Kalau
tidak salah, waktu itu pasukanku tinggal tiga. Satu raja dan dua bidak. Parah.
Padahal bapak Kantor Lelang seberang bangku sudah mempersilahkan di awal untuk
memilih pion warna yang kumau. Ternyata dengan putih pun sudah waktuku paling
sedikit, hampir mati pula. Ingat sekali
bapak setelan jaket mengembang di tubuhnya yang kecil itu masih punya beberapa
garda depan seperti menteri, benteng, dan banyak pion. Menit ke-belasan rajaku
hanya maju mundur di H2, G2, sampai terpojok di H1. Satu dari tiga perwakilan
sudah kalah sekitar sepuluh menit yang lalu, lalu karena ini akan kalah juga
maka tidak ada bijaknya bila Ref, wakil terakhir, tetap menantang Kantor
Lelang. Dua pion putih serong depan belakang, pas di depan mereka ada pion
hitam yang menutup jalan. Benar-benar tinggal raja yang bisa bergerak. Kayu
catur paling besar sekaligus paling lemah dan payah. Jalan sepetak-sepetak
sampai mundur ke ujung.
Ù„َا ØَÙˆْÙ„َ ÙˆَÙ„َا Ù‚ُÙˆَّØ©َ Ø¥ِÙ„َّا بِاللهِ, Ù„َا ØَÙˆْÙ„َ ÙˆَÙ„َا Ù‚ُÙˆَّØ©َ Ø¥ِÙ„َّا بِاللهِ
Lagi,
Ù„َا ØَÙˆْÙ„َ ÙˆَÙ„َا Ù‚ُÙˆَّØ©َ Ø¥ِÙ„َّا بِاللهِ
Dosaku
banyak tapi saat itu aku benar-benar ketakutan. Memang ini hanya barang mainan
dalam kompetisi standar vertikal Kemenkeu lokal. (Hah, lokal?)
*iya,
hanya antar kantor di sekitar Pamekasan saja.
Tapi
untuk potongan sepertiku yang mudah panik, posisi itu gawat. Teman kanan kiriku
sudah membuang napas keras-keras. Seakan karbondioksida mereka berkata: yowis muliho ae yin wes bengi.
“Menang
rezeki, kalah ya sudah”, dalam hati. Dengan tetap merapal kalimat yang sama.
Dan aku tidak sedang sendirian.
Bapak
Lelang maju satu petak untuk menjepit raja putih di pojokan. Mau tak mau rajaku
harus mundur. Mundur dan mati. Membawa kalah yang dingin. Seperti yang sudah
mereka kira dari awal, dan aku memberi selamat pada beliau.
Tapi,
beliau bilang posisi kami remis. Seri. Beliau tidak kalah pun juga tidak
menang. Lebih meyakinkan lagi ketika juri setuju, posisi rajaku sudah di ujung
jembatan. Mundur satu lagi bisa jatuh dari meja, tak bisa jalan. Pun posisi
semua bidak dan raja beliau tidak bisa jalan karena semua jalur tertutup oleh
pionku yang lemah dan sakit-sakitan. Akhirnya beliau tidak bisa maju pada
gilirannya. Begitulah, remis.
Mungkin
Bapak Lelang menyesal karena sebenarnya bisa saja skak matt daritadi dengan
bentengnya. Tapi ia baik, enggan mempermalukanku secepat itu. Bosan sekali
bicara tentang catur, tapi ini bahkan belum selesai. Putaran terakhir, Ref
menang. Alhamdulillah.
Skor
kami seri = 1,5 : 1,5
Permainan
ini diputuskan dengan lempar koin pada akhirnya, benar-benar hanya lempar koin.
Setelah jam sudah berputar dua setengah keliling tapi keputusan hanya diambil
secepat itu. Sudah malam memang. Bapak Lelang yang tadi ternyata menjadi
perwakilan kantornya, lalu mereka, tentu saja, mendorongku untuk menjadi wakil
kantor kami. Awalnya kubilang jangan, aku ini cukup sial dalam permainan yang
tidak pasti seperti itu. Dosaku banyak.
Semua
diawali dengan suit satu kali. Saat itu aku lupa mengeluarkan gajah atau semut
karena yang paling jelas kuingat adalah aku kalah. Kalah suit.
“Saya
pilih angka”, Bapak Lelang bilang.
“Kalau
begitu saya gambar”, kataku.
“Oke ya siap-siap…”, dilempar dan.. gambar!
Gambar
angklung koin seribuan terbuka dengan menghadap langit-langit. Jadi begitu
akhirnya kami pulang dengan membawa kemenangan yang kebetulan.
-Pertengahan Juni-Juli 2019, Samapta-
Wacana
pertama saat samapta adalah mencatat semua kejadian, masalah, atau kejutan di
notebook tipis pemberian Balai Diklat Keuangan Malang. Ini akan jadi momen
panjang dan tak akan pernah mau diulang. Namun begitulah, baru dapat sekitar
empat halaman, jangan kira lanjut, ingat saja tidak. Sayang sekali, banyak yang
tidak terekam. Tapi aku sangat mengingat tentang beberapa hal:
Saat itu
sudah gelap. Gelap yang belum terlalu malam. Kami dipersilahkan melakukan
bersih diri karena sudah sekitar empat sampai lima hari kami Minggar (Minggu
Penyegaran) di luar, di jalan, di selokan, dan dimanapun selain ruangan
beratap, apalagi rumah. Samapta, rambutku kupotong habis. Tidak gundul memang,
hanya saja istilahnya 1-2-1 kalau mereka bilang. Dari awal bayangan-bayangan
tentang air got, kolam kodok, tak mandi berhari-hari, membuat guntingku nekat
menghabisi semua rambut yang biasa kukuncir.
Hasilnya,
rambutku cukup membantu karena tidak menambah masalah gatal atau gerah. Namun
juga cukup membuat malu selama berminggu-minggu. Ingat sekali, aku tak pernah
barang sekalipun membuka kerudung di depan mereka, para teman-teman wanita.
Tidur di barak pun tetap terpakai.
Pelatih Sigit
mempersilahkan sekitar sebelas orang siswi untuk bersih diri di salah satu
rumah tinggal taruna yang kebetulan kosong. Setelah Pelatih Sigit pergi, kami
mencari cara bagaimana agar orang sebanyak ini bisa mandi dalam waktu lima
menit sekaligus.
Hmm,
mungkin sebagian kalian bisa menduga apa jalan keluarnya.
Tapi
tidak untukku. Saat itu aku cukup keras kepala untuk tetap bersih diri
sendirian agar tidak dilihat oleh mereka. Akhirnya aku selesai paling akhir dan
berjanji pada Si Burung Dara (Irma) untuk kembali ke lapangan bersama-sama.
Astaga, ternyata aku sudah tidak mempunyai kerudung bersih. Hebatnya lagi baru
tersadar ketika itu dan semua baju kotor sudah dikemas. Tidak ada. Tidak ada
yang punya dua kerudung di sana waktu itu. Ada, tapi di dalam tas yang mereka
tinggal di lapangan. Oke, akhirnya aku (Merpati) dan Dara kembali dengan hanya
aku yang memakai selimut garis hitam putih seperti di rumah sakit kebanyakan
untuk dijadikan sebagai pengganti kerudung.
Kami
kembali di saat peluit tanda berkumpul sudah lama ditiup. Ya, kami terlambat.
Sangat terlambat.
Begitu
aku mendapat kerudung pinjaman, mereka para siswa siswi itu sudah digulung di
lapangan. Merayap ke depan, balik kanan. Diguling, guling lagi, dan merayap.
“Lambat!”, pelatih bilang. Dan di saat-saat menyedihkan itu bisa-bisanya aku
dan Irma meminta izin kepada pelatih untuk sholat maghrib karena hanya kami
berdua yang belum sholat.
“Kalian
belum sholat? Ya sudah sana!”
Berlarilah
kami menuju mushola tempat mereka sholat tadi. Untungnya tak jauh dan tidak
antri. Di jalan kami berusaha menenangkan satu sama lain. Tidak apa-apa,
tenang. Kami sudah dalam posisi siramlah kalau mau menyiram, gulinglah kalau
mau diguling. Yang jelas izinkan kami sholat dulu. Saat itu, kami menyarankan
satu sama lain untuk membaca Ayatul Kursi. Irma takut, aku takut. Impas.
Sholat,
meskipun jauh dari khusyuk tapi entahlah. Pengharapanku terasa lebih besar saja
saat itu. Sebanding dengan ketakutan yang kubawa. Bagaimana bila saat mereka
makan kami baru kembali? Bagaimana bila saat mereka makan kami malah ditarik ke
lapangan? Berdua saja, hanya berdua. Memalukan sekaligus menakutkan. Dilihat
oleh delapan puluh sekian siswa di depan kami.
Sekembalinya
di sana, benar saja. Mereka sudah dalam formasi empat baris dan siap untuk
makan di lapangan. Beberapa terlihat berdiri untuk mengantri di samping Mobil
Senyum, sebutan untuk mobil konsumsi. Berdiri untuk mengantri mengambil nasi
sayur satu per satu. Agak berbeda mengingat biasanya sudah disediakan makanan
dalam kotak nasi. Saat mereka antri, aku dan Irma meminta izin untuk bergabung.
Lalu pelatih mengizinkan.
Lah?
“Tapi
kami belum merayap pelatih,” entah sakit apa aku sehingga mengatakan kalimat
itu.
Aku
merasa tidak adil saja.
“Oo jadi
kalian mau merayap dulu?, (tertawa)
sudah duduk sana”.
Benar-benar.
Lapangan
gelap, rumput yang menjadi alas duduk dingin, aku duduk paling ujung,
benar-benar gelap, lalu menangis. Menangis yang diam-diam. Bukan karena aku
sangat ingin merayap seperti mereka tadi, bukan. Lebih kepada.. benarkah?
Lihatlah
Irma dan aku, kami terlambat. Paling akhir bahkan. Tak ikut kena hukum, bisa
lanjut makan pula. Lihat, baju kami paling bersih di antara mereka. Benar-benar
tak percaya Allah akan membantu kami secepat dan sediam itu. Tidak ada di
antara satupun mereka yang tidak terima dengan fakta bahwa kami tidak dihukum.
Kurasa lebih kepada mereka tidak tau. Mungkin mereka mengira tadi kami hanya
izin ke toilet saja berdua mengingat pelatih berpesan jangan pernah kemanapun
sendirian. Malang sangat dingin, gelap, angin bertiup dari barat ke timur, dan
aku sangat bersyukur. Sangat.
[Penghujung Samapta]
Menjelang
Latgan (Latihan Ganda), kami para siswa siswi digembleng lebih dari biasanya.
Tas besar kami setiap hari harus dibawa meskipun hanya berkegiatan di sekitar
Paskhas. Ditambah lagi masing-masing tas kami harus diberi pasir halus yang
biasa untuk bahan bangunan. Siswa harus mengambil lima gayung penuh, siswi tiga
gayung mandi. Pelatih mengecek satu per satu berat tas kami dengan menimbang di
tangan seadanya.
Hari itu
agenda kami adalah Lari Lintas Medan. Sekitar pagi pukul sepuluh, kami bergerak
dari lapangan tembak menuju lapangan besar. Dengan berlari tentunya. Dan dengan
tas berpasir itu pastinya. Untuk apa? Untuk melatih kami bahwa saat Latgan nanti
beban kami tidak akan ringan. Naik gunung dengan membawa masing-masing piranti
kehidupan seperti matras, selimut, baju ganti, kopel, dan barang-barang pribadi
lainnya. Kalau tidak dilatih mungkin nanti kami akan banyak mengeluhnya.
Baru
sampai di jalanan depan mushola, pasir yang kutaruh dalam kresek di tasku
jatuh. Saat itu aku menyadari bahwa tasku sedang tidak baik-baik saja.
Resletingnya bermasalah. Setelah kuambil, temanku membantuku memasukkannya
kembali dalam tas dan bergegas menyusul pleton yang meninggalkan kami di
belakang.
Singkatnya
begini, Lari lintas medan adalah lari dengan melewati berbagai medan seperti
jalanan biasa sampai jalanan berbatu. Dan yang dimaksud dengan jalanan berbatu
di sini adalah bukan seperti batu-batuan makadam melainkan kami diharuskan
berlari dalam selokan kering yang ber-geronjal dan merayap melewati jembatan
semen. Untuk siswi jaraknya tiga kilometer dan lima kilometer untuk siswa.
Tentu saja masih dengan membawa tas berisi pasir ini.
Mendengar
kata ‘Lari’ entah kenapa kami menjadi berapi-api. Ada sebagian mereka yang
sudah bercita-cita santai-santai saja, ada juga di antara mereka yang ingin
kembali ke tempat awal paling pertama. Termasuk aku. Bukan ingin menang karena
paham itu akan susah, melainkan cepat kembali saja agar punya waktu istirahat
paling lama.
Begitu
peluit dimulai, mereka semua bergerak dengan cepat seakan lupa betapa beratnya
barang bawaan mereka. Sedangkan aku bagaimana bisa lupa bila pasir itu untuk
sekali lagi jatuh di jalan saat masih di garis start. Astaga tolonglah.
“Pelatih
pasir saya jatuh (terus) pelatih,” dengan nada agak keras dan terburu-buru.
“Sudah
buang aja!,” katanya.
“Yakin,
pelatih?,”
“Iya!,”
Pasir
itu berakhir dengan kutinggalkan di trotoar jalan dengan disaksikan oleh
Cenderawasih (Dita) dengan niat akan kuambil lagi nanti.
Pelatih
itu, Pelatih Pardiono. Lebih bersahabat dari yang lain sekaligus mirip sekali
dengan adik dari ayahku. Sangat kuingat bagian ketika beliau menyuruh untuk
membuang pasir itu dari tasku.
Aku
berlari dengan ringan. Menyalip sepuluh dari mereka, lima, dua, dan akhirnya
aku berada paling depan. Jalanan sudah lumayan jauh. Begitu sampai di jalanan
depan bandara, keringat putus asa mulai muncul. Tapi tidak.
Banyak
dialog-dialog dalam kepalaku. Saat ini aku sedang berkompetisi dengan tidak
membawa beban berat seperti mereka. Apakah itu adil? Tidak menurutku. Ah iya,
tidak ada gambaran untuk kutenteng saja pasirnya. Begitu semua lari dan pelatih
menyuruhku untuk membuang pasir itu, pikiranku sudah kosong. Lari saja.
Semangat
muncul timbul tenggelam. Saat lari aku memutuskan untuk bernyanyi dalam hati
karena beranggapan itu cukup membantu untuk melupakan lelahku. Benar saja.
Tiba-tiba pelatih yang menjadi penunjuk jalan menyuruhku untuk turun ke
selokan. Hah? Hingga sampai di titik finish kami diharuskan berlari dalam
selokan sepanjang kurang lebih delapan ratus meter sambil sesekali merayap
melewati bawah jembatan.
Tadi
hampir-hampir Fierdha menyalipku. Tapi mengingat aku tak membawa beban,
harusnya aku tetap bisa mempertahankan posisi. Akhirnya, aku sampai paling awal
dengan catatan waktu dua puluh lima menit. Tiga menit kemudian Fierdha
menyusul.
Dengan
disaksikan entah itu Pohon Trembesi, siang, dan Fierdha, kukatakan pada Pelatih
Arifin bahwa aku meminta maaf. Maaf untuk berlari tanpa membawa beban.
Kuceritakan singkatnya dan tentang masalah di tasku. Pelatih Arifin mengangguk
dan mempersilahkanku untuk istirahat. Sudah. Tidak ada sidang-sidang panjang
atau ceramah siang-siang tentang kenapa tasku bisa begini dan begitu.
Alhamdulillah.
Satu per
satu mereka datang dan bertanya-tanya siapa yang datang paling pertama. “Iyin,”
jawabnya. Awalnya mereka entah kagum entah apa, tapi kujelaskan lagi bahwa aku
tidak membawa pasir. Setidaknya dengan tidak ada beban aku harus tidak terlalu
mengecewakan untuk menjadi paling terakhir. Seperti yang diduga, mereka
menghembuskan napas tanda ini tidak adil. Mereka yang baru datang bertanya
lagi, dijawab lagi, dan kujelaskan lagi. Bertanya lagi, kujelaskan lagi. Terus
begitu.
Namun yang
banyak dari mereka tau adalah bukan tentang pasir, tapi tentang yang paling
pertama tiba adalah Merpati (aku). Setelahnya aku tidak paham lagi seperti apa
pemikiran mereka tentangku. Sudah malam-pun dibahas lagi, Pelatih Sukadi
bertanya siapa pemenangnya saat binsik malam. Teman-teman di sebelahku
membangunkanku yang sedang curi-curi saat istirahat sit up dan tertidur ringan.
“Ssst,
Yin!,” sambil menyikutku,
“Siap
saya, pelatih!”, jawabku. Tidak dengan bangga tentu saja.
Entah
hari itu juga atau hari selanjutnya, aku meminta izin untuk mengambil kantung
pasir yang tadi kutinggalkan di trotoar. Ah iya, sepertinya saat sholat dhuhur.
“Nanti saja,” kata pelatih.
Pasir
itu terus berputar-putar dalam pikirku seakan dia mengirim sinyal batin agar
segera dijemput. Aku takut tau-tau pelatih melakukan sidak tas dan dalam tasku
kosong meskipun pelatih sendiri yang melarangku untuk mengambil pasir saat itu
juga. Belum lagi garis finish posisinya
berjauhan dengan lokasi awal berlari. Mereka
lupa, dan aku tidak punya barang satu kesempatan pun untuk mengambilnya. Semua
kegiatan dilakukan bersama-sama-sama dan sudah tidak lapangan besar dekat
trotoar itu lagi. Akhirnya, dua hari punggungku sehat dengan tas kosong yang
ringan. Apakah aku tidak adil lagi? Ya, tapi sebagai catatan izin mengambilnya
adalah di luar kuasaku. Saat itu aku merasa Tuhan baik sekali.
Apakah
kawan pernah menangis saat Samapta? Aku pernah.
Karena
apa?
Apakah
karena binsik siang bersama Pelatih Sigit sambil membawa senjata yang katanya
hanya akan lari tiga putaran ternyata malah tiga tambah tiga tambah tiga tambah
tiga?
Kalau
begitu sama.
Mereka,
dia, dan aku tidak akan punya waktu untuk sendiri. Waktu untuk sendiri ada
hanya ketika Jurit Malam atau buang air di kamar mandi. Tidak ada kesempatan
untuk berpikir apakah sepanjang ini hidupku berguna atau sebaliknya.
Benar,
tidak mudah beribadah saat Samapta. Melihat mereka memberi sedikit tempat untuk
Al Quran di lemari barak dan curi-curi waktu untuk membacanya adalah luar
biasa. Bila mereka bilang kalian harus lebih banyak bertuhan saat Samapta, aku
setuju.

Komentar
Posting Komentar