Ayah bilang kami adalah dua bersaudara dengan aku di urutan kedua. Kakak pertamaku adalah seorang perempuan musiman yang seketika menjadi laki-laki saat berkelahi. Sampai kelas tiga SMA, aku tak lain adalah perpanjangan dari ekornya. Entah bagaimana awalnya yang jelas apapun yang ia suka akupun juga sama. Apapun yang ia benci aku juga membencinya. Bagiku apapun kalimat darinya, kakakku, adalah sebuah perintah dan sugesti yang harus diikuti. Barangku adalah barangnya, dan barangnya tetap menjadi barangnya saja. Meskipun ia buruk reputasinya bagiku, tapi Mbak Ul tetap menjadi satu-satunya saudara yang kuhargai. Juga, meskipun ia sering memaki dan sangat benci mengantarku sekolah, aku yakin ia akan tetap mencariku bila terlalu lama tak pulang-pulang juga.
Kami memang dua bersaudara, tapi aku tau urutanku sebenarnya bukanlah yang kedua.
Di posisi tengah itu seharusnya ada seorang yang mungkin akan mempunyai hobi yang sama dengan teman-temannya, sepak bola. Kalau saja Tuhan mengizinkan kata 'seandainya' untukku menggambarkannya, mungkin aku akan terus hidup dengan angan-angan yang tidak akan pernah terjadi. Ayah tak pernah memperkenalkannya padaku. Kisah yang satu-satunya pernah kudengar hanya tentang bagaimana ia kembali kepada yang menghidupkannya. Ia, kakak lelakiku. Pemilik kursi kedua dengan selisih dua tahun di atasku.
Hai nomor dua, apa kabar di sana? Apakah umurmu sudah 24 tahun?
Aku selalu penasaran bagaimana bila kau di sini lebih lama lagi. Pasti berbeda bukan? Saat Mbak Ul dan aku berkelahi, kau pasti akan membela salah satu dari kami. Atau bahkan kau memilih untuk biar saja dan tidak peduli?
Tenang saja, aku selalu menjawab sebagai nomor tiga. Mana berani aku mengambil kursimu. Kubilang, "Ya! aku punya kakak laki-laki. Satrio namanya." 27 Maret tidak pernah berlalu begitu saja. Malam pada 1996 silam, dua puluhan tahun yang lalu. Kau kubilang tampan pada teman-temanku. Mungkin Ayah memang benar, tak seharusnya aku terlalu tau agar tak selalu panjang berangan-angan.
---
Bertahun yang lalu, pulang bukan selalu menjadi pilihan utama bagiku. Pertama kali jauh dari kehidupanku sehari-hari di rumah, aku menyalakan laptop sampai pagi hari. Aku mulai menjadi sendirian dengan kedua orang tuaku yang sudah pulang tadi siang. Aku di sini, di kos baru juga sebagai mahasiswa baru. Tidak lama akupun mulai bersahabat dengan pilihanku, Yogyakarta. Bebas kesana sini, jam berapa saja, bersama siapa saja, dan kemana saja. Libur semester, aku ingin cepat naik Kereta Sri Tanjung jurusan Stasiun Lempuyangan lagi. Tidak bisa berlama-lama di rumah seperti dulu.
Sudah di Bintaro lalu Surabaya-pun masih sama, pulang hanya ketika libur panjang atau karena teman-temanku mulai berkemas. Bersama kakakku, kami lebih banyak belajar dari luar pintu. Saat itu ibuku masih belajar bagaimana caranya menjadi Ibu. Pun kami juga belajar bagaimana caranya memulai sesuatu yang baru. Menjadi baru tanpa yang telah pamit terlebih dulu, Ummi.
Saat itu kami banyak tidak mengerti, diam, dan mengangguk saja. Kami bingung dan takut. Hari ini untungnya ingatanku telah banyak menghilang. Secara tidak langsung membantuku melupakan apa yang tidak perlu dan mengingat apa yang seharusnya. Lihat, pundakku hampir melampaui pundak Ayah. Tumbuh lambat-lambat cepat padahal serasa baru tadi aku menyalakan saklar lampu dengan gagang sapu karena terlalu tinggi. Bagiku mereka tetap sama seperti dulu, orang tua panggilannya. Tak peduli usia mereka tiga puluh atau lima tiga, tetap orang tua sebutannya. Sampai kini kami paham mereka benar-benar menjadi tua dan mulai batuk.
Saat itu, kuharap aku tak terlalu terlambat untuk memutuskan lebih sering pulang.
Rumah adalah Ayah yang lama membenarkan TV, dengan Ibu yang selalu di dapur, Mbak Ul yang melipat baju, dan aku yang menyapu. Semakin hari kami tumbuh sebagai dewasa yang menjadi tamu di rumah sendiri. Bila orang tuaku mengusahakan hidup kami untuk membuat kami siap pergi, semoga kami juga mampu mengusahakan menjadi kenangan terbaik sebelum tiba giliran mereka. Meskipun tidak sepadan dengan Ayah yang bagaimanapun caranya kami harus sekolah dan tak setara dengan seribu masakan Ibu untuk kami sampai kini.
Mari pergi untuk pulang selagi masih ada mereka yang membuka pintu. Hari ini, penyesalan masih bisa dicegah. Jadi, kapan terakhir pulang ke rumah?

PENGEN PULANG ðŸ˜
BalasHapusSabar sahabat:')
Hapus