Langsung ke konten utama

Pejuang Pulang




Ada yang tau kenapa kertas-kertas itu justru seperti tidak ada ujungnya di hari Jum'at?


Harus naik ke lantai tiga dengan lebih cepat barangkali Kepala Kantor sudah bersiap untuk pulang padahal kertasku perlu tanda tangan.

Ketika tugas masih sekitar dua puluh persen lagi, mesin absen yang tak jauh dari ruangan mulai berbunyi-bunyi. Padahal masih jam empat sore lebih. Disusul suara Kepala Seksi ruang depan yang berpamitan pulang. Tentu, flexi time pasti ada di hari Jum'at.

Dulu, aku tidak terkesan dengan pintu rumah. Aku sudah melewati jalan berangkat-pulang ratusan koma sekian kali. Mungkin angka ratusan itu yang membuatku lebih ingin melihat plat nomor lain selain 'S'. Ingin melewati jalan lain selain perempatan Bambu Runcing tempat mereka-mereka terkena razia. 

Ah, bagaimanalah hawa Jakarta. Jogja, Bandung, Malang, atau dimanapun itu selain rumahku.

Aku ingin ke barat, timur laut, utara, dan semuanya.

2016, langit memberiku jawaban satu per satu. Jogja.
Hidup dua semester di kompleks Sagan, Depok, Sleman. Mulai mencoba-coba bagaimana caranya memasak sayur tumis atau berkuah di rice cooker. Mulai mengendap dan berlari kamar-toilet agar tak tampak oleh tetangga kos pria depan rumah. 

Jogja selalu tergenang saat hujan. Mungkin karena bapak-bapak kompleks di sini lebih memilih paving blok untuk menutup jalan agar tak berdebu. Akhir semester dua, Jogja, sepertinya aku harus mencoba ke Jakarta.

2017, selamat datang di Stasiun Pasar Senen. Kresek merah ini berat sekali, tapi aku lupa ibuku memasukkan apa ke dalamnya. Kamar paling ujung di kos Jl. Makadam no. 71 itu dipilih Pak Usep untuk jadi kamarku. Tanpa sinyal handphone dan tentunya tanpa sinyal WiFi. Pondok Jaya-Ceger terasa sekali saat apel pagi. Terlebih harus pagi dan menggunakan rok PDH yang satu itu.  

Masih ingat sekali ketika pinjam sepeda tetangga pukul tiga pagi demi membayar tiket di Indomaret. Atau di Alfamart. Atau dimanalah yang penting aku bisa membayarnya. Karena yang benar saja, antrinya bukan main. Antri dengan mereka yang sama-sama ingin pulang saat lebaran. Tidur hampir subuh dan bangun sesudah subuh lanjut upacara rasanya aku bukan manusia lagi. Untung saja senin hanya  upacara. Sisanya tak ada kelas.

Semakin lama dan tua, jalan ke rumah tak lagi murah. Tak juga dekat. Dan tak lagi mudah. Semudah aku dulu yang hanya bernyanyi-nyanyi di jalanan perumahan tau-tau sampai. Hanya mengayuh pedal dengan membawa asap-asap ujian sekolah lalu kemudian sampai. Tak lagi.

2018 di Surabaya, masih belum sadar juga rupanya. Sampai ketika dua senior Akuntansiku bilang, "Pulang sebelum makin nggak bisa pulang."

"Pulang sebelum makin nggak bisa pulang"

Baiklah, aku akan lebih sering naik Bus Damri di pelabuhan tujuan Terminal Purabaya tiap minggu. Tapi, akhir maret memutuskan untukku seratus kilometer lebih jauh lagi, di Madura.

Sebenarnya tak apa di sana.
Lagi-lagi dengan Refangga, Bigas dengan gilanya, Yuna dengan tingkahnya, Annas kawan di Surabaya, dan Sipli asli Nganjuk tepi kota. Juga senior-senior yang ternyata sama lakunya dengan kami. 

Hanya saja Madura menjawab bahwa aku salah.
Salah selama ini tak dekat dengan ingin pulang. Tak terlalu tersentuh dengan jalan kembali ke rumah. Tak sering lagi mendorong kusen pintu dan mengucap salam "Bu, aku pulang."

Dinding-dinding kamar menyisakan bekas poster Lee Sung Min, Xiumin, hingga girlband Spica yang entah siapa itu yang jelas kupasang saja, sayang bila dibuang. Sekarang hanya berbekas. Sisa dulu kucopoti sendiri saat mendapat rahmat di akhir SMA. 

Rumah tanpa kami seperti tanpa kakak yang menyapu. Tanpa aku yang mencuci piring sampai pukul satu dengan speaker keras dan musik itu-itu saja. Kadang menoleh sesekali barangkali aku tidak sendiri di dapur. Rumah dengan orang tuaku yang semakin tua dan tak banyak bicara. Sepi.

Untuk itu aku pulang. Untuk pembuktian bahwa aku masih hidup dan akan tetap mencuci piring sampai pukul satu. 

Tak heran Terminal Purabaya tak kunjung sepi. Bungurasih akrabnya. Tempat yang sebenarnya aku tak ingin lama-lama di sana. Kondektur Bus yang tiada diamnya bertanya mau kemana, kuli panggul dengan kardus-kardus itu, mereka-mereka yang melambaikan tangan, dan susu Bear Brand yang tau-tau jadi tiga belas ribu. Terminal bukan hal yang menyenangkan. Dari sana semakin yakin bahwa dunia sebenarnya tidak baik-baik saja dengan bapak-bapak penjaja tahu, buku sepuluh ribuan, dan sebagainya. Kontras sekali. Sekaligus bersyukur. Terimakasih bahwa aku punya uang untuk pulang dan juga punya uang untuk kembali. 



Pukul 22:00, aku harus lanjut ke jalur delapan belas jurusan Solo-Jogja. Dengan uang sepuluh ribu entah mau duduk atau berdiri atau menggantung atau terjepit terserahlah yang penting turunkan di Terminal Mojoagung. 

Seperti Cinta Fitri, sepertinya akan panjang sampai season tujuh bila membahas bus. Tercekik tali nametag yang terjepit di resleting bapak-bapak yang kalap mencari kursi, berpegangan kursi, besi, atau apapun yang penting jangan sampai terpelanting saat sopir banting setir, dan aroma-aroma khas perjuangan seharian di terminal. Lengkap sudah. 

Akhirnya, semuanya selesai di sebelas malam. Aku pulang.

Kereta, Pesawat, bahkan Kapal terasa sama saja. Sama-sama panjangnya. Tak benar-benar tidur dengan punggung tegak atau bengkok sedikit. Dengan AC sekalipun. Bila saja tertidur di kursi rumah, mungkin akan terus tidur karena paham bahwa ini rumah. Ini di rumah.



Sekelas Eselon III masih dengan bus Madura-Surabaya lanjut Surabaya-Jember. Yang lainnya tetap ingin pulang meskipun Idul Adha jatuh di hari Minggu. Meskipun 17 Agustus juga di hari Sabtu. Agustus, kenapa kalendermu bersih sekali? Apakah sampai Desember juga sama? Padahal kami-kami ini belum bisa ambil cuti.

Pulang, lelah setelah seharian di jalanan rasanya menjadi semakin lelah. Haha. Benar memang. Kembali ke kosan pun tak pernah sekalipun mereka tak memberi apa-apa. Entah lauk makan, buah, keripik apa, atau sekadar kresek untuk jaga-jaga bila hujan tiba-tiba. Pulangku tak pernah sia-sia. Siap lagi bertemu printer itu lagi, mereka lagi, dan klakson-klakson di jalanan Alun-alun saat pagi.

Meskipun mimpi nanti tak ingin lagi sekadar di jalanan Indonesia, lebih mau lagi untuk ke Eropa, mencari diri dan mimpi yang lebih baik, tetap jangan lupa pulang, ya!


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...