Langsung ke konten utama

Madura Kelihatannya

Mereka bilang Madura sangat panas. Tapi sepanas apa?

Apakah sepanas kamar kos di Bintaro yang harus disiram air dulu kasurnya lalu menyalakan kipas level tiga agar bisa tidur? 

Apakah lebih panas dari Surabaya yang dari jauh terlihat fatamorgana air menggenang-genang di tengah jalan saat siang hari?

Setelah enam bulan lebih di sini, mungkin aku sudah bisa menjawab 'Ya'.

Menuju Talango dan melampauinya

Bulan Maret di Kalianget, langit bersih sekali. Pukul sepuluh pagi, warna langit biru cerah hampir-hampir putih. Mendengar klakson-klakson mobil yang berbaris depan kantor untuk menyeberang ke Talango membuat kami lebih ingin lagi untuk membeli es. 

Anehnya lagi saat itu tidak ada angin. Sampai ketika air deras turun di halaman, butuh beberapa detik untuk kami sadar bahwa saat itu sedang hujan. Tidak mendung. Tidak pula dingin.

April di Pamekasan diawali dengan berkeliling gang untuk mencari kosan. Kamar kos di sini lebih aneh lagi. Sering aku tidak merasa melakukan atau mengangkat sesuatu yang membutuhkan 1300 kalori tau-tau kulitku mengembun lalu berkeringat.

Pepohonan di kanan kiri yang dicat hijau kuning terlihat seperti sepanjang Jl. Hayam Wuruk di Jombang. Pernah sekilas melihat beberapa orang bersarung masuk distro dan memilih-milih baju, duduk lama di Kunyah-kunyah resto, dan banyak lagi.

Madura itu religius, kataku.


Selang satu kilometer di kanan kiri Bangkalan-Pamekasan, ada banyak mushola dan masjid-masjid besar. Pujian panjang terdengar setelah adzan maghrib di Sampang.  Terasa lebih lengkap saat kami harus banyak-banyak berdoa ketika bus patas kami menerabas jalan-jalan sempit Bangkalan dengan speedometer delapan puluh ke atas.

"Pulang ke Jawa, Mbak?", tanyanya.

Lah, memang ini dimana?

Waktu itu Pak Indra sempat senang dengan 'gratis ongkir' di pesanan miliknya. Sampai ketika ia dihubungi untuk membayar tambahan ongkos kirim karena promo gratis ongkir hanya berlaku di pulau jawa. Ah iya.. ini Pulau Madura. Jawa Timur yang bukan Jawa.

Tiga kali membeli kentang di Jl. P. Diponegoro, raut ibu itu seperti tidak senang aku membeli dagangannya. Seperti seseorang yang benci dengan hidupnya. Sampai sejauh itu.

Apakah aku salah kalimat? Tapi perasaan aku hanya bilang "Bu, beli kentang".
Apakah aku salah nada? Apakah nadaku terlalu tinggi? 
Apakah ia tidak suka warna kerudungku?
Atau apakah ibu itu sedang punya masalah keluarga? Tapi kenapa pembelinya yang kena?

Awal-awal dulu cukup heran kenapa mereka tidak tersenyum meskipun akhirnya kentang itu terbeli juga. Akhirnya lain waktu aku berpindah toko. Haha

Sama seperti Ramadhan dulu ketika pesan ayam bakar di seberang jalan. Kukira aku sudah memesan tadi, tapi ibu itu hanya diam. Diam yang sangat lama. Aku harus melakukan sesuatu sebelum adzan dan kelaparan. "Ayamnya berapaan, Bu?", "delapan ribu". Nah.

Tapi perlahan semua menjadi berbeda. Mereka yang asli Madura di kantor semuanya punya cara baiknya sendiri. Terlebih salah satu kasubsi di sana luar biasa sekali. Menolak ITB hanya untuk sebuah kursi kuliah yang sama sepertiku. Bertolak belakang denganku yang jangankan ITB, lolos ke Bintaro saja rasanya setengah hayat. 

Sebenarnya masih terlalu awal untukku bicara tentang Madura. Belum pernah ke barat dan utaranya. Belum sempat melihat api abadi seperti apa rupanya. Yang sudah adalah di sini terasa seperti rumah, sejauh ini.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Andai

Kepadamu,               Dua puluh satu tahun kami jalan dan tumbuh dengan petuah kami sendiri. Melihat, mendengar, menahan dan mengartikan semuanya sendiri. Menjadi berandal, tersesat, kemudian lama mencari-cari arah pulang kami. Lihat Mbak Ul, dia sangat keras kepala. Sekeras Ia ingin bermain padahal seharusnya tidur siang. Sekeras Ia enggan mendengarku dan menggambar-gambar petanya sendiri. Kerasnya Ia membuatnya begitu tangguh dan mampu membuatku berseragam seperti sekarang ini. Tapi  aku akan bercerita tentang Mbak Ul lain kali.  Ruangan bising sekali. Sound speaker di tengah-tengah nyaring dengan lagu-lagu acak yang membuat mereka bernyanyi. Exhaust masih mengisap putaran asap wangi-wangi tembakau dari pagi sampai pagi lagi. Suara tertawa, pantofel, bunyi klik komputer, tarikan kertas-kertas printer, dan aku malah sedih sendiri.  Punggung banyak membungkuk, paham seribu kata tapi hanya ...