Pagi terindah adalah bangun dari tidur dan tidak bertemu dengan ketakutan apapun. Tidak takut telat sekolah karena aku belum sekolah juga tidak buru-buru memasak di dapur karena aku masih kecil. Tidak ada takut untuk bertemu manusia, pun tidak takut untuk bicara dengan siapapun. Kalau ada pertanyaan besar yang sulit atau pertanyaan kecil yang membosankan, aku bebas melamun atau memilih untuk tidak menjawab. Bagi mereka, “ah, biasalah. Namanya juga anak kecil.”
Saat itu aku punya banyak waktu
untuk mengamati sesuatu. Seluruh waktuku dalam sehari hanya tentang harus
menunggu. Menunggu untuk dipanggil mandi, menunggu untuk harus makan, menunggu
untuk berangkat mengaji sore, dan menunggu untuk disuruh tidur. Aku punya
banyak waktu untuk bermain dan berbicara, tapi sayangnya aku tidak tau harus
dengan siapa.
Semua orang dewasa bergerak
kesana sini dari pagi. Kadang mereka terlihat tertawa tapi juga lebih banyak
terlihat serius dan menakutkan. Kakakku juga tidak ada. Ia sekolah dan kemudian
pergi dengan kawannya untuk bermain entah apa sampai hari sudah benar-benar
siang. Akulah yang paling kecil di barisan rumah-rumah ini. Kadang aku menjemput
temanku yang sedikit lebih tua di rumahnya tapi seringkali Ia juga tidak ada. Kadang
aku ikut bermain dengan kakakku berkeliling di jalanan mengambil bunga-bunga
liar tapi aku tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Suatu hari aku membaca tulisan-tulisan
tangan di kertas buku milik kakakku. Aku melihat hurufnya, membaca tulisannya,
dan mendengar isi kepala yang ia tulis beberapa waktu yang lalu. Beberapa saat
kemudian aku menyadari bahwa buku dan pena bisa jadi ide bagus untuk menjadi
teman bicara. Bebas untuk memilih warna tintanya, menulis segala macam cerita, tidak
ada yang tau, dan tidak ada yang tersinggung. Lama, sampai lama dan aku hanya
menulis saja lalu menjadi payah dalam hal bicara dan bercerita.
Melewati jalanan yang sama,
membaca semua menu namun memesan makanan yang itu-itu saja, berjalan melewati
gang sepi, mencari meja di perpustakaan, semua lebih banyak kulakukan sendiri.
Tidak banyak teman yang tertarik dengan rutinitasku yang membosankan dan sama
sekali tidak menantang.
Hingga suatu hari ketika aku
sedang punya banyak waktu, aku melihat foto-foto mereka tertawa dan mendengar
cerita-cerita seru tentang tempat baru yang terus dibahas dan diulang-ulang. Kenal
beberapa orang yang mampu menjelaskan maksudnya dengan tepat dan mudah
dipahami, dan tau orang-orang yang selalu mencari kawan makan dan tidak biasa
kemana-mana sendiri.
Semua sepi sampai tiba-tiba aku mulai menyadari sesuatu bahwa anak kecil dengan kertasnya itu tidak pernah benar-benar tumbuh dan membuka pintu. Ketika Ia ingin mencoba berani dan mengamati lampu jalanan di depan, semua terasa sudah terlambat. Para pria yang tertawa dan bicara dengan logat-logat baru serta jalanan terang terlihat lebih menyeramkan dibanding gang sempit dengan lampu redup dan sepi. Anak kecil itu tidak pernah benar-benar berani bicara ketika merasa mata-mata mereka meragukan cerita dan terlihat enggan mendengarnya. Setelah beberapa lama, anak kecil itu memutuskan untuk selalu tidak berani dan terus berada di belakang pintu. Hanya semakin besar, namun tidak pernah benar-benar tumbuh. Semakin hari dunia membawanya semakin jauh, semakin ramai, dan semakin menakutkan. Anak kecil itu bertemu banyak orang, bingung, ketakutan, dan menjadi lebih sering menangis.
Ia seperti mengajariku cara
memakai sepatu. Tak apa sesekali tidak ditali dan tak apa jika sesekali ingin dilepas. Tak
apa menjadi berbeda dan kadang seru juga menjadi sama seperti yang lainnya. Perlahan
aku sadar bahwa aku juga bisa memilih. Bisa menjadi berani, tenang, bisa
melawan, atau mungkin memilih diam.
Ia bertanya mau kemana lagi
setelah ini,
Ia bertanya sedang ingin makan
apa kali ini,
Serasa uang dan tenaganya tak
akan pernah ada habisnya.
Padahal garis wajahnya hari
ini bukan seperti yang pertama aku kenal dulu. Jauh lebih lelah dan jauh lebih
payah.
Ada ayah ibu yang membutuhkannya
juga, ada berbagai hal yang seringkali tidak terduga, tapi Ia tak pernah
benar-benar menghibur dirinya sendiri. Ia tak pernah benar-benar pergi kemana
sendiri. Ia tak pernah membeli makanan utuh dan mahal untuknya sendiri. Aku tak
pernah benar-benar melakukan suatu hal berharga untuknya sampai Ia harus memberikan
segalanya untukku. Panas tidak sampai kepadaku dan hujan juga tidak membuatku
basah. Aku nyaman di rumah dan bercanda dengan putriku. Tidak lagi perlu
sembunyi dari petinggi dan tidak perlu takut pada rekan kerja. Makanan selalu
ada dan bajupun tak pernah kurang.
Aku benci ketika suaraku
menjadi sesekali lebih tinggi. Malu untuk bercerita bahwa aku juga ingin
menjadi seperti mereka. Ketika kuingat dan kuulang lagi, ternyata aku jahat
sekali.
Doa terbaik untukmu, selalu.

Komentar
Posting Komentar