Sekeras apapun volume televisi, tombol mute menjadi satu-satunya keputusan saat speaker masjid mulai menyala siang-siang di luar jam adzan. Sepertinya bukan hal baik, pikirku.
“innalillahi wa innailaihi
roji’uun, innalillahi wa innailaihi roji’uun”
Beberapa detik setelah pengumuman
selesai, televisi tidak lantas langsung menyala lagi. “Siapa tadi?”, tanya
mereka. “Orang mana?”, katanya sekali lagi, memastikan. Seakan-akan hari dimana
pengumuman itu terdengar bukanlah hari yang baik. Semua suara dikecilkan. Para ibu
mengambil hijab dan beberapa gelas berasnya untuk diberikan pada keluarga yang
berduka.
Itu dulu.
Hari ini pengumuman itu terlalu
banyak, benar-benar setiap hari. Beruntung bagi mereka yang semakin sering mendengar
itu semakin takut dan berbenah hatinya. Dan sayang sekali, ada mereka yang
semakin sering mendengar malah semakin menjadi biasa. Semakin mengeras hatinya
karena lampu kota dimatikan, semua jalan ditutup, lalu Senin terasa seperti Selasa,
dan Kamis sama seperti Minggu. Semua hari sama saja dengan rutinitas di rumah
lagi, dengan masker ini lagi, dengan berita itu lagi, dan semuanya yang serba
sama tanpa mengerti sampai kapan hari seperti ini akan berakhir. Dan mungkin
saja, hati yang keras itu adalah hatiku sendiri.
Semoga saja, Allah tidak perlu menjadikan
berita itu hadir dari rumah kita sendiri hanya demi menjelaskan betapa kamu
atau aku, bukan siapa-siapa. Tidak pernah punya kuasa menyimpan atau menjaga
bahkan untuk seseorang yang paling ingin untuk kita gantikan sedihnya. Tidak ada
kata ‘milik’ bagi manusia yang hanya menjadi titipan. Tapi ruginya, aku masih
sering lupa.
![]() |
| (satu-satunya) |
2021,
23 tahun, mari menjadi lebih berempati.
Dia memulai
pagi dengan sholat shubuh sama seperti yang lainnya. Ia juga mengenakan seragam
yang sama seperti para rekannya. Dalam jalannya, ia berharap hari ini jauh
lebih baik dari yang sudah-sudah dengan membuat daftar apa-apa saja yang ingin
ia selesaikan hari itu juga. Terlihat, ia duduk dengan posisi yang sama dalam
waktu lama sekali. Pagi tadi ia masih tersenyum, setelah itu sesekali tertawa
keras dan membuat satu dua rekannya tertawa pula.
Melihatnya kaku
di meja kerja semakin membangun bayangan bahwa ia akan menepati janjinya untuk
mewujudkan hari yang lebih baik daripada biasanya. Ia akan menyelesaikan
semuanya. Bahkan, mungkin ia akan mengerjakan tugas tambahan yang lainnya.
Sekitar pukul dua
belas siang, layar komputernya hanya menyala sendiri tanpa ia yang tadi lama
duduk di depannya. Kemana dia? Mungkin ia sholat lalu beristirahat. Tapi ini
sudah masuk waktu efektif kerja, dan ia belum juga kembali. Lama ia tak
datang-datang juga.
Pukul dua ia
akhirnya duduk lagi di meja kerja, namun bukan untuk melanjutkan tugasnya. Oh mungkin
semua sudah selesai, terlihat ia bertanya hal-hal ringan pada teman kanan
kirinya lalu membuat ruangan menjadi lebih hidup dari biasanya. Tertawa,
bercanda, lalu tiba-tiba waktu berjalan menjadi sore. Tidak terasa.
Dikatakan padanya
bahwa ayo kita kumpul pukul delapan malam untuk main badminton sama-sama. Tapi tidak,
malas katanya. Ah, yang benar saja. Ini sudah tawaran yang kesekian kali dan ia
selalu menjawab dengan kalimat dan tawa yang itu-itu saja.
Lusa, terlihat
seseorang yang menagih tugas yang ia sampaikan padanya untuk diselesaikan. “Sebentar,
sedikit lagi,” jawabnya. Loh? Kukira semua kewajibannya sudah selesai. Lantas kenapa
setiap hari ia terlihat kaku sekali? Apa yang ia selesaikan?
“Mesti gini,
mepet-mepet”
“Jangan
salah-salah lagi ya”
“Gimana sih”
“Kayaknya aku
musti nanya ke orang lain aja deh”
Suara-suara
itu terdengar dikatakan padanya beberapa kali oleh orang yang berbeda-beda.
Semakin hari rasanya penilaianku
salah, ia hanya pekerja yang menjadikan kewajibannya sebagai nomor dua seperti
yang lainnya. Entah apa yang terjadi dengan motivasinya ingin menjadi lebih
baik dari hari-hari sebelumnya.
“Dia
kemana? Pasti tidur di sana ya,” kata seseorang yang sudah hafal kemana
perginya ia siang-siang.
“Ayolah,
kamu ngapain aja sih di kos sendirian. Sekali-kali keluar bareng temen, main,
olahraga, nggak dieem aja tiap hari”
“Kamu
jangan males-males lah”
“Emang
kamu punya temen?”
“Yang
bener kalo kerja, hahaha.”
Kata
mereka diakhiri dengan suara-suara tertawa. Aku sendiri tidak bisa membedakan
mereka berbicara dengan serius atau bercanda. Yang jelas ia juga menjawab
semuanya dengan tertawa-tawa juga, bahkan lebih keras dengan sesekali kembali
meledek yang lainnya atau hanya terdengar suara tawanya saja. Ya, seperti
itulah gambaran tentangnya. Pekerjaannya sering selesai di waktu terakhir
pengumpulan, tak pernah mau keluar dengan kawan, pemalas, sering tidur siang,
dan tak benar-benar punya teman. Setidaknya aku berkeinginan menjadi aku saja
tanpa sama sekali ingin menjadi sepertinya meskipun semua orang berkata bahwa
ia selalu menghidupkan suasana dengan guyonannya. Ia adalah seorang yang cukup
tak bisa diandalkan untuk beberapa hal kritis pekerjaan.
Suatu
waktu, Allah seakan memberi kesempatan untukku melihat semuanya tanpa ia bisa
melihatku. Tentu dengan satu syarat, aku
tidak diperbolehkan untuk sekali saja bersuara.
Setelah selesai dari harinya yang bising oleh
suara tawanya sendiri di meja kerja, ia pulang dengan menganggukkan kepala pada
petugas keamanan kantor sebagai tanda pamit pergi. Motornya berjalan dengan kecepatan
biasa bahkan cenderung lebih pelan. Kendaraan di jalanan sini kasar sekali,
sesekali ia mempersilakan mereka untuk lebih dulu menyeberang atau mendahului.
Kamarnya
ternyata lumayan luas baginya yang tinggal seorang diri. Namun yang benar saja,
di sini panas sekali. Kenapa dengan pemasukan sebesar itu ia tidak memilih
pindah ke tempat yang lebih nyaman saja?
Hari
sudah petang, suara adzan maghrib mulai terdengar bersaut-sautan. Setelah ia
selesai menunaikan sholat, ia pergi menyalakan televisi. Namun ia lebih sering
membuka-buka buku entah catatan apa, atau membuka laptop di meja kecilnya. Siklus
harinya terlihat sama juga seperti mereka pada umumnya. Namun tak terdengar
apa-apa di dalam sini. Ternyata ia sama sekali tak berbicara di kamarnya,
kukira ia juga melanjutkan suara tawanya entah dengan menonton apa sampai malam
datang. Ia lebih sering mengambil speaker kecilnya agar terdengar setidaknya
suara musik religi atau murrotal Al-Qur’an dalam kamarnya yang sepi. Dia memang
aneh sekali, terlihat beriman tapi sering tak mengerjakan pekerjaannya dengan
benar.
Kulihat
ia serius menatap layar dan mengetik-ngetik sesuatu, sepertinya ia mengerjakan
sesuatu yang penting. Waktu sudah lumayan larut, setelah ia sholat isya’, ia
lalu terdiam. Diam yang panjang. Semua alat sholatnya telah dilipat, sepi, tidak
nampak sisa-sisa guyonannya tadi pagi. Lama kulihat, tiba-tiba matanya basah
dan mulai menangis. Kulihat di sana, ia seperti sangat terluka. Ia menahan
suaranya, dan terus menangis dengan kedua mata kecilnya. Dalam ingatannya, ia
terbayang pekerjaan yang berbaris untuk dikerjakan. Tugasnya, ditambah tugas
yang dilimpahkan padanya, ditambah tugas yang seharusnya bukan tusinya,
ditambah tugas yang semestinya ia bisa menolaknya. Kenapa ia menerima semua
itu? Pantas saja ia tak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan tepat
waktu.
Dalam hatinya, masih jelas
tertanam kalimat-kalimat ngilu tentangnya yang tak maksimal saat bekerja. Gelar pemalas,
simbol-simbol 'tak pantas punya teman', dan semua hal buruk tumbuh menakuti
lampu-lampu di hatinya. Ia ketakutan. Dalam malamnya ia gunakan untuk
melanjutkan segala tugasnya dan tugas orang lain. Jauh sebenarnya, ia tak ingin
lagi mendengar kalimat-kalimat itu untuknya. Untuk itu ia hanya sanggup
tertawa-tawa saja demi membalas mereka. Ia tak mampu lagi menjawab dengan
kalimat apapun agar mereka berhenti mengatakan itu. Ia menerima fakta bahwa
mereka pasti akan mengucapkan hal yang sama esok hari, esoknya lagi, dan akan
menjadi lekat gambaran itu seterusnya.
Kuambil
beberapa buku yang tersusun di rak kamarnya. Dari tulisan-tulisan di sana baru
kutau bahwa ia telah kehilangan beberapa keluarganya sejak kecil. Selain itu,
ia juga kehilangan keluarga yang sejatinya masih ada. Hanya saja, ia tidak
menemukan hati-hati yang menyayanginya lagi seperti dulu. Keluarganya satu per
satu tumbuh dan pergi dengan masalahnya sendiri-sendiri. Dalam tulisan itu, ia bukan
berbicara pada lembaran kertas, ia menyebut dirinya dengan ‘Hamba’ yang artinya
ia sedang menceritakan harinya pada Tuhan. Membaca itu, tetes air matanya
menjadi jauh lebih ngilu di hatiku.
Ada beberapa kertas putih di atas
tempat tidurnya. Kertas dengan beberapa amplop putih panjang yang aku penasaran
dengan isinya. Karena ia tak mampu melihatku, aku pun membukanya.
Kubaca
darinya, ia telah menghabiskan satu sekian juta untuk sesuatu. Untuk kata-kata
kimia yang tertulis di sana. Tulisan ini terlihat seperti barang-barang medis
dan obat-obatan. Benar saja, ada beberapa kapsul dalam plastik bening di atas raknya.
Kucari
tau tentang itu, lalu aku terpukul sekali lagi.
Nyatanya,
ia mengalami gangguan medis yang menyebabkan kelenjar tiroidnya tidak bekerja
sebagaimana seharusnya. Kadar tiroid yang seharusnya membangun imun dan
metabolisme justru semakin melemah. Ditambah lagi, sistem imun dalam tubuhnya mengalami
anomali dan menyerang kelenjar tiroidnya
sendiri sehingga semakin payah kelenjar itu dalam bekerja. Ya, itu adalah salah
satu penyakit autoimun.
Melemahnya tiroid di lehernya, pelan-pelan
mempengaruhi kerja pencernaan, kulit, dan paling fatal adalah otaknya. Ingatannya
menjadi berkabut, tubuhnya menjadi mudah lemah dan kepayahan meskipun gerakannya
tidak banyak. Tak salah bila ia sangat sering melupakan sesuatu. Padahal baru
beberapa menit yang lalu dikatakan padanya, namun ia lupa, lagi dan lagi. Dan terjawab
sudah kenapa ia sering hilang di tengah-tengah siang. Dia harus beristirahat untuk
mampu melanjutkan beban kerja sampai sore. Dan menjadi tak salah bila ia
terlihat tak benar-benar semangat melakukan sesuatu, bahkan untuk memikirkan
dirinya saja ia sudah lemah, belum lagi menjalani hidup seperti kami. Aku sadar,
ia bukanlah seorang pemalas. Bukan.
Tiba-tiba
aku mendengar suara pelan yang sangat kecil namun terdengar jelas. Ia terlihat sedang
mencatat sesuatu, kudengar dalam hatinya ia berkata,
“Aku
ingin mengetahui tentang ini, aku ingin belajar agama. Aku ingin sekali masuk
pesantren mengaji bersama mereka dan meninggalkan duniaku saat ini. Tapi tidak
bisa, aku harus bekerja. Ya Allah, hamba ingin sekali belajar tentang ini. Banyak
yang ingin kubaca, banyak yang harus kutulis, dan banyak yang harus kudengarkan”
Seraya terus mengalir air
matanya,
“Ya
Allah, aku akan tetap mendengarkan banyak orang dan membaca banyak hal meskipun
aku akan lupa tentang apa yang aku baca hari ini. Meskipun aku akan menjadi
bodoh lagi. Meskipun aku akan menjadi bodoh selamanya. Dan meskipun aku akan
tetap menjadi tidak tau apa-apa.
Ya
Allah, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui tentangku. Namun sebatas yang
kutau, aku menjadi lemah dalam beribadah dan bermuamalah. Sebenarnya aku sedih
karena aku mungkin tak akan mampu menyelamatkan diriku dengan ilmuku yang
sedikit demi sedikit akan hilang, dan yang jelas aku tak akan sanggup
menyelamatkan keluargaku bersamaku.
Ya
Allah, tolong aku dan lindungilah keluargaku. Jangan kembalikan mereka pada-Mu
sebelum Engkau mencintainya. Jangan Engkau lindungi kami di satu sisi, namun
membakar salah satu dari kami di tempat yang lain.
Sungguh
aku tidak mengetahui apapun dan akan melupakan segala yang kuketahui. Hamba
hanya mampu beribadah denganmu dengan kepercayaan. Percaya dengan sebesar-besarnya
bahwa Engkau lah yang telah menciptakan Surga, memerintahkan kami untuk
mengejarnya, lantas tak akan mungkin Engkau akan menutup jalanku kesana tanpa
memberiku petunjuk dan pertolongan dengan segala hal yang Engkau titipkan
padaku.
Katakan
padaku bahwa aku bukanlah sebuah kekurangan. Aku lemah namun pasti kuat dengan
kekuatan-Mu. Sungguh, tidak harus kuat untuk menuju-Mu, dan tidak harus menjadi
pintar untuk bisa Kau cintai. Maka, cintailah aku dan buatlah aku menerima
diriku sendiri”
Tiba-tiba aku menjadi sangat
takut.
Tiba-tiba air yang sekejap lalu
ada di matanya kini juga ada di mataku.
Tiba-tiba aku sadar bahwa,
Aku jahat sekali.
Bahwa,
Hatiku keras sekali.
Selama ini ia menjalani hidupnya
yang keras dan sepi seorang diri. Dan bila hari berganti pagi, ia akan
meramaikan meja kawan-kawannya dan membuat mereka semua tertawa.
Sungguh, hatiku keras sekali.
Penyakit dalam dirinya memang tak
akan sampai mematikannya, ia akan hidup seperti hidupnya kami. Ia akan tetap
terlihat seakan-akan sama sehat dan bahagianya seperti kami. Tentu dengan
obat-obat itu yang harus ia minum seumur hidupnya.
Lantas bagaimana bila
ia adalah aku.
Atau mungkin ia
adalah kalian,
Masihkah kita menjalani layar kisah
ini dengan tetap menjadi seorang antagonis yang tak tau apa-apa namun berani
memberi gelar yang menyakiti hati dan dirinya yang jauh sebelum itu sudah sakit
tanpa kita sedikitpun mengetahuinya?
Berhenti menebak dan ucapkan kalimat
baik sebagai sedekah untuk dirimu sendiri dan untuk kekuatan bagi siapa saja
yang mendengarnya.

Komentar
Posting Komentar