Langsung ke konten utama

Hiperhidrosis

             Saat tes kesehatan tahun 2017 lalu, sebenarnya aku tidak punya cukup percaya diri untuk lolos. Hasil tensi darahku selalu menunjukkan angka di bawah normal dan khawatir bila-bila mereka melarangku berlari dan menyuruhku pulang. Hal lain yang paling sering kudengar adalah bahwa teman-teman sekolah memvonisku mengidap penyakit jantung lemah. Pasti karena ini, telapak tanganku selalu berair tidak pada waktunya. Suhu kelas normal, angin tenang, guru tidak sedang mengancam remidi, tapi tau-tau tanganku basah sendiri. Lain waktu AC ruangan menyala, Ricky yang duduk di ujung merapatkan jaketnya karena dingin. Suasana sejuk tapi aku malah berkeringat sendiri.

              Jadi, apakah aku terlihat seperti akan langsung berjalan ketika lari baru dimulai dua menit? Izinkan aku sombong sebentar. SD dulu, meskipun Bayu melewatiku dengan dibonceng entah tetangganya atau siapa yang padahal ia seharusnya berlari karena ini Tes Penjaskes, aku memilih untuk tetap berlari. Meskipun pelan. Meskipun sama cepatnya dengan mereka yang berjalan. Tapi intinya adalah aku tidak mengikuti jalan mereka yang memutuskan untuk naik angkot sampai ke finish.

              SMA, kelas dua dan tiga Alhamdulillah dengan tanpa kemampuanku, syukurlah aku mendapat posisi pelari pertama dengan kemudahan dari Allah. Kalimat di depan itu bukan bermaksud untuk mengungkit lagi, meninggikan diri, atau apapun selain untuk mengatakan bahwa: aku sehat. Mungkin teman-temanku seperti Yeny atau Apris enggan untuk mendahului karena paham hanya olahraga ini yang kusanggupi. Sungguh aku payah sekali dengan olahraga yang berhubungan dengan bola. Terakhir yang kuingat, dari empat servis, hanya satu yang masuk meskipun tak jauh melambung dari net. Nilaiku untuk itu tak pernah dekat-dekat atau bahkan mencapai ‘A’.

              Aku menyiapkan segalanya untuk berlari saat itu (SMA). Kusiapkan untuk tidur lebih awal dan memakai sepatu khusus. Selalu menepi sebentar untuk mengoleskan apapun yang panas-panas di kaki dan mengaitkan MP3 di depan leher serta menyembunyikan kabel earphone di balik kerudung. Isi MP3 sudah diatur sedemikian rupa agar terus berteriak-teriak saat dirasa kakiku rasanya ingin selesai saja. Karena itulah mereka para teman lelaki yang menyapa sebentar untuk kemudian menyalipku sering tak kuhiraukan karena aku tidak mendengar sapaannya. Telingaku penuh dengan nyanyian Sheila On 7 sampai JKT48 yang bertempo cepat agar aku terdorong untuk segera duduk di garis finish.

              Jadi, apakah aku tetap terlihat seperti seorang dengan kelainan jantung?

Tentang tanganku, saat itu Bu Sun memintaku untuk membawa sapu tangan agar Lembar Jawaban Komputer-ku tidak lembab lalu robek. Ngomong-ngomong, saat itu tahun 2010. Sebelum ujian dimulai, Linda, aku ingat benar namanya, bersamaku meraut ujung pensil di depan kelas. Aku mengamati ujung pensil apakah sudah mencapai ketajaman yang kuinginkan. Lain lagi dengan Linda, ia tidak memilih untuk mengamati, secepat-cepatnya ia menusukkan pensilnya di telapak tangan kiriku dan membentuk satu titik kecil berwarna abu-abu khas pensil di sana. Benar-benar sampai sekarang, titik itu masih dan terus ada. Beruntungnya tidak sampai ada kejadian dia diusut di ruang guru atau kejadian telapak tanganku yang berdarah-darah. Mungkin saat itu darahku belum matang benar dan malas-malas untuk keluar lewat lubang sekecil itu. Lagipula Ujian Nasional akan dimulai sebentar lagi.

              Pernahkan kawan bersalaman dengan guru atau seseorang kemudian orang itu mengelap tangannya langsung di depan kalian?

Pernah?

Kalau begitu kita sama. Dan sering.

Aku yakin mereka tidak sedikitpun bermaksud menyinggungku, itu hanya refleks manusia ketika tangannya menyentuh sesuatu yang basah, cepat-cepat mencari benda kering seperti kain baju untuk mengatasinya. Awalnya aku merasa sungkan dan aneh sendiri, lama kelamaan menjadi biasa saja dan tau-tau menjadi aneh lagi. Meskipun sudah berusaha untuk memaklumi tapi tetap saja ada satu pertanyaan: apakah benar-benar harus di depanku?!

            Aku merasa seperti membawa lendir yang bernapas dengan kulit, licin, basah, dan berair. Berwarna coklat, atau hijau seperti katak. Sudah kemana-mana pikiranku saat itu. Terkadang hanya titik-titik mirip embun, namun lebih sering seperti air yang keluar sampai menetes-netes dan basah seluruhnya. Tidak ada apa-apa, tidak sedang dalam situasi mengancam, tidak sedang berpikir sulit, tapi tanganku hanya basah sesukanya. Bukan gugup dan bukan karena salah tingkah.

Saat ini kukira ada untungnya juga, tangan berkeringatku membantuku menempel materai di atas kertas tanpa perlu mencari lem, mencari air, atau bahkan menjilatnya. Oh iya, satu lagi.

            Tanganku sering kehilangan sidik jarinya. Tahun 2018 ketika masih On the Job Training di Surabaya, aku yang masih hidup dengan tergesa-gesa itu naik dengan cepat ke lantai dua untuk absen di mesin fingerprint. Tinggal sekian detik lagi tapi identitasku tidak juga terbaca. Benar-benar hampir terlambat mengingat aku masih berkemeja putih dan sangat tak patut untuk datang siang-siang. Pulangpun begitu, Irma sudah menunggu tapi jariku tak juga terbaca. Mereka bilang mungkin aku salah memasukkan tangan kanan dengan tangan kiri, atau memasukkan telunjuk yang seharusnya ibu jari, tapi tolonglah, aku tidak selapar itu sampai lupa cara absen pulang. Ketika jariku mulai mengembun, barulah keluar nomor identitas yang aku lupa berapa angkanya.

            2017, saat itu sudah bukan pagi, seperti biasa aku memilih jalan aspal dekat masjid kampus untuk jalan pulang karena sepi dari mereka-mereka para mahasiswa yang biasa duduk berlama-lama di tempat parkir. Sendirian, tidak ada yang lewat, angin permisi pelan, dan tiba-tiba aku merasa bawah leherku ditekan sesuatu. Aku tak ingat apakah itu sakit tapi yang jelas rasanya berat dan tidak nyaman. Awalnya tetap memaksa berpikir bahwa aku sehat dan baik-baik saja, namun tidak benar bila kukatakan bahwa tak ada sedikitpun kekhawatiran. Aku tidak tau dosaku seberapa, tapi yang jelas tidak kecil. Aku tidak tau umurku sampai kapan, yang jelas saat itu tidak sedang baik-baik saja.

Setelah beberapa lama, kuputuskan untuk memberi tau orang tuaku dan mereka memintaku untuk pulang di lain kesempatan. Malam itu, mereka membawaku ke Ruang Pemeriksaan Jantung-Elektrokardiogram (EKG). Entah apa saja yang kulakukan di sana, sedikit yang kuingat adalah mereka memasang kabel-kabel dengan ujung selaput yang dingin dan ditempel di banyak tempat di kulitku. Mereka memintaku untuk rileks dan biasa saja. Setelah beberapa lama, dokter itu berbincang sebentar dengan orang tuaku. Intinya adalah hasil tes tidak bisa dilihat hari itu juga, baiklah.

            Sebagian diriku senang karena mengambil jalan tes ini daripada terlalu lama divonis banyak hal oleh teman-temanku. Di sisi lain aku merasa, apakah ini perlu? Mengingat kakakku pun juga sama. Pun dengan Ummi. Apakah ini bukan semata-mata faktor genetik dari Ibu ke anak yang membawa separuh dari air dan darahnya? Beberapa hari lagi aku akan tau.

Benar saja, dari atas sampai ujung hasil yang terbaca adalah normal. Alhamdulillah. Perasaan sakit saat itu bisa karena banyak hal, terlebih ia tidak terjadi secara berulang. 

Dokter itu bilang untuk jangan cemas dengan ini, banyak dari kenalan medisnya sama sepertiku dan mereka baik-baik saja. Ini tak lebih dari faktor orang tua ke anak, keturunan. Kondisi ketika kelenjar keringat berproduksi secara berlebihan tanpa pengaruh dari aktivitas fisik atau suhu udara dan disebut Hiperhidrosis. Begitu.

Tidak berbahaya, aku bisa berlari bersama-sama mereka. Bukan voli atau basket karena aku tidak bisa. Bisa melakukan hal yang mereka biasa lakukan, bedanya adalah tanganku lebih basah. Lembab dan selalu dingin. Itu saja.

“Mereka bilang orang yang tangannya dingin, berarti hatinya hangat. Beberapa garis pembuluh vena terlihat hijau kebiru-biruan lewat silang menyilang di atasnya. Tanganku, mudahlah menolong, berterima kasih, dan meminta maaf”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...