang Allah telah meninggalkan wajahmu padaku. Padahal, Allah selalu mempertemukanku denganmu. Padahal, aku selalu melihatmu dalam cerminku. Dan padahal, engkau selalu bersama lengan tangan dan kakiku kemanapun sejak kepergianmu. 

Mbah Uti bilang, engkau pergi bukan dengan tidak meninggalkan apapun. Doa-doamu setiap hari masih membersamaiku sejumlah apapun yang telah Allah berikan padaku. Bahkan lebih banyak dan tidak akan pernah terlihat dimana lantai dasarnya. 

Aku tidak datang kesana untuk bersedih kepadamu. Aku hanya menuntut kakiku untuk menempuh sedikit lebih jauh demi menemukanmu bahkan ketika engkau tak mengucapkan selamat datang kepadaku. Kuberi tau, aku selalu ingin menjadi sepertimu. Kerudungmu masih selalu kukenakan meskipun kata mereka aku seperti menggunakan taplak meja. 

Karena aku selalu ingin menjadi sepertimu.

Ia bercerita tentangmu yang dengan tegas tidak peduli kepada para mereka yang menepismu bersama kerudungmu di Manado sana. "Kalau mau kuliah pakai kerudung begitu, sana ke Iran saja", katanya. 

Aku mendengar pula tentangmu yang terbata-bata dalam mencari dan memahami Islam dan siapa Tuhannya. Darinya aku bercita-cita untuk menyelesaikan apa yang engkau mulai. Untuk melakukan apa yang engkau simpan. Dan dari pertemuan singkatku denganmu, terima kasih karena aku punya cita-cita lagi. Semoga saja aku selalu menemukanmu di setiap keinginan-keinginan panjang yang membutuhkan jawaban seorang Ibu.

Karena,

aku selalu ingin menjadi sepertimu.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...