Langsung ke konten utama

Hijab


14:35 siang, dengan aku yang malas membuka gorden.

Tulisan kali ini isinya lebih berat.
Kubilang berat karena tidak biasanya aku mau membahas sesuatu di luar kelas otakku yang serba ringan. Pergi beli kangkung, motoran saja. Malas fotokopi, print grayscale saja di rumah.

Namun kali ini otakku setidaknya harus sedikit digunakan. Setelah sekian lama ia berbaring, aku khawatir ia sudah lupa caranya bangun. Aku khawatir ia mulai berternak laba-laba dan mengoleksi sarangnya.

Pukul enam pagi waktunya ‘Morning Show’, nanti ada acara ‘Saliha’. Kemudian ‘Pagi-pagi’ dilanjut dengan ‘Sarah Sechan’. Bahaya, aku sudah mulai hafal urutan program TV.
--------------------

Semua kalimat di bawah tidak hanya untuk para saudariku, tapi juga untukku.
Bukan menggurui, karena jangankan guru, aku wisuda saja belum.

Salut untuk mereka yang sedikit mulai berani berjalan ke kanan. Melihat mbak-mbak selebriti itu menceritakan kisah hijrahnya, aku kagum. Kagum yang ‘tidak nyambung’ karena aku tidak bisa memaksa merasakan apa yang mereka rasakan.



Kalau mereka merasa menyesal kenapa tidak memakai hijab dari dulu-dulu, maka rasa menyesal itu tidak sampai padaku karena hijab sudah terpakai sejak sebelum masa remaja dimulai. Tentu dengan kain ‘saringan tahu’ yang warna-warni.

(lalu di tengah-tengah begini aku sudah mulai berkabut tentang apa yang sebenarnya akan dibahas)

(oh, aku sedikit ingat)

Sedikit cerita tentang jilbab dari sudut gang masjid:

Mulai SMP, sekolah mewajibkan untuk memakai jilbab. Awalnya itu hanya opsi, karena kakakku yang juga alumni dari sekolah itu juga tidak berjilbab dulu. Lama kelamaan opsi itu menjadi sebuah kewajiban yang ditekankan oleh guru PAI di sekolahku. Masih jelas sekali tentang siswi baru yang memang cantik pula dia, harus mencari jalan yang dirasa aman dari guru PAI karena ia tak mau ketahuan masih berjalan dengan rambutnya itu.

Sama sebenarnya.

Bagiku hari jilbab hanya ada saat sekolah dan ke TPQ. Selebihnya dilepas. Tiap pagi membeli sayur juga aku tak memakainya. Baru benar-benar kupakai seharian saat hari besar seperti Idul Fitri dan lebaran kambing. Begitu terus sampai kelas tiga.

Kelas tiga, entah apa yang terpikirkan waktu itu, tapi aku mulai berjilbab entah di sekolah ataupun di rumah. Jadilah aku bertemu ibu sayur mayur dengan keputusan baruku itu.

(sekarang aku bingung lagi)

Mungkin maksudku begini, sulit rasanya mencari islam di rumah sendiri. Di sini hanya ada islam adat istiadat. Kalau mengaji ya harus memakai jilbab, lebaran juga harus berjilbab, barulah ketika sekadar menyapu halaman atau membeli detergen di warung kau tak perlu memakainya. Begitu kira-kira doktrin turun temurun di tempatku. Dan tentunya di tempat-tempat lain.

Banyak pelajar negeri seperti mbak ‘G’ misalnya, mahasiswi kimia di jerman asal Jakarta yang memutuskan berhijab ketika di Negara tetangga. Bukan ketika di rumah sendiri. Karena sulit untuk mencari yang benar ketika di lingkungan sudah ada aturan tak tertulis yang telah dianut.

Islam di sini memang begitu. Kalau islam ya sholat, puasa ya puasa. Banyak yang tidak memakai jilbab karena memang banyak islam-islam di luar sana yang tidak memakainya –mbak ‘G’

Lebih gawatnya, mereka (dan aku juga) tidak tau bahwa itu salah.

Untukmu yang masih mencari yang benar, bukan pembenaran, berhijablah.

Tidak perlu harus lancar mengaji dulu. Tidak perlu harus mengenal islam lebih dalam dulu. Karena hijabmulah yang akan mengantarmu perlahan-lahan.

“percuma pakai hijab, toh kelakuannya sama saja”

“lebih baik mana, berhijab tapi munafik atau tidak berhijab tapi baik-baik saja?”

Tidak ada yang lebih baik.
Yang satu benar di hijabnya tapi salah di sifatnya, dan yang satu salah di tidak berhijabnya dan benar di sifatnya.

Alasan lain takut berhijab adalah lingkungan. Bagaimana ketika kita yang biasanya awur-awuran lalu mengagetkan yang lain dengan tiba-tiba berhijab. Kemudian karib-karib kita mulai perlahan menjauh. Diawali dengan tidak hang out bareng lagi, tidak begini lagi, dan tidak begitu lagi.

Tak apa.

Tanpa disadari, hjabmu membuat filter tentang siapa-siapa saja yang aman bila dekat denganmu. Mendadak menjadi alarm tentang sikapmu. Kamu yang dulu berani begini, tidak lagi semenjak sudah berhijab. Tidak ada cerita berhijab tapi datar-datar saja. Berhijab ya berhijab, sudah. Tidak.

Pasti ada perubahan. Rasa malumu akan semakin tinggi, risihmu akan meningkat. Karena dengan berhijablah kau mengingatNya. Dan rumusnya adalah, ketika kau mengingat Allah, maka Allah akan mengingatmu. Ia akan melindungimu dengan janjinya.

Kalau mau berjalan, maka diawali dengan memakai alas kaki.
Kalau mau mencari kebenaran, maka awali dengan berhijab.



Berpikir nian aku kali ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...