Langsung ke konten utama

Seni Memilih



Agustus, bulan kedelapan yang menandakan tahun 2020 sudah lebih dari separuh jalan.

***

Beberapa tahun yang lalu, kakakku secara sabar menyiapkan jawaban yang sama dari tahun ke tahun untuk satu pertanyaan: kapan menikah?

Dua kata yang awalnya bisa jadi hanya basa-basi tapi menjadi tertekan juga karena tak kira-kira berapa orang yang bertanya. Aku sendiri ikut tertawa-tawa saja bersama mereka. Masuk di lebaran kedua, ketiga, dan seterusnya, tawaku sudah sampai di ujungnya. Aku sudah tidak tertarik dan meninggalkan Mbak Ul mengatasi pertanyaan mereka sendirian. Selagi pertanyaan itu bukan untukku dan toples kue kacang masih penuh, lebaranku selamat. Saat itu kuliahku masih susah, Teknis Cukai masih membingungkan, Statistika apalagi.

Pertanyaan itu masih belum masuk ke duniaku sampai ketika tiga bungkus undangan itu tertulis tujuan atas namaku. Saat itu dimulailah bagian hidup yang mengharuskan kami untuk banyak menyaksikan hari-hari penting mereka. Hari-hari yang seharusnya sekali seumur hidup mereka para senior dan teman-temanku. Hingga dua kata itu akhirnya menemukan jalannya untuk dipertanyakan juga padaku.

“Jadi, kapan?”

Ternyata begini rasanya duduk di kursi panas kakakku dulu.

Apakah pernikahan yang kalian maksud itu adalah komitmen mengikat atas nama agama dan hukum untuk bersama dengan seorang lelaki sampai waktu yang tidak terbatas?

Dunia, aku besar bersama kakak perempuanku. Kami berdebat tentang apapun yang bisa kami debatkan dan banyak menertawakan apapun yang seharusnya tidak perlu. Soal laki-laki adalah bab yang tidak ada di buku kami sampai Mbak Ul pada suatu hari mulai tersenyum-senyum sendiri. Terus dia dengan dunia dan teman-temannya sampai kami harus berpisah untuk melepasnya pergi kuliah.

Masuk SMP, Oh, Mungkin ini yang mereka bilang laki-laki. Benar-benar, mereka nakal sekali. Ada yang kemana-mana bergerombol dan berdiri mempersempit tangga sekolah sambil mengomentari siapapun yang lewat. Ada yang mulai berani sekali dua kali menyebut nama Ayahku, dan banyak yang lainnya.

Usia 22 tahun, para lelaki yang berpapasan denganku sudah banyak macamnya. Pernah sampai suatu hari, aku yang naif dengan membawa hati seperti anak SMP itu duduk dengan asap yang berputar-putar. Itu masih biasa saja bagiku, tetapi menjadi tidak ketika mendengar mereka mengumpat keras-keras sambil tetap membawa putung rokoknya saat bercanda. Terus begitu setiap pagi sampai pukul lima sore lebih. Setiap hari, dari Senin sampai Jumat. Sesekali mereka berbicara tentang nama-nama para wanita yang menarik menurutnya dan berbicara tentang hal-hal yang tidak ingin kudengarkan. Aku masih di situ, diam, dan tidak kemana-mana. Berhijab sendirian, menjadi ketakutan, dan sedih sekali.

Rasa takut yang kuat itu dengan cepat mulai membuatku berhati-hati dan sadar. Sadar bahwa meskipun bisa kubawa sendiri ransel di punggung, tas baju di tangan, dan kantong-kantong berat itu saat jauh bepergian, nyatanya aku tidak sekuat itu. Sama halnya dengan teman-teman perempuan kenalanku yang mengangkat galon air ke tangga lantai dua. Pada saatnya, kami akhirnya bisa pecah juga. Tidak dengan benturan benda-benda apa, tapi dengan tidak dihargai. Atau dengan nada tinggi yang oktafnya bukan lagi mengenai telinga kami tapi langsung ke dinding hati. Itulah, laki-laki berpikir sedang kami merasakan.

Dalam kesempatan memilih, dulu kami ingin yang macam-macam. Putih seperti pemain serial di TV, keren, pintar, dan wangi. Syukur-syukur kalau pintar mengaji. Pada cermin, kulihat diriku sendiri. Dan harus kukatakan untuk tidak akan pernah meninggikan diriku demi mendapat seorang yang tinggi, pun tidak merendahkan diriku sendiri demi sama tinggi agar aku bisa diterima.

Kalaupun ingin lebih tinggi, semoga itu tentang ilmu yang dicari bukan demi pantas dengan siapa, tapi untuk kebaikanku sendiri. Bila ingin merendah, semoga itu tentang hati yang selalu tunduk meskipun mungkin suatu hari akan banyak dipuji.

Catatan untukku, jangan merubah merek sepatumu agar berdiri sama tinggi dengan kelas sepatu ia yang kau mau. Sederhana, tapi rasanya susah sekali menjadi diri sendiri. Tapi bukankah sesuatu yang sulit pasti ada hasil yang lebih baik?

***

Ya Allah,

Kurasa langkahku banyak salah jalan. Kalau bukan karena-Mu yang meluruskan, mungkin aku sedang menari-nari dalam perjalanan menuju neraka. Tarikpun tariklah, sebelum terlalu lama aku bersujud pada-Mu tapi nama lain yang kusembah. Aku tau, ada dua gelas kebaikan demi satu mili pengorbanan. Semua sedang dalam perjalanan menuju sampai dengan waktu yang berbeda. Tidak terlalu lama, pun tidak tergesa-gesa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...