“Lapor, kelas 2-09 jumlah 38, kurang tiga,
hadir 35, keterangan tiga terlambat, siap menerima materi perkuliahan.”
Aku ada di antara tiga yang terlambat itu. Selalu begitu bila kelas diadakan siang atau setelahnya. Langkahku masih sibuk
berjalan di trotoar sektor lima dengan perasaan bahwa dosen pasti akan
memaklumi. Itu adalah hal turun temurun. Kalau kelas dimulai pukul 13.20, maka
aku akan berangkat pukul 13.15. Untuk dosen-dosen tertentu, kalau kelas dimulai
13.20, maka aku akan berangkat pukul 13.20 itu juga.
Namun lain untuk dosen yang satu ini, aku tak
berani telat barang seperempat mili detikpun. Meskipun hanya gurauan, namun
kalimatnya yang mengatakan bahwa yang telat harus lompat dari lantai tiga agak
membuat prinsip telatku hilang. Suaranya yang tegas dan berkharisma itu, pernah
hilang empat minggu dan membuatku diteror oleh mereka-mereka yang bertanya,
“ada kelas nggak nanti?”, “dosennya masuk nggak?”. Begitu berulang-ulang selama
empat pertemuan.
Sehat selalu, Pak.
Buku absen kami menjadi tanggung jawab Husain.
Entah kenapa tapi dialah yang selalu mengambil buku itu di gedung akademik, tak
lupa dengan air mineral berlabel “kayak ada manis-manisnya gitu.”
Tapi, sayangnya Husain juga termasuk dari
beberapa golongan kelas yang rajin telat. Tak jarang dosen menanyakan dimana
buku absennya, dan ia baru masuk dengan kemeja biru padahal seharusnya hari itu
memakai Pakaian Dinas Harian. Saat ditanya mengapa, “masih dilaundry, Pak”
katanya.
“sombong kamu”, jawab dosen yang berwibawa
tersebut.
![]() |
| Foto kelas perdana saat pantofel kami masih tidak terlalu perlu disemir saking mengkilatnya |
Tulisan ini, meskipun ujungnya (mungkin)
direspon dengan hujatan, tapi sebelum mereka (sebelum kami) berdiri di tempat
masing-masing, sebelum aku lupa absen berapa mereka, sebelum aku lupa aib-aib
mereka, baiknya kurekam dulu di sini.
Kelas ke-9 dari 32 yang ada. Dua puluh enam
laki-laki dan empat belas perempuan. Dengan dua dari kami telah sukses dengan
jalannya masing-masing.
![]() |
| Foto beserta nama-namanya. Silahkan di-zoom untuk membacanya. Farhan ada, tapi dia yang memfoto kami. |
1.
Agni Hasmara Wrihatnala (Semarang)
Lebih diingat sebagai Bobi yang kepanjangannya
patut disensor untuk blog ini. Pebasket panutan, tinggi besar yang biasa
membawa kotak-kotak jajanan danusan dan berakhir ia makan sendiri beberapa.
Ujungnya semua nama di kelas ia panggil demi mencari siapa-siapa saja yang
dengan jujurnya mengambil gorengan tanpa membayar.
2.
Ahmad Ali Widodo (Bengkulu)
Saat kulihat kesenjangan yang ada pada dirinya
dibanding dengan teman satu daerahnya yang sekarang menjadi ketua angkatan, aku
hanya berakhir diam. Agaknya ada formula tersendiri untuk mengerti bahasa yang
ia ucapkan meskipun terdengar sama-sama bahasa Indonesia. ia sering
memutarbalikkan subjek menjadi obyek, predikat menjadi keterangan, dan
keterangannya tidak ada.
3.
Ana Kartika Sari (Bojonegoro)
Ah, yang ini. Yang paling kuingat darinya
adalah ia sering salah memanggil orang. Semua yang dilihatnya tinggi besar
seakan-akan terlihat seperti Bobi. Pernah beberapa kali ia memanggil orang
dengan percaya dirinya, dan berakhir benar bahwa dia salah orang, membuat siapa
saja yang berjalan bersamanya saat itu bingung mau diselipkan dimana wajahnya.
Tika yang salah orang, tapi kami yang malu. Selalu begitu.
4.
Andri Kurniawan (Klaten)
Salah satu teman pulang ke kosan. Kosnya lebih
jauh di ujung jalan sana. Saat mood-nya sedang ingin berjalan, ia jalan. Saat
bensinnya sedang baik, ia lebih memilih motornya. Tak jarang ia melewatiku
‘begitu saja’ ketika di jalanan. Tanpa melihatku yang beberapa kali berganti
tisu demi menyeka keringat karena berjalan kos-kampus.
5.
Audrey Emmanuela Meilovesky Boru Ginting
(Jakarta separo Medan)
Juga salah satu teman pulang ke kos, akrab
disapa Cinta Langit saat masih perkenalan dulu karena namanya yang hampir
seperti judul lagu. Ia tinggi, dan gaya berjalannya seperti hampir ketinggalan
kereta pagi. Salah satu HPD makrab dan HPD kelas yang tak jarang kuharap
handphone-nya hilang saja karena saking banyaknya aib di situ. Akrab dengan
ikan teri medan, padahal jarang pulang ke sana. Sekali pulang langsung beli
koper baru ya, Dre?
![]() |
| Diambil setahun lalu saat momen senior PKA wisuda. Tahun ini giliran kami. |
6.
Aulia Regina Deyani Jelita (Magelang)
Sering ketika berpapasan dengannya yang tengah
berjalan dengan seseorang dari jurusan sebelah, aku dan kawan yang lain
mendadak bernyanyi, “biar.. hujan.. turuun lagi. Di bawah payung hitam
kuberlindung”. Yang kutau ia alumni paskibra sekolahnya dulu. Bila di kelas
terdengar “sstt” dan “sssssssssttttttt” yang lebih panjang lagi saat kelas
sedang gaduh-gaduhnya, maka itu adalah suaranya.
7.
Billie Dewa Surendra Adi Wangsa (Jombang)
Yang satu ini namanya seperti tokoh paduka jaman
kerajaan di channel ketiga televisiku.
Satu-satunya yang berasal dari daerah yang sama di kelas. Pernah kudengar
seseorang berkata bahwa meskipun badannya tinggi besar tapi dia yang paling
sering tumbang di antara laki-laki kelas yang lain. Pernah juga aku
mendapatinya ditolak donor darah karena kedapatan meneguk obat diare
sebelumnya. Namun ia adalah salah satu yang paling riwa-riwi di kelas.
Mengurusi ini itu dan sebagainya. Survey makrab, kaos angkatan, buku
perpustakaan, dan banyak lagi. Karena kontrakannya yang paling dekat dengan
kampus, tak jarang ruang tamunya menjadi pengungsian sementara barang-barang
kelas kami. Karena berasal dari kota yang sama, dialah yang paling sering
mengatakan padaku untuk kumpul organda. Dan aku lebih sering lagi untuk
pura-pura tidak mendengarnya. Maaf maaf
8.
David Ridwan Silalahi (Klaten)
Silalahi memang, namun jawa punya. Tidak akrab
dengan bahasa batak, justru ia malah berbahasa jawa sepertiku. Paling bersih di
antara para lelaki kelas lainnya. Paling lurus pemikirannya. Dan paling serius
ekspresinya. Semoga ia tetap baik di tahun-tahun selanjutnya sebagai
penyeimbang bila ada lelaki-lelaki seperti beberapa di kelas kami. Aku tidak
tau banyak tentangnya karena saking bersihnya seorang David.
9.
Deodatus Dhaniswara Agung Dianthara
(Kulonprogo, DIY)
Jogja negro kata mereka. Sama dengan Andri dan
Odre, dia adalah orang terakhir yang pulang ke arah kosan yang sama. Pernah
saat aku membuat masalah tahun lalu, dia yang paling diganggu hidupnya karena
gang kosnya paling dekat dengan kosku. Katanya waktu itu dia meninggalkan makan
malam pecel lelenya sampai mengering demi menghampiri apakah aku ada atau tidak
di kosan. Mereka bilang ia ini pendiam, tapi tidak bagiku.
10.
Dimas Alfito (Lampung)
Ia adalah danton di pletonku dulu. Satu kelas
pula. Betapa bosannya masa-masa tahun lalu. Bukan dimas panggilannya, tapi
‘Lampung’. Entah ada unsur apa di panggilan barunya itu yang jelas aku hanya
ikut-ikutan saja. Mungkin karena banyak begal mudah ditemui di sana.
Selebihnya, aku tak tau. Kata yang lain, bila ada nominasi ternyolot kedua di
kelas, maka itu cocok untuknya.
11.
Dzulham Faruq Rifqi Wardana (Surabaya)
Dzul adalah salah satu figur yang menjadi
contoh manusia yang taat dengan ibadahnya juga taat dengan dosanya. Ia cukup
membuatku tak kaget lagi bila hampir semua nilainya A. hobinya menggambar.
Kulihat di lembar-lembar terakhir bindernya ada beberapa anime tanpa mata. Saat
kutanya kenapa, ngeri saja katanya. Seolah-olah gambarannya itu memelototinya.
Ia satu-satunya lelaki di kelas yang satu organisasi rohis denganku. Yang
paling kami, ditambah dengan Fatma, senangi adalah absen kelas karena mengikuti
event rohis namun tetap dianggap hadir karena ada Surat Tugas. Anggota rohis
lainnya, Ulfah, syukurnya lebih lurus pikirannya daripada kami.
12.
Elfira Syahratul Hikmah (Kebumen)
Kulihat, dia hampir sama denganku. Sama-sama
suka memakai setelan hitam. Suara nge-bassnya itu sering diminta untuk
bernyanyi tapi selalu tak ia sanggupi. Satu geng dengan Winaning dan Aul ketika
mencari kupon takjil saat Ramadhan. Beberapa kali aku ikut bergabung di
An-Nashr dengan mereka. Adzan maghrib, sholat, mau ada kupon atau tidak, nasi
kotak harus ada di tangan. Lalu pulang.
![]() |
| Ketika warna baju kami hanya hitam dari atas ke bawah |
13.
Fathinah Ulfah (Sumbawa)
Ia mendapat nominasi ter-cintai di kelas.
Mungkin karena ia selalu muncul di grup untuk merespon ketika ada mereka yang
bertanya. Sangat berbeda dengan mereka, denganku juga, yang memilih menjadi
silent reader dan mengutamakan prinsip keep scrolling. Yang satu ini sangat
kuat hafalannya. Pasal-pasal dan teori yang beranak cabang-cabang baru di
bawahnya ia hafal habis. Sering memotret materi di layar ketika penglihatannya
tak sampai. Namun, aku sangat ingat dengan suara kameranya yang memecah
keheningan itu. Kemudian ia langsung tersenyum tipis sebagai isyarat “maaf ya
kameranya sudah ditakdirkan untuk bersuara”. Ia lebih akrab dipanggil Upe. Ia
adalah salah satu yang menyelamatkan kami ketika kelas mulai oleng, semua
memilih menunduk atau sengaja memakai headset lalu tiba-tiba dosen bertanya:
ada pertanyaan?. Lalu Upe-lah yang bertanya.
14.
Fatma Hidayani Damanik (Pematangsiantar)
Fatem akrabnya. Pertama kali bertemu di tribun
Student Center dalam kondisi sama-sama mengantuk dan sama-sama membatin kenapa
narasumber di depan bisa lama sekali. Terkadang saat kubuka galeri handphoneku,
kudapati album WhatsApp penuh. Penuh dengan segala hidupnya perihal jodoh yang
ia laporkan padaku detail-detailnya dan secara otomatis tersimpan di galeriku.
Anehnya, cerita kami hampir sama. Semoga kau bersama dengan pilihanmu itu ya.
Yang satu ini, sudah khatam dengan segala cara mengatasi jerawat di pipi dan
dahi. Ia adalah kawan komplotan serong denganku. Ikut acara ini itu, kesana
kemari, menjadi ini itu, oke oke saja yang penting harus ada Surat Tugasnya.
Yang selalu denganku saat mencari sarapan dan makan siang di warung Jatim (yang
kini kami pindah haluan ke warung entah apa namanya). Lalu berakhir dia
mengomentari harga-harga semua lauk-pauk dengan sangat detail. Berbeda denganku
yang makan, bayar, lalu menyesal.
15. Firmansyah Majid (Ponorogo)
Pernah
waktu itu ia sempat menggunakan bantuan kruk untuk berjalan karena cedera saat
memeragakan Tari Reog di suatu acara besar. Yang seharusnya menuruni tangga
hanya sekitar tiga menit, bisa melebar sampai lima belas menit bila di depanmu
ada dia. Salah satu barisan orang-orang yang bertakwa dan teraniaya, terlebih
bila bersebelahan denganku saat mata kuliah Identifikasi dan Klasifikasi
Barang.
16. I Gede Ramdani Ari Gunada (Tabanan,
Bali)
Setelah
usai dengan grup boyband-nya, sepertinya ia banting setir ke jalur Stand Up
Comedy. Ia mirip dengan Bastian Steel katanya. Memang benar kini ia setahun di
Jawa, tapi logatnya tetap fasih. Saat kami berpikir keras tentang teori-teori
ujian dan hampir menemukan jawaban, jawaban itu akan segera hilang karena Gede
memecah konsentrasi dengan bertanya pada pengawas ruangan, “Bu, waktu lagi berapa menit?.”
17. Ima Rahma Pita Sari (Sragen)
Kalau
ciri khasku adalah telat yang membudaya, maka yang harus aku hindari adalah
Ima. Ia salah satu figur wanita tegas dan tak ada kompromi bila benar-benar
terbukti salah karena ia salah satu anggota Kepatuhan Internal. Tapi ia juga
seorang yang peduli. Pernah ketika pantofelku tertinggal di kos lama dan waktu
sudah larut, ia membantu mencari pantofel pengganti. Ah, padahal sebenarnya itu
bisa kujadikan alasan skip apel, Im.
18. Insan Shodiqul Wa’di (Cianjur)
Ia
sudah terlatih untuk tidak emosi saat mereka-mereka menyebutnya sebagai tetua
dan senior di kelas. Kalau kelas lain khawatir dan mulai menghubungi teman
mereka yang belum datang saat ujian akan dimulai, tak masalah dengan Insan.
Pasang ekspresi tenang dan ia akan datang dengan sendirinya. Rekor mahasiswa
ter-telat di kelas masih ada padanya.
19. Iqbal Andhika Kurniawan (Purbalingga)
Aku
sepakat bila mereka mengatakan bahwa Iqbal mirip Gru di film Despicable Me.
Sepertinya ia punya kata mutiara untuk para psytrap di kelas. Padahal tanpa
kami sadari, dialah psytrap yang sebenar-benarnya. Selamat ya Bal atas IP-mu di
semester dua.
20. Jeremia Tota Jordan Lumban Tobing
(Medan)
Ia
punya gelar “ter-noob” di depan namanya bekas kenang-kenangan makrab kapan
lalu. Taktik intelnya canggih sekali, terlebih saat minggu-minggu mendekati
ujian. Kalau perempuan yang demam panggung di kelas adalah aku, maka yang
laki-laki adalah dia. Pernah kelompok Pancasilanya menyuguhkan suatu drama tapi
perannya hanya berdiri lalu berjalan. Agaknya ia berbakat menjadi stuntman.
![]() |
| Project Music Video --- Jaket baru |
21. Kevind Audia Yudhistira (Padang)
Yang
paling kuingat darinya adalah ia hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit
untuk mengerjakan soal ujian SAPKC. Termasuk yang berkontribusi di kelas dan
aktif mengikuti kepanitiaan. Paling berisik dan membuatku berlatih bagaimana
caranya sabar karena tak terhitung lagi berapa kali ia menepuk-nepuk gulungan
kertas di kepalaku. Menjadi penanggung jawab mata kuliah Etika dan Anti Korupsi
bersama Nasya, tapi anehnya ia selalu mencari bangku paling strategis di
belakang. Pembaca yang budiman pasti tau kenapa.
22. Linada Nasya Rahmadhanny (Tangerang
Selatan)
Yang
satu ini anehnya tak tau dan tak paham bagaimana cara mengekspresikan rasa
marah. Ketika kesal hanya diam. Diam. Lalu menangis. Entah bagaimana caranya ia
bisa bertahan belasan tahun di bumi yang keras ini dengan sikapnya. Ia cukup
murah hati dan gampang memberi bantuan. Kasian sekali ia ketika sudah tiga
puluh menit di jalan dari Pamulang demi apel pagi tapi ternyata sampai di
tempat apelnya ditiadakan. Suaranya mudah diingat. Kecil tipis melengking seperti
squishy terinjak. Panjang umur, Nas.
23. Luthfi Arwitama Bakti (Boyolali)
Kesan
pertama sepertinya ia pendiam, naif, dan polos. Tapi saat perkenalan dulu ia
bilang dari kuning, hijau, dan merah, ia mengatakan statusnya sudah merah. Wih.
Penanggung jawab mata kuliah Fasilitas Kepabeanan bersama Aul. Apapun yang
berhubungan dengan mata kuliah itu, entah menyusun kelompok presentasi, entah
mencari RPS, atau merangkum materi, semua akan langsung menoleh padanya. Contoh
penanggung jawab mata kuliah teladan yang mungkin dia kapok akan itu.
![]() |
| Biru baru |
24. Milka Jeges Tukot Masihor Boru
Sihombing (Medan)
Saat
sebagian besar memilih tidur di tengah-tengah kelas, kau akan mendapati Milka
fokus ke meja dan membaca.. komik. Selalu membawa handphone Samsung mininya
yang dengan eloknya hanya digunakan sebagai alarm. Dulu masih lumayan,
dimanfaatkan untuk menghubungi Dosen Pengantar Cukai. Itupun ia selalu
menghubungi pukul satu dini hari. Pesan untuk para teman kantornya nanti,
sebaiknya kalian jangan berdiri di sebelahnya saat apel. Milk, diet.
25. Muhammad Farhan Azhari Perangin Angin
(Palembang)
Awalnya
aku (dan yang lain juga) tak percaya kalau ia kelahiran tahun 2000. Sosok
teknisi kelas yang akrab dengan menyalakan proyektor dan sound yang bermasalah.
Tapi sejarah teknisinya tak selalu mulus. Dulu ketika sound bermasalah saat
mata kuliah Bahasa Inggris, ia hampir berkutat 45 menit dengan kabel di depan
kelas. Kata Ma’am Efi, “Are you okay?”
26. Muhammad Haryo Gumilar (Banten)
Kapten
kelas yang ditunjuk secara aklamasi saat awal perkenalan dulu. Kesan pertama
seperti berwibawa. Sekarang.. tetap berwibawa. Hehe. Postur tinggi tambun yang
sekali makan Indomie langsung dua bungkus saat makrab. Mempunyai keahlian yang
semua anak kelas pasti tau.
27. Mustofa Husain Nusantara (Sragen, Jawa
Tengah)
Bicara
tentang buku absen berarti bicara tentang Husain. ia pribadi yang sangat
‘alon-alon asal kelakon’ menurutku. Saat di kelas duduknya tegak tapi matanya
turun. Ia seperti bisa tertidur dimanapun dan kapanpun. Entah tidurnya itu
hanya aksi, yang jelas meskipun ia tertidur ketika kelas sedang presentasi, di
akhir nanti ia akan mendadak bangun dan mengajukan pertanyaan yang berat
levelnya. Dan tentu saja mengesalkan.
![]() |
| "Sambelnya lagi dong!" -Sufi |
28. Nadia Hapriliani (Pemalang, Jawa Tengah)
Ah,
berada satu nomor setelahnya rasanya aku ingin mengganti huruf depan namaku
menjadi Z saja. Mata kuliah Administrasi Perbendaharaan Kepabeanan dan Cukai ia
duduk di sebelahku. Yang dengan anehnya membuat forum chat offline di kertas
dan memaksa semuanya ikut bergabung secara diam-diam. Ujian, ia di belakangku.
Begitu saja selama setahun. Aku mulai percaya bahwa MSG tak mempengaruhi otak
karenanya. Entah karena tak tega atau memang murni doyan, ia menghampiri satu
persatu abang cimol di jalanan PJMI. Tapi ternyata ia tetap lancar dengan
nilai-nilainya.
29. Raficha Fachryna Illyyn (Jombang)
Selalu
sabar dan bahagia.
30. Refangga Lalang Raynalfi (Probolinggo)
Kalau
di kananku ada Nadia, untungnya di sebelah kiriku Ref. Paling tidak bisa
berpose dengan teman-teman perempuan di kelas karena setianya. Ya, karena
setianya. Hahaha
31. Rezki Novrizal (Pekanbaru)
Golongan
orang baik-baik yang tak pernah protes bila mengerjakan tugas kelompok.
Beberapa kali tertangkap tengah ‘dinas luar’ di area kampus. Juga salah satu
yang mudah sekali tertidur. Kelas SAPKC ia hanya fokus dengan komputernya
karena mahir dengan coding.
32. Rezky Amalia Shaleh (Makassar)
Saat
kelas SAPKC ia sering bermain menggunakan komputerku. Mulai dari mencari rumah
kosnya melalui Google Earth sampai menjawab soal-soal tes psikologi. Alasannya
memakai komputerku adalah karena barisan komputernya kurang strategis dan lurus
langsung ke arah Dosen. Ekky paling sering mengedarkan cemilannya ke sudut
kelas meskipun akhirnya cemilan itu tak pernah kembali.
![]() |
| Isi kadonya: sticky notes, sendal jepit, mug, dan peranakannya |
33. Saiyidah Sufi’ana (Pasuruan)
Partner
guardian angel-ku ini tak cukup bila kisah-kisahnya ditulis satu halaman. Aku
cukup khawatir dengan masa depannya yang bahkan ketika naik motor saja ia bisa
mabuk, apalagi mobil dan bus. Wujud yang mudah lelah dan lapar. Harus cukup
sabar bila berjalan atau naik tangga dengannya karena ketika ia baru sampai di
anak tangga yang ketiga, kau bisa memanfaatkan waktumu untuk beli roti di
parma, menanak nasi, atau bahkan tidur dulu. Contoh pribadi kreatif yang
berfoto di air mancur kampus tapi memakai almamater ITS. Saat pemesanan kaos
polo, ia memilih yang tidak seukuran dengannya. Bila ditanya kenapa, jawabannya
“biar bapakku bisa pake”. Terharu.
34. Sectio Margicahya (Jakarta)
Pemegang
gelar “Ter-tawa” di kelas. Adik tingkat SMA Awkarin ini pernah suatu hari ditegur
oleh Dosen Adm. Perbendaharaan KC karena kedapatan ngemil di tengah
kelas. Sebenarnya ia mendapat butiran MSG itu dariku. Dan sebenarnya aku juga
mendapatkan itu dari Sufi. Maaf ya, io. Ia satu divisi konsumsi denganku saat
Makrab. Tapi agaknya aku lupa apakah ia dulu mengerjakan tugasnya dengan
berdedikasi atau tidak. Sectio juga salah satu mahasiswa di kelas yang luas
wawasan agamanya.
35. Sindhu Rizky Santoso (Karanganyar,
Jawa Tengah)
Sindhu
mempunyai ekspresi terdatar di kelas. Bahkan ketika mendengar lawakanpun ia
hanya akan tertawa secukupnya. Ia juga salah satu yang paling jarang nampak di
grup. Sekali muncul yang lain pasti merespon begini, “‘tumben muncul”.
Posturnya yang jangkung membuatnya otomatis terpanggil saat harus menyalakan
proyektor dan menarik layar proyektor yang tergulung sampai atas. Ia adalah
anggota divisi HPD makrab yang paling tidak neko-neko. Beda dengan Odre,
apalagi Milka.
36. Winaning Suminar Putri (Yogyakarta)
Entah kenapa ia memperkenalkan nama panggilannya sebagai 'i ar'. Awal
dulu, Winaning berbicara bahasa Indonesia tetap dengan aksen Jogjanya. Tapi
meskipun begitu ia tetap saja berkali-kali menginginkan jawaban ‘Iya’ ketika ia
bertanya, “logatku juga udah kayak orang Jakarta, kan?”. Meskipun
begitu, ia seperti hilang Jogjanya ketika berbahasa Inggris. Luar biasa. Karena
ia adalah seorang Bendahara kelas, beberapa kali ia mencoba menagih
tunggakan-tunggakan di grup Line. Begini respon mereka yang membacanya:
“ngirim
apa sih ning. Gak kebaca”
“akhir
bulan nihh”
“Yar,
tulisanmu ngeblur..”
Daerahnya minim sinyal katanya. Selain itu baru beberapa waktu yang lalu ia
kehilangan handphone. Pas sekali seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.
![]() |
| Paling kanan: Isyana versi reinkarnasi ke-8 |
37. Yosner Febrian Sagala (Tangerang)
Salah
satu teman Batak-ku yang lain bilang, Yosner harus merasakan setidaknya sekali
saja hidup jauh dari rumah. Coba saja bila ia ke Medan tetap dengan cara
bicaranya itu, bisa kena hajar katanya. Pernah beberapa kali ia bilang bahwa ia
bisa saja sewaktu-waktu mengurangi poinku. Saat kutanya apa alasannya, “melawan
atasan,” dia bilang. Bisa begitu rupanya.
Dulu
ia juga sering menunjukkan jari-jari lecetnya karena terlalu lama push up dengan posisi tangan mengepal, dan
aku lebih sering lagi mengatakan padanya bahwa aku tidak peduli. Tapi, Yosner
dengan bentuknya yang seperti itu untuk sebentar saja pernah meminjamkan
pundaknya pada Winaning yang tertidur karena lamanya prosesi Wisuda. Saat apel,
ketika teman-teman di barisan menyanyikan lagu wajib dengan merdu, aku akan
langsung menangkap suara sengau dari arah belakang. Ia selalu menyanyi dengan
caranya sendiri. Padahal, saat kelas di Gedung D dulu ia sempat bernyanyi yang
untuk sekian menit kukira itu lip sync saking bagusnya. Tapi ternyata benar itu
adalah suaranya. Tapi kenapa saat apel cara bernyanyinya begitu, ya?
38. Zefanya Riahdo Saragih (Pematangsiantar)
Suatu
dulu ia berjalan searah denganku, Odre, Andri, dan Dhanis ke Pondok Jaya. Saat
itu kelas malam baru selesai dan sayangnya hujan. Ketika musim hujan, aku
jarang membawa payung karena paham bahwa yang lain pasti membawanya. Jadilah
aku sepayung berdua dengan Odre. Tapi kali itu, Zef meminta bagian payung kami.
Tak perlu ditanya kenapa ia malah ke Pondok Jaya dan bukan ke kosnya. Apalagi
kalau bukan bertamu padanya yang beberapa kali tertangkap tengah makan bersama
di ayam geprek Widarakandang.










Uhuyyy bu iyin
BalasHapusHujat tidak yaaa
BalasHapus