Masa kecil dulu aku bahkan tidak tau kalau suatu saat nanti harus bekerja. Beberapa yang aku tau hanyalah harus selalu bangun pagi untuk sekolah setiap hari. Kami membaca, menulis, mewarnai, dan menghafal banyak lirik lagu bukan karena kami ingin menjadi guru. Pun bukan karena kami punya cita-cita. Ayah memintaku sekolah, maka aku harus sekolah. Seolah ia tau suatu hari nanti aku akan bertemu dengan setumpuk tugas-tugasku hari ini ditambah dua tumpuk tugas-tugas mereka.
Masa kecil dulu bahkan tidak menyangka ada suatu tempat bernama Jakarta. Kukira batas dunia hanya berupa dinding rumah, jalanan tetangga, sampai bangunan sekolah saja. Berlari-lari di jalan yang sama seratus kali hingga tersesat sekalipun kami pasti bisa pulang sendiri. Ternyata, setelah jawa masih ada Indonesia, setelah Indonesia masih ada Amerika, lalu masih ada Bumi, Matahari, Bimasakti, sampai entah dimana ujungnya.
Seandainya dulu cepat memahami bahwa aku sekecil ini, mungkin aku tidak akan berangkat kuliah dengan menggerutu. Mungkin tidak akan membaca komik di bawah meja dan akan selalu datang paling pertama. Mungkin aku tak akan nafsu makan dan akan belajar dua jam lebih lama. Tapi, apakah menjadi pintar adalah satu-satunya hal yang paling benar? Kalau tentang pintar kurasa kalkulator juga bisa.
Hari ini sepertinya orang-orang baik lebih banyak dicari.
Ketika mulai membenci komputer yang biasa kugunakan, bosan dengan semua yang dunia katakan, dan tidak suka dengan hal apa yang diperintahkan, aku harus ingat bahwa aku lebih tidak suka menjadi aku yang dulu. Menjadi beban berat yang menggembung di saku baju kedua orang tuaku.
Sudah cukup rasanya menunda-nunda semua wacana.
“Itu akan kukerjakan nanti”, atau
“Sebentar dulu”.
Tentang semua keluhan kenapa harus aku, tentang semua pekerjaan yang bahkan bukan tanggunganku, dan tentang semua tugas titipan yang bahkan yang bertanda tangan bukan namaku, kerjakan saja.
Kerjakan saja.
Selesaikan dengan janji akan menjadi orang baik yang akan memutus segala tradisi.
Fotokopi,
Aduk kopi,
Tugasku adalah tugasku, dan dosaku adalah dosaku. Sudah terlalu lama dunia berputar dengan mereka yang berbuat baik tapi mereka yang lain yang mendapat pahala. Mereka yang menyelesaikan tapi mereka yang lain yang mendapat pujian. Karena setauku ‘membantu’ memang kata kerja, tapi harus pada tempatnya.
Mengingat alur secara mundur membuat kami sedikit banyak bersyukur. Tidak ada lagi yang ditunggu-tunggu. Tidak lagi menunggu kapan pelantikan, tidak bertanya kapan wisuda, dan tidak lagi membahas perihal penempatan.
Besok pagi berbeda dengan pagi-pagi tahun yang lalu. Harus menghitung dulu makan berapa kali sehari dengan mengingat harga per harga seporsi nasi. 2018, Warung Jatim lagi Warung Jatim lagi.
Saat itu kami banyak tidak tau. Setau kami hari rabu adalah Bahasa Inggris di gedung J. Setau kami jangan duduk di paling kiri karena pasti kedinginan di bawah AC, jangan juga paling belakang apalagi paling depan.
Saat itu dompet-dompet kami sama tebalnya. Bahkan tak perlu dompet pun bukan apa-apa. Sama-sama sahabat warung sobat, warcil, dan ayam geprek widarakandang. Apa kabar hari ini?
![]() |
| Komputer - Chrome - gametop.com - minimize |
![]() |
| Awal sekali |
Binder hanya berguna untuk Sufi dan Ulfah. Sedangkan Tika lebih memilih memotret layar dengan kameranya. Lalu sisanya, diam saja tau-tau tiga sks selesai. Dan tau-tau masing-masing sudah di Aceh, Batam, Yogyakarta, sampai Manado.
![]() |
| Ah, ini |
![]() |
| Kabar baik, Pak Rino? |
![]() |
| Pondok Jaya, sepertinya lain kali aku memilih PJMI saja |
Hari ini adalah apa yang kami usahakan kemarin-kemarin. Allah sudah menjawab, aku saja yang tidak dengar. Sekarang sudah mudah. Apa-apa tinggal pesan, mau ini tinggal beli. Lelah memang ada masanya, tetapi bersyukur harus tak ada batasnya.













Kaann, jadi rindu bintaro ":^
BalasHapusBintaro opo Juandaaa?
HapusItu tolong, HP nya kasian tinggal 1%
BalasHapusoke nanti disampaikan ke yg punya hp
Hapus