Langsung ke konten utama

Keluarga

Dari dulu setelan Mbok selalu bagus bagiku yang hanya kemana-mana dengan baju warna coklat dan hitam. Dengan kebaya warna cerah entah ungu atau merah muda serta bawahan jarik batik, Mbok biasa duduk di teras rumah Paklik Alimin setiap pagi. 

Pembawaannya teduh, banyak tersenyum, dan selalu wangi. Aku selalu memilih tidur bersamanya ketika kesana karena kasurnya yang selalu dingin. Beberapa kali ia mengajariku menulis aksara Jawa yang berulang kali tak paham-paham juga. Awalnya masih pelan dan daya pikirku masih bisa mengikuti, makin lama Mbok seperti menjelaskan semuanya pada dirinya sendiri. Level naik menjadi kelas intermediate dan mungkin sejenak ia lupa bahwa aku masih SD. Sholat tarawih di masjid, Mbok selalu di baris paling depan. Tentu saja aku dan teman-temanku memilih baris paling akhir atau minimal di pinggir agar mudah pulang dan paling pertama mengambil sendal. Sebelum baris Mbok diblokade, ia biasa memberiku atau dengan kata lain aku yang meminta darinya uang koin lima ratusan. Biasa untuk membeli pilus atau entah jajanan apa sambil menunggu adzan isya’ yang akan terdengar sebentar lagi.   

Kanan: Imam

Aku sebenarnya tidak terlalu betah di Pondok Jegu. Selain karena panas, aku juga tidak kenal tetangga-tetangga di sana. Di dalam hanya ada Imam yang dunia bermainnya sangat berbeda denganku. Ia lebih muda tapi lebih suka bermain video game pada jamannya kemudian mempraktikkan cara bermainnya padaku. Smack Down, tentu saja. Untungnya ada Uti yang selalu mengisi piring-piring dapur dengan lumpia, roti, dadar gulung, dan tahu isi kesukaannya. Jajanan itu untuk kami, untuk masa kecil kami. Sampai hari ini aku lebih memilih Silverqueen dengan kemasan putih seperti yang dulu pernah Uti berikan padaku. Boneka beruang biru juga masih ada meskipun ia sudah terpisah dari anaknya karena kugunting kapan hari. Anaknya juga masih ada, hanya saja kini sudah menjadi gantungan kunci dan dibawa Mbak Ul kemana-mana.

Uti adalah seorang berbahasa Indonesia karena berasal dari Pare-Pare. Sudah beberapa lama ia tinggal di Sidoarjo untuk melanjutkan hidup dan membesarkan anak-anaknya. Kulitnya putih dan tambun, rambutnya sebahu serta halus cara bicaranya. Ia selalu ke pasar setiap pagi dan kadang aku ikut bersamanya saat ada maunya. Untuk kesana kami melewati Jalanan Pondok Jegu yang selalu bersih dan sudah dipaving di sana-sini.

Pasti akan begini bila ke Bulurejo, diminta makan ini dan ini dengan mereka yang lama di dapur untuk mengisi lagi meja ruang tamu. Aku tumbuh di rumah ini dan besar di kamar itu dan berbagi kasur dengan Mbak Ul yang kadang tidur kadang juga kabur. Bangun pagi dengan sadar tak sadar lalu berjalan ke depan untuk menyia-nyiakan waktu sebelum mandi dan ke sekolah. Aku lupa apakah dulu senang untuk bersekolah karena kupikir jam belajarnya lama sekali. Padahal pagi pergi pukul tujuh dan pulang tiga jam kemudian, pukul sepuluh. Sebenarnya apa yang kulakukan di TK dulu?

2015 bersama Mbah Uti

Aku selalu bemain sendiri dan selalu berbicara dengan diriku sendiri.

“aku pergi ke pasar dulu ya,” kataku.

“iya hati-hati, ya,” kataku lagi untuk menjawab pamitku yang tadi.

Main ‘bongkar-pasang’ orang bilang. Tempat mainku di teras depan agar mudah mendengar suara motor Abi yang pulang pukul satu siang. Dengan tangan kecil dan kesadaran seadanya aku memotong baju-baju kertas untuk mereka para mainanku. Kadang pengait kecil untuk memasang baju ikut terpotong dan pada akhirnya tak bisa dipasangkan. Bagiku dulu Mbak Ul adalah seorang yang bisa menggambar dengan handal. Ingatan yang masih kubawa sampai hari ini adalah di atas kertas gambarnya berdiri sebuah pondok kayu kecil di atas tanah tinggi dan beberapa jemuran baju di depannya, bagus sekali. Bila saja kulihat gambaran itu hari ini, pasti aku akan menarik kata ‘handal’ yang kusebutkan tadi. Yang jelas, aku biasa meminjam pensil warna dan semua perangkatnya karena aku tak punya sendiri. Apa yang bisa digunakan dari dalam tas anak TK? Karenanya aku menulis kata menggambar sebagai hobiku sampai beberapa tahun di bangku sekolah.

Dari sekian permainanku, Mbah Uti paling anti dengan kegiatanku yang satu lagi. Siang saat jalanan sepi aku meminjam penggaris ke rumah Mbah Duan dan kembali ke sumur sebelah rumah tetangga. Airnya bening tapi agak keruh, tapi masih bening. Lumut-lumut hijau menutupi dinding-dinging bata semen dan aku tak paham seberapa dalam sumur itu. Setelah air kembali tenang, kugunakan penggaris untuk mengaduknya lagi, tenang dan kemudian mengaduknya lagi. Di dalam ramai sekali. Belakangan baru kutau setelah Mbah Uti bilang bahwa yang kukira ikan-ikan kecil itu adalah separo berudu atau kecebong turunan katak-katak yang bertelur di musim hujan.   

Dinding Bulurejo

2020, hanya cebong itu yang hilang, kenanganku tidak. Sekarang Mbah Uti lebih melihatku sebagai seorang tamu. Meja makan penuh dengan tiga telur dadar, banyak lauk, daun kenikir, dan apapun itu yang jelas ia tak mau tau selain aku harus memakannya. 

Setelah melewati jalanan dengan bermacam kendaraan berplat S, B, AB, L, M dan beberapa yang lainnya, pelan-pelan dunia membentuk cara pandangku. Gedung-gedung tinggi, bangunan bagus, dan suara sepatu mereka memaksaku untuk menjadi modern dan beradaptasi. Tidak salah memang, salahku adalah terlalu banyak berpura-pura. Kukira menjadi bersih, berbahasa tinggi, update informasi, dan wangi dengan parfum yang sama dengan mereka adalah suatu kemajuan yang kucari. Ternyata aku mengejar cita-cita yang benar namun dengan cara yang salah. Aku baik-baik saja saat makan daging sapi di Gyu-Kaku, tapi rasanya berbeda dengan ruang keluarga bersama Uti waktu itu. Bukan daging dan boleh apa saja asal masih ada Uti yang dengan ingatannya yang menjadi lemah kerap bertanya berulang kali apakah aku sudah makan. 

Tidak hanya ingatannya yang melemah, kaki dan tangannya juga. Dengan alat bantu jalan besi itu ia menitih lima kotak ubin dengan waktu yang lama demi mengetuk pintu kamar dan bertanya,

"Iyin sudah makan?"

Lalu kujawab, "sudah tadi, Ti"

beberapa menit lagi ia datang dengan pertanyaan yang sama, dengan nada yang sama, dan kujawab dengan cara yang sama pula. Beberapa kali lagi dan setiap hari. Sesuatu yang kusesali adalah ketika kami para cucunya mulai malas-malas menjawab atau mulai berani menggunakan nada tinggi. Maaf sekali..



"Saat aku pulang, semua terasa tidak sepakat. Aku mulai melihat ke barat sedangkan kakakku ke barat daya, Ibu ke selatan, dan Abi jauh ke timur. Kami punya caranya sendiri untuk berbicara dan mempertahankan apa yang terlihat benar. Selera Mbak Ul sudah tak sejalan denganku pun ia tak mau menerima saranku. Kami banyak bertabrakan saja di dinding sini. Suasana sudah tidak seperti waktu yang lalu dengan kami yang duduk mendengarkan kiblat yang sama, Abi. Jalan kami sudah terpisah dan punya pagarnya sendiri. 

Lalu apa kabar dengan Uti, Ummi, dan Mbok? Di jalan yang mana mereka?

Daripada berbusa di sini mungkin jalan mereka lebih baik. Toh mereka orang-orang baik juga, kan?

Mereka adalah suatu paragraf indah yang sudah menemukan titiknya. Meninggalkan kami untuk disimpan dan dibaca lagi suatu hari. Malam ini kubuka lagi tentang mereka agar aku tidak akan tau bagaimana rasanya lupa dengan barisan kenangan yang kini masih kuraba-raba. 

Tuhan, Engkau tau semua jawaban bahkan sebelum aku selesai bertanya. Aku punya tumpukan permintaan maaf untuk mereka dan tak tau harus kuterbangkan darimana"



Sudah berapa tulisan yang kubuat tentang dulu. Nyatanya, dengan itu membuatku yang sudah tau cara bersyukur tapi malas-malasan sekadar sebentar berterimakasih menjadi sadar dan mampu berlari lagi. Meskipun beberapa dari mereka sudah menutup buku tapi gambaran dan ceritanya masih bisa terbaca. Sebelum lebih banyak lagi yang menemukan titiknya, lebih baik aku bangun dan meminta maaf pada yang ada daripada memakan waktu untuk berkelahi saja. Dengan pernah adanya mereka, meskipun tidak lama, tapi cukup untuk kusyukuri sampai waktu yang lama, sampai selamanya. 

Perkenankan kami menyapa lagi di surga, meskipun hanya di sela-selanya, Ya Allah. 


Kung yang santuy dan berwibawa







Putri malu yang ditunjuk-tunjuk Shinta





Bonus foto Gontor Putri 5 yang dekat rumah Bulurejo:


Bukan mantan pondok, hanya saja semoga santri di sana berkah ilmunya








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...