Langsung ke konten utama

Empat Kursi

.

(Tulisan keempat puluh, sebuah konotasi)

    Selamat pagi dariku yang terus belajar duduk sendiri di kursi. Sarapan hari ini masih sederhana bersama kuah-kuah panas berisi hati Ibu yang lelah sendiri. Tak lupa juga kopi Ayah yang asapnya selalu berkata semua akan baik-baik saja.

Meja telah rapi dengan piring yang juga tertata. Sesekali gelas pecah dan kuah-kuah tumpah juga. Tapi kami duduk lagi dan tetap makan bersama-sama.

Lihat, kursi ketiga mulai menjadi-jadi. Dibaliknya meja yang penuh dengan empat piring nasi dan seribu upaya mereka. Lalu bersama sepatunya ia lama pergi sendiri. Tidak ada salam lebih-lebih janji untuk kembali. Kemudian ia jauh merdeka dengan kebodohannya, bernyanyi bersama tikus air di pipa karat ujung kota

Nyaring, keras, berkerak.

Hari itu aku marah sekali. Kurapikan piringnya kalau saja aku tak ingat siapa namanya. Dipecahnya gelas, dibaliknya meja, lalu kami hampir tidak menelan apa-apa. Hari itu aku marah sekali.

Besok pagi kursimu masih ada, hanya saja tanpa piring dan perangkatnya. Karena untuk apa? Percuma saja nasi lauk tanpa siapa yang memakannya. Aku sudah bisa duduk sendiri bersama dua kursi yang terus sedih tak henti-henti. Kalau kau tanya kabarku dan mereka, jawabnya, kami marah sekali. 

***

Ayah, kau melihatku mengikat sepatu dengan pola sama seperti yang lainnya. Membaca buku, pergi sekolah, lalu dimarahi seperti mereka pada umumnya. Tapi kukatakan bahwa aku tidak tumbuh seperti kawan-kawan yang mudah mencari kata untuk berbicara. Aku tidak menceritakan  ada apa tadi di sekolah seperti engkau tidak menyampaikan bahwa punggungmu sedang lelah. Aku tidak mengatakan siapa aku hingga wajar saja sampai hari ini engkau paling tidak mengenalku.

Aku suka menulis, Ayah tau?

Aku sudah menulis untuk siapa saja, kecuali untukmu. Kali ini aku akan menyampaikannya dengan semoga engkau tidak menemukan apalagi membacanya.



Malam, 18 November 2020

        Malam, belasan tahun yang lalu. Tidak ada sudut yang sepi, hari gelap tapi kanan kiri nyaring sekali. Lapangan luas dengan bermacam-macam lampu dan anak-anak yang merengek meminta bermain ini dan itu. Kalian semua lihatlah, aku duduk di tempat terbaik di bahu ayahku. Saat itu aku belum seberat sekarung penuh beras putih dan Ayah masih sangat gagah untuk membawaku kemana-mana. Kami berjalan pelan dan menertawakan semuanya seakan semua menepi untuk mempersilakanku bersama Ayah saja saat itu.

Aku tidak suka Ayah pergi ke Yogyakarta meskipun acara sekolah. Tidak juga pulang malam-malam dan basah tanpa jas hujan. Aku tidak suka ketika Ayah tidak di rumah. Aku tau Ayah paling tidak peduli dengan perut sendiri. Tidak berpikir panjang tentang barang apa saja yang harus dibawa dan disiapkan. Jangan berjalan sendirian begitu, ajak aku. Aku janji tidak akan meminta mainan atau menangis panjang tanpa alasan. Kemudian maafkan aku yang masih sering menjatuhkan sendal dan tertidur di boncengan siang-siang.  

Ayah, lelah katakan lelah. Sakit katakan sakit. Ayah terlalu lama mengajariku bagaimana cara bersembunyi dan menutup-nutupi.

Kelas satu dulu aku belajar berhitung, kelas dua belajar bagaimana cara menyeberang jalan, kelas tiga  belajar menghafal perkalian di depan, lalu SMA belajar bagaimana membaca apa saja yang engkau sembunyikan.

Tahun ini minggu cepat sekali, sore nanti aku harus kembali pergi untuk beberapa waktu lagi. Ingat, banyak minuman lain yang lebih enak selain air dingin. Banyak lagi pilihan daging, ayam, dan apapun selain itu-itu saja. Kalau gerimis, berteduh saja. Jangan membuatku berpikir seribu kali untuk pergi terlalu lama dengan Ayah yang tidak melakukan dan mengatakan apa-apa saat tidak ada apapun di meja.

Aku tau Ayah adalah manusia yang sama-sama berlajar menjadi orangtua. Muda dulu tak terbayangkan menuang es, menyaring kedelai, dan duduk lama-lama di kapal. Tak juga diberitahu bahwa akan bertemu kakak dan aku yang berkelahi saja hari-harinya. Sama, akupun tak pernah tau dan tak pernah bisa memilih kepada siapa aku harus memanggil orangtua. Engkau melihat kami tumbuh setinggi saklar di dinding lalu tau-tau kami sudah pandai menggurui. Kami tertawa, berebut, menangis, dan marah-marah saja. Marah dengan seribu tanya kenapa aku harus menjadi aku.

Dan aku juga tau, semarah apapun dirimu, ketika Allah memberi pilihan nama siapa yang engkau inginkan untuk menggantikanku, engkau pasti akan memilihku lagi. Kemudian akan terus seperti itu. Menjadi orangtua bagiku di sini dan dimanapun nanti. Sekali lagi.

Hari ini masalah semakin menjadi-jadi. Bukan lagi tentang topi seragamku yang hilang atau mencari tambal ban malam-malam. Tapi, tunggu aku dan tetaplah di situ. Tetap menjadi yang pertama kulihat saat pertama kali turun di halte dan menjadi yang terakhir berpesan ketika akan kembali pergi. Tetaplah menjadi alasan pulangku dan jangan kemana-mana.

***


“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya,

dan dari ibu bapaknya,

dan dari istri dan anak-anaknya.

Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya”

(QS. ‘Abasa: 34-37)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...