Langsung ke konten utama

Tumbuh

Pagi terindah adalah bangun dari tidur dan tidak bertemu dengan ketakutan apapun. Tidak takut telat sekolah karena aku belum sekolah juga tidak buru-buru memasak di dapur karena aku masih kecil. Tidak ada takut untuk bertemu manusia, pun tidak takut untuk bicara dengan siapapun. Kalau ada pertanyaan besar yang sulit atau pertanyaan kecil yang membosankan, aku bebas melamun atau memilih untuk tidak menjawab. Bagi mereka, “ah, biasalah. Namanya juga anak kecil.”

Saat itu aku punya banyak waktu untuk mengamati sesuatu. Seluruh waktuku dalam sehari hanya tentang harus menunggu. Menunggu untuk dipanggil mandi, menunggu untuk harus makan, menunggu untuk berangkat mengaji sore, dan menunggu untuk disuruh tidur. Aku punya banyak waktu untuk bermain dan berbicara, tapi sayangnya aku tidak tau harus dengan siapa.

Semua orang dewasa bergerak kesana sini dari pagi. Kadang mereka terlihat tertawa tapi juga lebih banyak terlihat serius dan menakutkan. Kakakku juga tidak ada. Ia sekolah dan kemudian pergi dengan kawannya untuk bermain entah apa sampai hari sudah benar-benar siang. Akulah yang paling kecil di barisan rumah-rumah ini. Kadang aku menjemput temanku yang sedikit lebih tua di rumahnya tapi seringkali Ia juga tidak ada. Kadang aku ikut bermain dengan kakakku berkeliling di jalanan mengambil bunga-bunga liar tapi aku tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Suatu hari aku membaca tulisan-tulisan tangan di kertas buku milik kakakku. Aku melihat hurufnya, membaca tulisannya, dan mendengar isi kepala yang ia tulis beberapa waktu yang lalu. Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa buku dan pena bisa jadi ide bagus untuk menjadi teman bicara. Bebas untuk memilih warna tintanya, menulis segala macam cerita, tidak ada yang tau, dan tidak ada yang tersinggung. Lama, sampai lama dan aku hanya menulis saja lalu menjadi payah dalam hal bicara dan bercerita.

Melewati jalanan yang sama, membaca semua menu namun memesan makanan yang itu-itu saja, berjalan melewati gang sepi, mencari meja di perpustakaan, semua lebih banyak kulakukan sendiri. Tidak banyak teman yang tertarik dengan rutinitasku yang membosankan dan sama sekali tidak menantang.

Hingga suatu hari ketika aku sedang punya banyak waktu, aku melihat foto-foto mereka tertawa dan mendengar cerita-cerita seru tentang tempat baru yang terus dibahas dan diulang-ulang. Kenal beberapa orang yang mampu menjelaskan maksudnya dengan tepat dan mudah dipahami, dan tau orang-orang yang selalu mencari kawan makan dan tidak biasa kemana-mana sendiri.

Semua sepi sampai tiba-tiba aku mulai menyadari sesuatu bahwa anak kecil dengan kertasnya itu tidak pernah benar-benar tumbuh dan membuka pintu. Ketika Ia ingin mencoba berani dan mengamati lampu jalanan di depan, semua terasa sudah terlambat. Para pria yang tertawa dan bicara dengan logat-logat baru serta jalanan terang terlihat lebih menyeramkan dibanding gang sempit dengan lampu redup dan sepi. Anak kecil itu tidak pernah benar-benar berani bicara ketika merasa mata-mata mereka meragukan cerita dan terlihat enggan mendengarnya. Setelah beberapa lama, anak kecil itu memutuskan untuk selalu tidak berani dan terus berada di belakang pintu. Hanya semakin besar, namun tidak pernah benar-benar tumbuh. Semakin hari dunia membawanya semakin jauh, semakin ramai, dan semakin menakutkan. Anak kecil itu bertemu banyak orang, bingung, ketakutan, dan menjadi lebih sering menangis.


Dulu Ia mengenal seseorang yang kawan-kawannya mengitarinya. Dimana seorang itu tertawa maka seringkali teman-temannya akan tertawa juga. Tapi anak kecil itu menjauh, Ia merasa tidak akan bisa membahas suatu hal seru dengannya karena terlampau berbeda. Hingga di hari yang padat ketika langkah sepatu menjadi sibuk dan anak itu ketakutan seperti biasa, kawan lamanya datang untuk bicara, mengulang pertanyaan, kemudian menunggu. Saat itu aku baru benar-benar menyadari langit siang ternyata sudah hampir turun hujan. 

Ia seperti mengajariku cara memakai sepatu. Tak apa sesekali tidak ditali dan tak apa jika sesekali ingin dilepas. Tak apa menjadi berbeda dan kadang seru juga menjadi sama seperti yang lainnya. Perlahan aku sadar bahwa aku juga bisa memilih. Bisa menjadi berani, tenang, bisa melawan, atau mungkin memilih diam.

Ia bertanya mau kemana lagi setelah ini,

Ia bertanya sedang ingin makan apa kali ini,

Serasa uang dan tenaganya tak akan pernah ada habisnya.

Padahal garis wajahnya hari ini bukan seperti yang pertama aku kenal dulu. Jauh lebih lelah dan jauh lebih payah.

Ada ayah ibu yang membutuhkannya juga, ada berbagai hal yang seringkali tidak terduga, tapi Ia tak pernah benar-benar menghibur dirinya sendiri. Ia tak pernah benar-benar pergi kemana sendiri. Ia tak pernah membeli makanan utuh dan mahal untuknya sendiri. Aku tak pernah benar-benar melakukan suatu hal berharga untuknya sampai Ia harus memberikan segalanya untukku. Panas tidak sampai kepadaku dan hujan juga tidak membuatku basah. Aku nyaman di rumah dan bercanda dengan putriku. Tidak lagi perlu sembunyi dari petinggi dan tidak perlu takut pada rekan kerja. Makanan selalu ada dan bajupun tak pernah kurang.

Aku benci ketika suaraku menjadi sesekali lebih tinggi. Malu untuk bercerita bahwa aku juga ingin menjadi seperti mereka. Ketika kuingat dan kuulang lagi, ternyata aku jahat sekali.

Doa terbaik untukmu, selalu. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...