Langsung ke konten utama

Arang Masa Lalu

Jadi apa cita-cita kawan dulu?,

Pohon
Pohon

Sekitar pukul sebelas siang di bawah pohon mangga yang sama, seseorang tidak punya dan tidak tau apa cita-citanya. Saat itu kakaknya pergi bermain bersama-sama dengan sebayanya. Sambil berlutut di tengah jalan, pasir yang dipikir sudah menjadi kue itu dilebur lagi untuk selanjutnya dijadikan kue lagi. Kemudian dilebur lagi dan begitu terus sampai perintah tidur siang terdengar pelan-pelan. Setelah satu dua kali pura-pura tidak peduli, barulah seketika ia berdiri dengan setengah hati sebelum teriakan itu berubah menjadi amukan. 

Bocah kecil setinggi tulang perutku itu berkulit gelap dan mempunyai lingkar lengan tidak lebih besar dari panjang kelingkingku. Karena rumah teman-teman sekolahnya tidak dekat, ia lebih memilih bermain dengan sendok-sendok dapurnya. Bermain dengan geng kakak perempuannya adalah ide yang buruk. Terakhir dulu ia ke sana sini mengambil karet, disuruhnya lagi mengambil lidi, begitu saja hingga ia sadar bahwa dirinya hanya menjadi bulan-bulanan. 

"Mulih kono, arek cilik gak bakal ngerti," kakaknya bilang.

Bocah itu memang takut dengan Mbah Uti, tapi bayang-bayang kakaknya lebih menjadi-jadi. Sebenarnya teman-teman kakaknya masih satu saudara. Mbak Wahyun, Mas Fery, Mas Denis, dan masih banyak lagi adalah kakak-kakaknya juga. Desa kecil itu tidak lain hanya rumah-rumah dari anak-anak yang beranak-anak lagi. Samping kanan, kiri, belakang, dan seberang jalan adalah saudara. Tapi tetap saja, mereka adalah anak-anak SD yang berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami oleh seorang anak TK. 

Saat itu ia tidak pernah tau berapa uang saku yang orang menyebutnya 'banyak' atau 'sedikit'. Baginya satu koin itu sudah bisa ditukar tiga bundar permen karet kuning, merah, dan hijau. Kalau masih pagi dan permennya sudah tidak tersisa, ia menunggu hari menjadi besok lalu membelinya lagi. Kelap-kelip kalung mainan dan jajanan renyah di terpal penjual depan sekolah bukan barang yang sesuai dengan uang sakunya. Kapan hari ia berani bertanya berapa harganya, diam sebentar, lalu mundur pelan-pelan ketika lapaknya menjadi semakin ramai.

Ketika itu sekelilingnya terasa tak akan pernah bisa dicapai. Beruntungnya ia hanya seorang kecil yang pendek hari-harinya. Kalendernya hanya tentang pulang sekolah lalu bermain, berdiri di pagar menunggu ayahnya pulang, dan berlari-lari karena dipaksa makan siang. Selama suara motor ayahnya masih terdengar dan kakaknya tidak berteriak di daun telinganya, dunia masih indah dan baik-baik saja. 


Tiga langkah lagi ia sampai di depan daun pintu untuk pulang dan makan siang. Mbah Uti sudah bersungut-sungut pendek demi melihat bocah itu tak juga nampak di depan pintu. Padahal jarak pohon mangga ke rumahnya tidak sepanjang sungai Kulon Kali yang ada di kampungnya. Tangan kecilnya mendorong pintu pelan-pelan dan pelan-pelan juga ia menjadi aku..


Kulihat langit-langit rumah Mbah masih sama, hanya saja ubin-ubin putih itu menutup lantai semen yang dulu telah seribu kali kulewati.  Kursi hijau Mbah Kung kosong bersama wafatnya beliau pada 2012 silam. Tabung televisi, meja, dan sofa telah berubah warna tapi tetap di posisi yang sama. Reza, sepupu kecil yang pernah berdarah-darah tangan orang digigitnya, kini bersuara berat serasa tumbuh sudah jakun kecilnya. Sekarang sudah kelas lima SD, tapi soal khitan nanti dulu katanya. Tiba-tiba Dani, abangnya, sudah kelas dua SMA. Serasa baru kemarin dia jadi rebutan untuk digendong atau ditarik-tarik daging pipinya. Sekarang mana bisa digendong, mainannya sudah motor berknalpot brong yang ingin kulepas saja dari bodinya.

Aku sangat menikmati mengulang lagi masa lalu. Ketika mau tak mau dunia pelan-pelan berputar dengan inflasinya, aku harus kembali sebelum kalap membeli apapun yang lewat di layar handphone. Saat malam-malam sendiri sepulang kerja, layar handphone menjadi lebih cerah dengan bisikan-bisikan 'wah' yang berhasil membuatku panjang berangan-angan. 21 tahun ini banyak yang telah terjadi. Masa lalu kami memang tidak sesedih mereka yang makan garam sehari-harinya. Bukan sebanding dengan kawan-kawan yang kehilangan kedua orang tuanya. Hanya saja, mengingat mereka membuat bayanganku pulang terlebih dulu. 

Bila dulu aku mampu menebak masa depan, maka aku akan tetap bermain kue di bawah pohon lagi. Membeli permen karet lagi, bersedih karena jajanan itu lagi, menunggu Ayah lagi, dan melakukan semuanya sekali lagi. Tumbuh di lingkaran serba seadanya adalah cara Allah menabung syukur di pundak kanan kiriku. Bila aku dulu kecil yang tidak bisa berganti tas tiap ajaran baru, maka siapa aku kini berani berangkat kerja dengan seragam wangi dan dagu tegak meninggi. Bila dulu harus selalu berbagi porsi makan dengan keluarga, paman, dan sepupu-sepupuku, maka siapa aku kini sehingga berhak melihat mereka lebih rendah dariku?

Ratusan kali aku lupa bagaimana dunia dan mereka besar bersamaku, ribuan kali juga Allah melalui masa lalu telah mengingatkanku. Lupa, ingat, lagi, dan lagi. 

Salam untuk kalian saudaraku. Alwy, kudengar sebentar lagi kau akan membuat rumah tanggamu sendiri ya? Haha, adik sepupuku yang kubentak pendek saja dulu langsung turun dari boncengan sepeda karena ia terlalu berat. Bagaimanapun pilihanmu, semoga kebaikan selalu bersama kedua pundakmu. 

Shinta, Reza, aku kurang paham bagaimana alotnya semester-semester sekolah kalian di masa depan. Pasti sangat berbeda denganku dulu. Mumpung masih SD, susun cita-cita kalian betul-betul. Hidup kalian masih sangat bisa ditata. Katakan juga pada abangmu, Dani, minta dia mencopot knalpot brongnya. Jual saja dan tukar dengan benih padi untuk ditanam dan dibelikan motor baru yang lebih manusiawi suaranya.

Alfin dan Mbak Ul, saudara-saudara perempuanku yang sangat kontras. Satu mudah diatur satunya lagi pandai mengatur. Seingatku kita dulu tidur bersama-sama namun selalu mendapat uang Hari Raya dengan jumlah yang berbeda. Mbak Ul tersenyum-senyum panjang dengan sakunya yang menyimpan uang lebih tebal. Alfin, sepupu yang tumbuh dengan bersekolah di sekolah-sekolah pilihan. Hebat sekali. Mbak Ul, akan sangat panjang kesanku untukmu. Lebih baik aku membuat halaman tersendiri suatu hari. 

Mbak Ul dan bocah kecil


Pohon mangga, dapur Mbah Uti, dan semua nama-nama benda dan manusia yang berdiri di pigura yang sama, terima kasih sebanyak-banyaknya.



Kami besar bersama arang dan kayu bakar



Bukan lantai terbaik, tapi selalu dingin 











Komentar

  1. tulisan dan foto sama-sama bercerita. kalau baca ini di novel sambil minum kopi, pasti aroma kertas + kopi bisa membuatku lebih mudah masuk ke kenangan ini. biar kutebak, kangen masak pakai arang kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih ke ambil napas bentar dari 2020, terima kasih komentarnya. Kalau novel, skill masih jauh

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...