Seandainya
boleh, maka kami cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa enam dari sepuluh
orang pasti benci Hari Senin. Tentu saja, enam dari sepuluh itu adalah kami
sendiri. Tidak paham juga siapa empat orang sisanya. Bigas Badai, Iyin, Silvi,
Refangga, Annas, dan Yuna. Nama sedemikian itu urut bukan berdasar pada alasan
kasta, strata, atau harga karcis bis masing-masing di Purabaya. Lebih kepada
menghargai dari tertua sampai yang paling muda usianya.
Jadi,
ada apa dengan senin? Karena sejak di sekolah dasar senin adalah hari Upacara
Bendera. Hari ketika belum bisa menerima bahwa minggu sudah menjadi pagi dan PR
berhitung belum juga terisi. Belum lagi tentang dasi yang entah apakah aku
punya atau tidak yang jelas saat itu masalah hanya tentang dasi dan topi. Sepuluh
kali beli sepuluh kali juga keduanya hilang. Sepuluh kali hilang sepuluh kali
juga kena pajang di samping tiang. Saat itu, ketakutan kami hanya seputar
perkalian. Tanpa paham bahwa masih ada Desil, Kuartil, Persentil, hingga
Algoritma di masa depan.
[Senin,
awal September 2017]
Pagi
itu masih belum ada kami. Yang ada baru aku yang belum mengenal Bigas, Silvi,
dan mereka yang lainnya. Bangun dari ekspektasi kemeja putih berdasi, rapi,
dan wangi menjadi terserah saja yang penting datang upacara jam 06.30 pagi.
Satu hal yang aku yakini, mereka yang berbaris kini pasti banyak yang tidak
mandi. Paling-paling hanya membasuh muka dengan air sabun lalu keluar dan
menyebutnya telah mandi. Ya, baru dua puluh menit yang lalu kami di lapangan
untuk bina fisik dan dua puluh menit kemudian harus ada di lapangan yang
berbeda untuk upacara di hari kuliah pertama. Lapangan Student Center Ceger –
Pondok Jaya, Pondok Jaya – Lapangan A.
Sudah
senin lagi? Rotasi bumi di Bintaro ini cepat sekali. Padahal baru dua hari kemarin
kami menghembuskan karbondioksida panjang yang berisi materi-materi hasil kuis
8 SKS tempo hari. Hari ini, nomor absen 29 bukan berarti duduk di garis
belakang saat ujian. Bukan mencontek, bahkan untuk sebatas meminjam penghapus
teman di meja samping saja tak berani. Setelah duduk di garda depan bangku
ujian selama dua semester, akhirnya kami wisuda juga.
[Senin,
akhir Desember 2018]
Senin
ini Refangga sudah bertemu Bigas, Silvi, dan Yuna. Pun aku juga bertemu Annas
di kantor yang sama. Hari ini adalah hari pertama kami masuk kerja. Kerja?
Bahkan seingat kami baru beberapa waktu yang lalu kami lulus SMA. Setelah lima
puluh dua senin akhirnya kami sampai di sini. Sama-sama memakai setelan kemeja
putih bawahan hitam dan tanda pengenal dengan huruf kapital ‘CPNS’ di dalamnya.
Sama-sama baru dan tak paham harus apa dan bagaimana di tempat kerja.
[Senin,
akhir Maret 2019]
Akhirnya,
untuk pertama kali kami genap berenam di Terminal Purabaya dan lurus ke jalur
tiga tujuan Madura. Kalianget memberi kesempatan di hari kedua untuk naik kapal
ke Talango dengan cuma-cuma. Mengambil gambar berbagai pose seperti turis dari
entah mana. Selesai membeli es krim dan jajanan, kami kembali dan membantu
kantor berkemas ala kadarnya. April, kami bergeser ke barat menuju Pamekasan
tepat di pusat kota.
[Senin,
Januari 2020]
Jalanan
Waru-Juanda yang padat
dengan kendaraan bermotor yang entah mengejar
apa. Lima menit lagi acara dimulai, benar-benar lima menit lagi.
“Demi
Allah, saya berjanji”
/ber
ּ jan ּ ji/, menurut KBBI berarti mengucapkan janji; menyatakan bersedia dan
sanggup untuk berbuat sesuatu.
Bertemu
banyak kawan lama membuat kami tidak benar-benar serius dan fokus mengikuti
jalannya acara. Namun, ketika Al-Quran telah diangkat dan janji telah dirapal,
kami tak lain selain diam dan gemetar. Suara keras dan gema-gema di dinding
lenyap timbul berdengung-dengung. Kemudian terlihat kami dengan masing-masing
kesalahan-kesalahan pertama dan selanjutnya. Salah cetak, salah tulis, salah
posisi cap stempel, banyak salah yang lama-lama menjadi-jadi. Saat itu kami
banyak merasa takut. Kami tidak mengerti. Namun bersamaan dengan itu, mereka
(semuanya) berkata,
“Tidak
apa-apa, nanti lama-lama juga bisa”,
“Saya
dulu juga begitu”,
“Pelan-pelan,
saya awalnya juga nggak bisa”,
Dalam
janji itu kami berjanji menjadi baik seperti bahkan lebih dari mereka. Senin
itu kami berjanji pada Tuhan, pada Negara, pada Instansi, dan pada susah payah
orang tua kami. Senin itu menjadi hasil penjumlahan dari seratus senin yang
seharusnya tidak kami benci. Hari ini dan seribu senin lagi kami pasti menjadi
apa yang saat itu kami berjanji.
footnote :
(Tugas tulisan untuk pelantikan)


Komentar
Posting Komentar