Langsung ke konten utama

Hutang

 

Ada masa dimana kami selalu bersama-sama. Tidak masalah tentang duduk di lantai atau dimana saja, kami meyimak layar televisi yang entah saat itu memutar apa, aku sudah lupa. Tidak berebut remote juga karena memang tidak ada. Saat itu ruangan cukup luas dengan hanya televisi saja yang bersuara, lengkap dengan satu dua anak-anak usia dini yang diam saja karena tidak paham tayangan macam apa yang diputar di depan sana. Terang saja, aku masih empat tahun saat itu. Di sana, laki-laki dan perempuan hampir sama saja. Bedanya mungkin hanya ketika sholat Mas Denis dan Mas Fatkul bersarung sedangkan Mbak Tiara dan Mbak Wahyun bermukenah. Permainan apa saja, kemana saja, selalu bersama-sama.

Sampai lama kupikir dunia memang baik-baik saja. Lihat, mereka saling membantu dan tidak memberi spasi untuk memikirkan diri sendiri. Bersama dengan saling memberi, sama-sama tidak punya, dan banyak lagi. Saat itu nakal hanya sebatas malas berangkat mengaji atau kabur keluar diam-diam.

SMA, sekeliling kami cukup manusiawi dengan serba salah dan berputar tentang urusan cinta-cinta saja. Sedikit sekali peduli tentang presentasi Geografi atau macam interaksi manusia di Sosiologi. Mereka para lelaki itu pergi kemana saja dengan bergerombol sehingga mereka yang lain terpaksa minggir demi mempersilakannya lewat-lewat seenaknya. Hidup kami sendiri tak kalah tidak faedahnya, terbiasa menjadi langganan barisan depan karena kesiangan upacara, rutin bertepuk tangan untuk idola sendiri, dan mempersiapkan memori untuk menyimpan drama-drama Asia.

Hari ini, semua menjadi lebih parah berlipat-lipat kali.

                                                                                                                                                                     2021,

Takut sekali. Sebab tertawa mereka sudah tidak lucu lagi.

Seakan kami sudah menjadi salah satu judul untuk mereka bahas setiap hari. Sebelum membuka pintu, kuingat baik-baik bahwa tidak semuanya dari mereka seperti itu macamnya. Tapi ruginya, aku tidak tau siapa saja yang masih memuliakan kami yang masih mencoba menjaga kain-kain hijabnya. 

Dunia memang paradoks sekali. Sebagian mereka memilih mengikat diri dengan berlapis-lapis kain untuk menutupi warna cerah kulit yang biasa terlihat darinya, bersamaan dengan sebagian lain yang memilih menjadi biasa-biasa saja dengan bajunya.

Masing-masing manusia sudah ditakar bagian dosa dari kaki dan tangannya. Sekarang hanya tentang pilihan untuk berkawan atau menghindar dari bagiannya kemudian mengakui dan meminta maaf karenanya. Setiap pagi kami menjadi bersih dengan gunungan aib yang Allah tutupi dengan kain hijab kami.

Jika pada jalan nanti telah menunggu bagian kami untuk berdosa, memberi pilihan kepada kami untuk membuka diri, maka jadikanlah telinga-telinga kami penuh dengan peringatan bahwa,

Zina itu hutang.

"Sebab ketauhilah oleh kalian bahwa sesungguhnya zina adalah hutang. Dan sungguh hutang tetaplah hutang. Salah seorang dalam nasab atau keturunan pelakunya pasti harus membayarnya"

kemudian,

"Sungguh, zina adalah hutang. Jika kamu berani berhutang, bayarannya adalah keluarga. Barangsiapa berzina dengan bayaran seribu dirham, maka keluarganya akan dizinahi dengan seperempat dirham".

(Imam Asy-Syafi'i)

Demi Allah, Ia-lah yang paling benar perhitungannya, pasti ada keburukan yang sebesar peringatan untuk menjauhinya. Bila ayat-ayatNya terasa tidak masuk akal dan tidak mudah untuk diterima, pahami bahwa sebenarnya manusia yang terbatas daya pikirnya. 

Ia mampu menyembunyikan yang terbuka dan membuka apa-apa saja yang tersembunyi. Kemudian bersabarlah dalam menyimpan diri, bersabarlah. 

Semoga semua dosa juga ada bagian taubatnya. Hanya saja, tentang maaf hanya Allah yang punya hak untuk memberinya. Ia tau sekali hati mana yang benar-benar mengakui salahnya atau mana yang akan mengulangi dosanya besok, lagi, dan lagi. 

Dan lagi, untuk mereka dan kami juga, semoga Allah selalu melindungi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Andai

Kepadamu,               Dua puluh satu tahun kami jalan dan tumbuh dengan petuah kami sendiri. Melihat, mendengar, menahan dan mengartikan semuanya sendiri. Menjadi berandal, tersesat, kemudian lama mencari-cari arah pulang kami. Lihat Mbak Ul, dia sangat keras kepala. Sekeras Ia ingin bermain padahal seharusnya tidur siang. Sekeras Ia enggan mendengarku dan menggambar-gambar petanya sendiri. Kerasnya Ia membuatnya begitu tangguh dan mampu membuatku berseragam seperti sekarang ini. Tapi  aku akan bercerita tentang Mbak Ul lain kali.  Ruangan bising sekali. Sound speaker di tengah-tengah nyaring dengan lagu-lagu acak yang membuat mereka bernyanyi. Exhaust masih mengisap putaran asap wangi-wangi tembakau dari pagi sampai pagi lagi. Suara tertawa, pantofel, bunyi klik komputer, tarikan kertas-kertas printer, dan aku malah sedih sendiri.  Punggung banyak membungkuk, paham seribu kata tapi hanya ...