![]() |
| in frame: Mbak Ririn -Lampung |
---
"Coba bayangin deh mereka-mereka yang jauh banget dari homebase. Buat pulang aja tuh ya, ngabisin berapa ongkos. Lah dirimu masih dapet tempat yg bisa dibilang masih lingkunganmu. Ga ngadepin culture shock. Nyambung aja gitu kalo ngomong sama masyarakat sekitar. Jalankan saja hobimu. Jalankan duniamu. Mari beli skinker saat gaji tiba. Hiya" - Fatma, 19 Maret 2019
dengan tulisan chat WhatsApp yang tentu saja sudah diperbaiki. Tulisan asli menggunakan huruf kapital, 'deh' dengan empat huruf h menjadi 'dehhhh', 'Ongkoszszszszszs', ditambah sepuluh tanda seru di belakangnya.
| Ditulis 21 Maret 2019 |
Benar, beberapa alasan membuat sebagian diriku tidak nyaman dengan Perak Timur. Pengalaman pertama memang begitu bukan? Sulit. Lebih sulit ketika kos di Jalan Teluk Pangpang banjir tiga kali dalam seminggu saat hujan karena semua celah jalan persis ditutup semen dan paving. Tentu saja poin terbesar bukan itu.
Jumat, 22 Maret 2019
Dokumen UP.9 tentang Pemindahan Pegawai DJBC itu datang sudah.
Dari katakan 51 orang, lima puluh lima puluhnya memberi semangat. Jangan sedih, Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Begitu.
Sisa satu orangnya adalah Fatma. Hanya Boru Siantar itu yang memberiku ucapan selamat. Karena memang dia tau.
Dulu, sekitar dua atau tiga hari pertama kami berenam di Surabaya, kami sudah tau bahwa dua dari kami akan direkomendasikan ke Madura seperti yang disampaikan Kasubbag Umum. Kami berenam jelas memilih tidak. Sampai tiga bulan kemudian hampir-hampir aku menyerah di sana dan memilih satu dari dua kursi kosong ke Madura.
27 Maret hingga kini,
Menyesal sekali tidak belajar Teknis Cukai dengan benar. Terlebih ketika memilih bangku dua dari belakang di kelas dan melakukan hal apapun asalkan tidak menyimak apa yang dikatakan Pak Syaiful Anwar di depan.
Tapi bukan itu.
..Sigaret Kretek Mesin merek ini dan ini yang tidak dilekati pita cukai sesuai SBP nomor sekian tanggal sekian..
Tulisan itu hampir ada setiap hari. Cukai. Rokok.
Ya, rokok.
Tiga puluh hari dalam satu bulan dan tiga puluh tiga puluhnya tak pernah tanpa asap rokok. Darimana saja. Dari arah mana saja. Tidak lagi kanan kiri, tapi berputar-putar. Beruntung ada hari Sabtu dan Minggu di kalender.
Mulanya tak masalah sampai mahasiswi PKL itu bilang padaku tentang berita meninggalnya perokok pasif di TV. Sampai empat dari mereka menyarankan untukku cek paru-paru. Setelahnya aku masih biasa dan baik-baik saja. Sampai suatu titik benar-benar 'hei, bisakah kalian ingat bahwa aku masih perempuan yang mempunyai biji janin dan harus melahirkannya dengan sehat suatu hari nanti?' Kataku. Dalam hati tentunya. Negara memang memberiku gaji pokok untuk bekal bulan-bulan ke depan. Tapi apakah demi urusan negara rokok-rokok itu akan mempengaruhi organ dalamku? Se-mengkal itu aku saat itu. Tapi tetap, aku tidak berkata apa-apa, absen pukul 07.30 kadang lebih sedikit dan absen pulang pukul 17.00 kadang sedikit lebih malam lagi.
Sampai suatu saat dinding kaca itu dibangun sebagai sekat pemisah dua meja di ruangan dengan meja yang lainnya. Dilengkapi satu pintu geser di samping kiri dan pintu utama tepat depan mejaku. Tentu saja, Allah sedang bekerja. Sejak itu, tidak ada lagi asap-asap rokok ke wajahku.
Di dunia ini banyak yang aku tak suka.
Kerumunan orang di ujung gang malam-malam, suara knalpot motor rakitan, alun-alun penuh dengan pasangan SMP SMA, dan kata-kata umpatan. "Astaga bisa tidak kau berjalan di bumi ini dengan baik-baik saja tanpa harus benci suara knalpot sampai alun-alun agar kau bahagia?." Mungkin begitu kata dinding-dinding di jalanan sana.
Dunia aku sudah berusaha untuk tidak peduli. Kurang apatis apa aku? Tanyakan saja pada teman-teman kelas saat kuliah dulu.
Tapi poin terakhir dari empat itu paling sering kedua setelah asap rokok di sini. Umpatan. Seolah-olah sudah menjadi pengganti zikir yang diucapkan lebih dari 33 kali sehari. Di sini bahkan dimanapun juga mungkin itu biasa-biasa saja. Pindah saja ke Eropa bila tak mau mendengarnya. Lucu sekali. Bagiku, lebih baik kalian bernyanyi sengau tak henti-henti atau diam saja mengunyah cakwe saat marah, kaget, senang atau apapun itu yang mengharuskan lidah kalian untuk mengumpat. Apapun itu. Asal jangan mengumpat.
Kata-kata kasar itu tidak bisa berdamai denganku. Kalau menurut Sudjiwo Tejo itu adalah bagian dari budaya, maka katakan saja semua umpatan pada Ibu kalian. Lalu bilang Bu, itu semua adat Jawa. Mungkin Ibu kalian akan sama denganku memukul dengan piring kalau saja anakku begitu.
Dan baru sekilas aku sadar bahwa tulisan-tulisan ini menjadi semakin sarkas. Mungkin karena aku mendengar 'kata' itu sehari-hari.
Kawan, ini jugalah yang membuatku jauh saja dari Surabaya. Ternyata di Madura juga sama.
Bedanya di sini ada Mbak Dita yang selalu memanggil saat adzan Maghrib dan Isya. Mereka yang selalu berpuasa senin kamis, juga novel 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu' yang menjawab bahwa dunia ini adil. Hanya saja aku yang tak tau. Bukankah selalu begitu? Jalanan penuh dengan perempatan yang semua pilihan ada padamu untuk berbelok kemana. Suara penuh dengan umpatan dan pilihan untuk tidak mendengar atau mengikuti ada di tanganmu.
Seperti pensil dua belas warna, begitu juga mereka.
Selamat Yudisium bagi Risma dan kawan semua. Di dunia kerja, ada mereka yang membimbing dan memperkenalkan satu per satu. Tak menyalahkan saat nyatanya aku atau kawan salah cetak atau salah apapun sebagainya. Tapi membenarkan saat kami keliru dan mengatakan 'tak masalah aku dulu juga begitu'.
Ada yang menaruh sejenak pekerjaan demi mengajari membuat format Surat Keputusan. Ada yang menyingkirkan sejenak putung rokok di atas asbak untuk memberitahu padaku tentang lampiran-lampiran.
Tapi, ada juga mereka yang menaruh delapan puluh persen tugas mereka padamu. Ada. Mereka meminta tolong dan saat itu kawan tak akan bisa menolak. Meskipun mereka tau kalian sebenarnya tak mau. Tidak ada kata lain selain 'Siap' dan 'Oke'. Padahal saat itu kalian bergetar dan tak berani memulai. Padahal saat itu tugas yang dititipkan pada kawan begitu banyaknya sampai jangankan makan, menyapa teman beda seksi yang lewat saja tak sempat. Berat ya? Tapi bagaimanalah. Mengeluh atau tidak semuanya harus selesai.
Untuk kawan yang sejengkal lagi akan masuk ke dunia kerja. Atau untuk kawan yang setahun lagi atau mungkin masih lama, dimanapun kalian nanti, itu Allah yang memilih. Bukan kalian. Langit yang memutuskan dari pohon mana buah yang akan kalian makan. Bahkan mungkin ketika kalian memilih Bali di pilihan pertama dan benar bahwa Bali adalah tempat kerja kalian, itu Allah yang mengantar kalian untuk memilih Bali.
Kita tidak pernah dipertemukan dengan mereka secara kebetulan. Mereka datang sebagai perpanjangan pesan Tuhan tentang apa yang harus kalian pelajari. Jauh mengajari kawan tentang sabar dan dekat mengajari kawan apa itu syukur.
Ini bukan main. Suatu saat, kalian akan ada di tempat itu karena kalian harus bertemu seseorang dan harus mengetahui serta memahami sesuatu.
Bila kawan sudah lebih lama di meja kerja, jangan melihat anak baru sebagai pembuat kopi. Kemeja putih dengan bawahan hitam itu cukup takut untuk memegang sesuatu yang baru. Pun ketika mereka sudah berseragam rata seperti kami, jangan bebani dengan kewajibanmu. Seperti kalimat menarik dari entah mana,
"Kalau kinerjamu sepuluh juta tapi gajimu lima juta, Allah akan memberi lima juta yang lainnya dengan cara yang lain. Dan bila kinerjamu lima juta tapi gajimu sepuluh juta, Allah akan mengambil lima juta sisanya dengan cara yang lain juga."


Komentar
Posting Komentar