Semuanya.
Tanpa kecuali.
Dunia adalah
apa saja yang ia perlihatkan padaku. Aku melihat dengan kedua matanya,
berbicara dengan bahasanya, dan menyukai semua yang ia sukai. Aku menulis
karena ia menulis, aku diam karena ia juga diam.
Sejatinya, ia bukan
sesuatu yang hebat. Tapi sebaliknya, aku selalu ingin menulis balok huruf
seperti barisan huruf-hurufnya. Miring sepersekian derajat, kecil, dan rapi. Sejak
kecil ia pandai berhitung dan pandai memilih-milih warna. Sekilas ingatan
tentang rumah dan lembah yang ia gambar enam belas tahun lalu masih menjadi contoh
terbaik meskipun aku lupa apa-apa saja warnanya.
Aku iri dengan
semua yang ia miliki. Kenapa ia punya kotak pensil sedangkan aku tidak? Kenapa ia
memakai handphone tapi aku tidak? Dan, kenapa ia harus berkuliah jauh dan
meninggalkanku sendirian? Tidak ada yang pernah membantuku untuk menjawab
semuanya.
Kemudian tas
bajunya yang tergeletak di lantai menjadi sesuatu yang amat berharga. Ia pulang.
Membawa banyak
cerita sepele yang berujung cekikikan, teguran Ibu, cekikikan lagi, dan teguran
lagi.
Bagiku, ia
adalah yang paling tinggi. Rambutnya tak pernah terlalu panjang dengan kulit
cerah yang akan menggelapkan kulitku bila duduk bersampingan.
Sampai,
banyak hal
telah terjadi.
Aku harus menempuh
duniaku dan ia harus mengejar dunianya. Aku dengan kanan kiriku dan ia dengan
teman-temannya. Semua terlalu lama sampai ketika kami bertemu, dahinya hanya
setinggi daguku.
2021,
Aku tau
sekali kau tak pandai berbicara, begitupun aku. Jadi mungkin singkat saja.
Tentu saja
kami kecewa.
Sangat kecewa.
Namun di
balik itu, aku mencoba untuk berkali-kali memaklumi bahwa hidupmu keras sekali.
Banyak yang kulihat
tapi lebih banyak lagi yang kau sembunyikan. Tentang suara motor malam-malam,
kedinginan, hujan biar jadi hujan, dan panas pun juga silakan.
Seperti baru
kemarin lusa kita pergi lalu berakhir bertemu dengan tak pernah sepakat lagi.
Dan sulitnya,
kita sama-sama keras kepala.
Aku banyak
meminta maaf pada mereka semua, tapi tak pernah kepadamu.
Lalu aku
bingung tentang siapa sebenarnya yang keliru?
Saat itu,
aku meminta maaf untuk tak ada di waktu-waktu terberatmu. Bersembunyi, menahan
lapar, dan terbanting diam-diam. Bukan keinginanku membuatmu memikirkan semua
caranya sendirian. Dan pasti semua hanya omong kosong menurutmu bukan.
Kau tau,
angka yang paling kusuka bukan angka kelahiranku, tapi angka nol yang mewakili
bahwa semua pasti punya kesempatan kedua dan ketiga. Menjadi kosong lagi. Memulai
dengan tulisan baru semaumu.
Ketika kau
menyesal, semoga aku masih bisa hadir untuk menerima semua alasanmu. Semoga kita
bisa saling memaafkan meskipun tak pernah jelas terdengar sebuah pengakuan. Semoga
saat itu tidak terlalu terlambat. Semoga saja.
Akupun salah,
tak pernah benar-benar bicara dan mengatakan padamu untuk melewatinya
bersama-sama.

Komentar
Posting Komentar