Langsung ke konten utama

Kepada Kalian



Pukul 22:42, aku teringat kalian. 
Dari kalian aku pun mengingat aku.

Kalian,

Duduk di kursi yang disambung dari uang mereka. Uang warna-warni yang ingin mereka tunaikan untuk tas sekolah anak-anak mereka. Uang yang ingin ditukarkan dengan atap berharap wanita dan anak-anaknya bahagia dan aman-aman saja. Tapi tidak seindah itu.

Uang itu berakhir di kalian. Untuk kalian.

Kalian,

Yang tidur di atas uang mereka. Berjalan tegak membeli wibawa dengan menginjak tangan mereka.

Duduk di sana pasti nyaman ya?

Kemana-mana dengan selisih lebih rupiah mereka yang kalian tuntut dari negara. Berjalan bergaya dengan kaca jam berkilat yang tak akan rengat selamanya. Gagah sekali.

Tuhan, masaku dulu mudah sekali. Pagi-pagi aku mengingatmu dalam langkah ke meja kerjaku. Jalanan boleh terik, tapi tidak dengan ruanganku. Tuhan, sekarang sebelas siang. Maka izinkan aku tidur sebentar. Lalu bangunkan aku untuk makan siang.”

“Tuhan, aku kesana dengan uang mereka. Begitu indahnya bila Kau melihat semua gambar berderet di galeri. Kata mereka juga sama indahnya. Lalu aku memasangnya di lelucon dunia. Instagram persisnya. Kau juga tau, Tuhan. Seratus lebih yang menyukai seni-Mu dalam gambarku. Kemudian mereka memujiku atas apa yang Engkau beri. Aku meninggikanmu, sungguh”, kata kalian.

“Tapi kalian curang”, kata seseorang.

Kalian terlalu berusaha bahagia seperti bahagianya mereka. Kalian palsu.

Lalu merakit uang mereka untuk selamat dari aliran yang tidak kalian inginkan.

Aku bosan.

Bosan dengan aku yang tidur di tengah kewajiban. Bangun dan makan dengan lauk nasi percaya diri. Tumbuh menjadi orang negara yang kuat dan penuh tidak peduli.

Aku seorang Aparatur Sipil Negara, kau tau?

Aku yang menukar uang orang tuamu dengan air hangat ruangan hotel bintang lima. Dariku, katakan terima kasih pada mereka.

Aku adalah seorang ber-plat merah, kau tau?

Berangkat dengan wangi harga diri pagi-pagi. Setidaknya garis putih depan itu adalah tempatku. Tolong menepi sebelum klakson tinggiku berbunyi.

Di cermin, pada bayanganku aku melihat kalian.

Kalian yang berseragam sama sepertiku. Dua pangkat kanan kiri yang sebidang dengan kejayaan.

Tuhan, aku mencintaiku.

“Tapi kalian curang”, kata seseorang.

Dan lagi,

“Kalian curang dengan tangan kalian sendiri. Jari kanan kau gunakan untuk mengaduk kopi, lalu jari kiri hanya kau gunakan untuk bersuci. Kuberi kalian kaki, kalian gunakan untuk berlari mencari gelar diri. Kurahmati kalian dengan pikiran, kalian tutupi dengan keinginan menumpuk uang dan rekening koran. Kalian adalah kelompok orang yang salah jalan. Cepat kembali sebelum kupotong kaki kalian pagi-pagi. Sebelum Aku membencimu lebih dalam lagi. Kembali, dulu sekali kalian kurakit dengan hati-hati untuk menjadi penolong Ibu Bapak kalian. Dan kalian masih kuberi jalan untuk kembali pulang pada lurusnya kebenaran”

Kepada ia yang kusebut “Mereka”,

Yang uang-uangnya berjalan lurus ke tabunganku,

Maafkan aku. Maafkan pula seribu temanku.

Maafkan kami karena pada maafmu tersimpan maaf Tuhanku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...