Langsung ke konten utama

Selamanya Memberi Arti: KM4 Madura

Senin itu kami melihat kami belasan tahun yang lalu.




Aku ingat, selempang petugas upacara yang digunakan mereka saat itu terlihat terhormat sekali. Berbeda denganku dulu para siswa sisa yang berdiri di barisan belakang paduan suara. Menyanyi tak menyanyi pun upacara akan tetap selesai. Tidak berpengaruh. Pun tidak terlihat.

Satu tas punggung dan satu lagi tas kecil sengaja ditinggalkan ibu itu di mushola. Ia menggandeng anaknya yang sudah memasang raut naik turun tanda tak mau sekolah. Darinya kulihat ia ingin pulang saja, kelihatannya sudah terlalu terlambat ikut upacara. 




Upacara, ah.
Dasi yang tertinggal, topi yang hilang, dan banyak lagi.
Barisan mereka aneh sekali. Sama seperti barisanku dua belas tahun yang lalu. Para siswi banyak yang lebih tinggi dan berbaris dari tinggi, rendah, sedang, tinggi, tinggi lagi, sampai ke yang paling kecil. Ia yang paling kecil itu terserah saja tentang apa yang terjadi di depan, melompat percuma pindah ke depan pun tak bisa. Lalu tau-tau upacara selesai.



Mereka tak langsung bubar, masih ada Hadrah oleh mereka para siswi berjilbab hitam di depan. Kalau misal mereka sudah bersosial media, kujamin followers mereka lebih banyak dari siswa peserta upacara apalagi mereka-mereka yang tadi datang terlambat. 

Selesai lagu Indonesia Raya sampai Garuda Pancasila, pembukaan oleh MC pun sudah. 
Kawan, mereka kecil sekali. Percayalah, anak-anak kelas 1B rata-rata hanya setinggi perutku. Apa benar mereka sudah tau apa itu cita-cita? Mereka lebih terkesan ingin bermain pasir, berlari keliling, dan tertawa-tawa. Benar saja, di kelas itu satu anak belum selesai berteriak, yang lain dan yang lainnya lagi sudah siap-siap berteriak lebih keras lagi. Satu lari ke kiri satunya lagi tak mau duduk di kursi. Andai itu adalah Konoha, sudah barang tentu aku mengucap Kage Bunshin No Jutsu.



"Bu! Aku nggak punya bulpoin," katanya.
Mereka memanggil 'Bu' di usiaku yang ke dua puluh satu tahun. Agak aneh bagiku yang terbiasa dengan 'Mbak'. Kali ini silahkan, kalian memang selisih empat belas tahun denganku. 

Tugasku adalah mengingatkan waktu, membagi atribut, dan mengamankan susu. Kemudian menjawab mereka yang berulang kali bertanya apa isi kardus itu. 

"Itu apa, Bu?"

"Itu susu, ya?"

"Itu susu kan?"

"ini kardus", kataku.

Kelas 5A lain lagi. Di usia yang harusnya sudah bisa makan dan melipat baju sendiri, mereka ternyata luar biasa. Dari katakan dua puluh lima anak di kelas, sepuluh-sepuluhnya keluar bersamaan ke kamar mandi. 

"Kalian mau kemana?," atau lebih tepatnya dengan empat huruf A menjadi "Kalian mau kemanaaaa?"

"Ke WC, Bu!"

Benarkah?



Mungkin maksud mereka adalah ke samping WC (Kantin), depan WC (parkiran), belakang WC, atau dekat-dekat WC. Berlari berputar-putar berharap Mbak Dita, Mas Triyo, dan aku mengejar mereka. Satu naik ke atas kayu satunya lagi lurus ke kantin. Rasanya menangkap anak ayam yang jatuh dari pick up lebih mudah daripada mengumpulkan mereka seperti semula.

"Katanya mau ke WC?"

"Iya ini," lalu mereka masuk kamar mandi dan kulihat dinding-dindingnya banyak napak tilas tulisan cinta sebelah tangan mereka. Tulisan tentang ini cinta ini dan itu cinta itu. Juga pesan-pesan singkat berharap yang dimaksud akan membacanya di masa depan. SDN Pademawu Barat I persis seperti SD-ku dulu. 



Sesi I mengajar hampir selesai ditandai dengan susu-susu itu sudah mendapat izin untuk dibagi. "Bu aku nggak mau strawberry". "Bu, cokelat!!".

Kalender hari itu adalah 4 November 2019. Pantas saja yang mereka minta adalah nomor WhatsApp sebagai kenang-kenangan perpisahan dari kami. Handphone-ku sendiri lama tak kembali karena mereka berkali-kali selfie dan dibawa lari. Kemudian membuka YouTube dan bertanya, "Kak, punya kuota?". Canggih sekali mereka. Sepulangnya di kos, ada lima nomor yang bertanya "Kak kapan ke SD lagi?", atau yang tau-tau bilang "Save, adel" atau yang hanya "P" dan yang paling panjang adalah:

"P
Kak aku tria
Kkakakakakakakakakakka ayo bales
Kak" 
(kemudian ada notifikasi Missed video call at 13:24)



Kemenkeu Mengajar 4 Madura adalah jalan bagi kami manusia rantau untuk beraktivitas selain melamun, bekerja, dan mengawang-awang makanan sehari-hari. Ada Mas Risya, Koordinator Daerah yang tau-tau mutasi.  Mas Ulil, relawan dokumentator yang tiba lebih pagi daripada panitia dan kelewat lupa membayar air gelas di lapak depan KPPN. Nuna, penanggung jawab konsumsi. Mas Brian, grand ambassador pariwisata semua gili-gili di Madura. Mbak Dita, Mbak Risma, Mbak Ririn, Mas Triyo, dan kawan CPNS semua. Juga rekan baru dari Pajak dan yang lainnya. Sudah seperti pembukaan skripsi bukan?

Kalori mereka tidak sia-sia dengan para siswa SDN Pademawu Barat I & II yang bertanya kapan lagi kesana? Kapan? Janji ya?.



Sampai kini pun aku tidak paham kenapa bedak anak-anak kelas 1 dan 2 tidak diratakan saja oleh ibunya. Kenapa harus putih di sana dan gelap di sini, apakah memang seperti itu seninya? Sedikit yang aku paham adalah mereka tidak bisa berpura-pura. Mereka tertawa dan benar-benar tertawa. Mereka bertanya kapan lagi kami kesana karena saat itu sekolah terasa berbeda. Lebih berbeda. Dan semoga dunia tau bahwa tentang menjadi guru, polisi, atau tentara bagi kalian adalah cita-cita yang akan menjadi nyata ya. Terima kasih KM4 Madura! 





(Cr Foto Relawan Dokumentator KM4 Madura)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...