Masa Leadership Training dulu, kalimat yang paling banyak ditanyakan pada senior saat perkenalan kelas bukan tentang "Dosen yang ini gimana, Kak?" atau tentang kiat sukses tembus IPK 4. Masing-masing dari kami meskipun bosan tapi tetap menanyakan 5W+1H Samapta. Entah itu hanya sekadar membangun topik atau memang murni ingin tau.
"Dulu di sini nih, kemasukan cacing. Aku baru tau pas ngerasa kok kayak ada yang gerak-gerak", jelas senior dari alumni kos yang sama sambil mengarahkan pandangan kami ke pergelangan sampai telapak tangannya.
Pesan yang paling kuingat hingga kukatakan pada teman-temanku adalah jangan lupa mencatat password akun apapun. Email, pin ATM, apalagi media sosial serta pola kunci layar handphone.
2018,
'Tidak' adalah jawaban bila mereka mengajakku membeli atau datang kemanapun itu yang berhubungan dengan skincare atau semacamnya. Entah pemikiranku yang dangkal atau memang semua itu akan sia-sia saja selama aku belum Samapta.
2019,
Malam terakhir Latsar di Aula E bukan seperti perpisahan bagiku karena paham akan bertemu lagi dengan sebagian besar dari mereka saat Samapta, kecuali dengan kawan-kawan pajak seperti Sazu yang matanya mulai sembab ketika sesi renungan.
Meskipun kawan bertanya tentang tips bertahan hidup padaku sepulang dari Samapta, tulisan ini bukan tentang tutorial survive. Pun bukan dalam rangka bocor tipis atau spoiler karena kurang mengena rasanya bila kalian tau jalan cerita sebelum mengambil peran.
STARTER PACK :
Beberapa jam setelah perlengkapan dibagikan, riuh sudah mereka sembari mencari siapapun yang mau bertukar nomor sepatu yang pas. Duduk menjahit dan merapatkan kancing baju PDL dengan menjunjung semboyan bahwa kancing-kancing ini harus lengkap sampai akhir karena kami tidak akan tau kapan Pelatih akan membahas dan menghitung kancing di baju ini.
Setidaknya tinggiku bertambah dua setengah senti ketika memakai sepatu PDL. Sepatu ini pun menyumbang setidaknya satu setengah kilo saat Pelatih menyuruh kami berdiri di atas timbangan berat badan digital. Aku sangat ingin mendengar bahwa sepatu itu beratnya tiga kilo karena kenapa diriku yang dulu 52 kilo kini malah 55,7 kilo dengan sepatu itu?
Sepatu. Kami diharuskan selesai menyemir, menggulung matras, bersiap, mengikat tali sepatu, bahkan kalau mampu mandi dan gosok gigi dalam tiga menit terhitung ketika granat meledak dan mengharuskan kami berbaris lengkap di lapangan. Sepatu baru itu bukan main. Belum sampai mengikat, mencoba mendorong telapak kaki ke dalam sepatu saja sudah memakan 65% waktu hidupku di Samapta. Ingat betul tentang dua plester panjang di dua ibu jari karena berdarah dibuatnya. Sepatu baru yang kaku.
Mendengar semir itu bisa membuat sepatu menjadi lebih lemas, membuat kami memakai waktu setelah apel malam, sebelum makan pagi, bangun tidur, istirahat long march, dan kegiatan apapun itu untuk menyemir sepatu. Samapta adalah tentang menyemir sepatu.
Tali komando yang berceceran di lapangan dan jadilah karet pentil ban sebagai gantinya. Kaos kaki TNI, tas loreng yang resletingnya auto buka dan beban dua gayung pasirku terjatuh dua kali dan memaksaku melemparnya ke trotoar saat Lintas Medan.
Juga benda hitam panjang dan tak tau bagaimana cara memakainya. Belakangan dulu baru kutau namanya kopel. Jangan lupakan tongkat. Tongkat yang harus selalu dalam posisi depan senjata saat mendaki sekaligus melahirkan Bazoka dengan batang pohon pisang sebagai gantinya karena Ia tak sengaja kehilangan tongkat saat menerobos kawanan tebu menuju Jalan Raya Pakis-Jabung sampai maghrib.
Kulihat masih aman-aman saja sampai ketika Sikatan yang satu kelompok denganku berhenti dan melihat tangannya. Lama Ia tak menjawab kenapa berhenti. Hingga akhirnya Ia berkata dan kami menyadari bahwa tangannya kosong dan tidak membawa apapun. Jadilah satu dari tebu itu kuinjak dan mematahkannya sebagai ganti tongkat Sikatan yang berperan sebagai pembuka jalan di depan. Belum lagi dengan Kolibri bertemu denganku dengan pelepah pisang yang Ia tarik ketika turun gunung. Lebih dari beberapa kali Ia bertanya apakah sebaiknya batang pohon pisang itu ditinggal di pinggir jalan saja? Berat katanya. Awalnya masih kujawab jangan. Pikiranku masih lurus dan terngiang-ngiang Pelatih Sukir dan Pelatih Pardiono. Namun dua sampai tiga kali Kolibri bertanya, akhirnya kujawab buang saja. Kakiku lelah turun dan lelah menjawabnya. Sampai di pos karate Pelatih Slamet, batang pohon pisang itu pun berhasil ditukar dengan batang pohon singkong.
Ponco, slayer, topi rimba, juga helm. Helm yang meskipun berat tapi sangat membantu. Bagaimana bisa? Nanti pasti tau.
NAMA SUCI
Apalah itu Sikatan. Kolibri?
Sikatan adalah Firman, Kolibri adalah Tika. Aku pun bukan aku. Memakai Merpati sebagai nama suci yang katanya ketika ada lelucon atau hal sejenisnya kami tidak akan diingat dengan nama asli, melainkan dengan nama ini sehingga nama kami tetap bersih.
Ada-ada saja di Samapta.
Ingat betul ketika para unggas itu diharuskan berenang di Embung Cempaka yang sudah kuduga kami tidak akan berenang di kolam keramik atas melainkan di genangan air dalam dengan dasar gelap dan kedalaman bervariasi. Meskipun jangan tapi prasangka buruk kami lebih sering menjadi kenyataan. Irma, si Burung Dara itu berteriak dan erat-erat melingkarkan tangannya padaku saat hampir tenggelam tanpa tau bahwa Merpati ini juga kapok setengah mati dengan air dalam karena pernah hampir tenggelam tengah kolam meskipun dibantu dengan karet ban. Yel-yel, Pop Mie yang dipamerkan adik kecil itu, air yang dingin, serta sabun muka Kolibri yang jatuh ke sungai nun di bawah sana.
Tentang sarapan hingga makan malam yang selalu dilakukan empat sampai enam shaf. Tak tau dengan siapa nanti kita akan berhadap-hadapan saat makan. Bila kenal berbincang, bila tidak mata seperti lari ke langit-langit, memandang tutup nasi, hingga terpejam ketika duduk siap grak sampai dipersilahkan makan untuk menghindari kontak mata. Makan rasanya hanya 5-10 menit dan waktu habis untuk meluruskan sendok, tempat makan, teh, dan semuanya. Waktu akan lebih panjang lagi ketika siswa Decu memimpin sarapan tapi dengan keterangan 'Makan Malam' di belakangnya. Belum lagi tentang laporannya yang harus meliputi ikan sarden, nasi putih, sayur, kerupuk, dan teh manis..
anget.
panjang sekali spasinya.
Sempur yang berinovasi dengan Kerajaan Singosarinya, Kolibri yang harus melapor pada pohon pepaya yang paling banyak buahnya, dan banyak lagi. Sisa nasi di tengah tempat makan, sesi berebut jus, hibah krupuk sampai Cucakrowo yang tak doyan tempe serta Cenderawasih yang enggan dengan tempe juga salak.
"Ada yang nggak mau susu?"
"Mas, mau nasi?"
"Sini tempenya.."
Barak,
"berapa orang?", adalah sandi ketika para siswi berusaha untuk mandi di toilet.
"Sst, eh tolong dong" kepada siapapun yang ada di dekat pintu untuk senantiasa menutupnya karena barak kami berhadapan langsung dengan barak siswa.
![]() |
| Barak siswa |
"Pintunya dong pintu.. AAAAAAAAAAAAAAAAAA!", dengan gaya sprint mencari tempat mengungsi ketika pintu terbuka saat kami tidak siaga dengan tidak memakai kerudung.
Malang memang dingin. Dan rasanya saat-saat itu lebih dingin dengan 18 derajat dan kabut tebal di lapangan. Kami harus mengemas diri dengan plastik ketika tidur di gunung dan aku tetap memakainya di barak. Pagi hari selalu bangun dengan plastik yang mengembun dan harus dijemur sampai siang harinya. Mandi pun tak perlu selama itu. Air sangat dingin dan jarang dari kami keluar kamar mandi dengan baik-baik saja kecuali dengan menggigil.
Tapi air dingin itu tak sepenuhnya membangunkan kami yang berwudhu untuk sholat Subuh. Sholat Dzuhur, Ashar, hingga Isya rasanya riuh sekali. Tapi tidak dengan Subuh. Kami menunduk dengan gaya masing-masing dan berakhir lupa apakah aku sudah salam atau belum setelah tahiyat akhir.
Samapta, lupakan kaca. Banyak dari kami yang begitu bertemu kaca di toilet masjid saat jam sholat langsung mengelus-elus pipi dan heran kenapa ujung hidung malah hitam duluan. Kulit simbol wafer putih lapis coklat, belang luar biasa. Tapi bersyukur selama tidak mengelupas.
Skincare mereka turun tahta menjadi minyak tawon yang dimasukkan dalam botol spray dan tak pernah lupa digunakan. Kudengar itu cukup membantu apalagi ketika naik pohon pukul dua belas malam dan satu pohon beda dahan dengan Maleo. Tak perlu waktu lama, hanya diam sebentar, kemudian Ia meminta pendapatku bagaimana bila Ia turun dan tidur di tanah saja. Bisa jatuh katanya kalau tetap percaya diri tidur di pohon dengan posisi tidak strategis seperti itu.
Sebelum itu diawali dengan aku yang jaga malam bersama Prenjak kemudian terdengar teriakan Alap-alap yang melantur pukul sebelas malam di seberang sana yang untuk sedetik membuatku lupa tentang menggigil kedinginan. Mendengar itu para pelatih tak peduli lagi dengan jaga malam yang menanyainya tentang selimut malam (sandi) bagi siapa saja yang masuk lapangan. Pertama kukira Ia dililit ular atau tersengat apa. Ternyata.
Tanpa senter, makam, jurit malam, dan siraman botol air sebagai insting menyelamatkan diri.
Samapta mengajarkan kami untuk tidur dimana dan kapan saja. Insomnia dipastikan selesai di sini. Lulus Samapta, tak perlu rest area pun kami bisa tidur di pinggir jalan, teras masjid, bahkan saat berjalan. Tidur dengan mata terbuka. Mungkin.
Pasca makan, 'Ngess' lima belas menit. Benar-benar setelah makan. Makan berat. Tidur, tidak, tidur, tidak, kuputuskan tidak tapi tetap akhirnya tertidur. Gladi upacara pada minggu malam tengah khidmat-khidmatnya sampai tongkat Perkici jatuh karena Ia tidur sambil berdiri. Pun mampu tidur dengan jas hujan di sela-sela pohon orang dengan hujan yang membuat nomor helmku yang semula 19 menjadi tinggal '1' saja, '9'-nya lenyap. Masih bersyukur daripada siswa yang tinggal angka '0' saja.
Pun kami bisa tidur di truk Paskhas yang tidak mengenal lampu hijau serta berguncang-guncang.
Kami membawa uang, tapi tak bermanfaat.
Warung yang menjual mie instan terasa nun jauh dari bumi Gondo Mayit. Pop Mie, Bakso, Mie Ayam, apalagi sambal adalah deretan makanan impian. Hingga mendorong mereka untuk memanfaatkan keadaan dan mengambil satu dua Indomie dari kardus. Syukurnya pelatih baru tau ketika di ujung penutupan. Akhirnya di beberapa hari terakhir, bakso pun tercapai dengan lembar sepuluh ribuan.
Samapta menurutku tentang mental. Kamu bisa tapi sayangnya tak tau dan tak mau. Di Samapta baru kupaham bahwa betis dan telapak kakiku bisa dipaksa dan bisa akhirnya berlari tiga kilometer, mendaki dan turun lagi. Scissor Kick, Jumping Jack, serta pemanasan-pemanasan lainnya oleh Pelatih Sukir dan menjadi sangat-sangat panas dengan Pelatih Sigit. Mencoba turun dengan tali-tali itu dan terngiang-ngiang kawan yang memanggil semua sanak keluarga mereka di rumah. Samapta tidak se-ngeri itu pada akhirnya. Tapi juga tidak semudah itu. Yang pasti lelah kalian tidak sendiri, silahkan sambat tapi jangan lupa semangat.
![]() | |||
| Jaket kulit dan Gondo Mayit (Cr bdkmalang) |
![]() | ||
| Tangan kanan dilonggarin!-- SUDAH PELATIH!! (Cr bdkmalang) |
![]() |
| Sementara itu.. (Cr bdkmalang) |
![]() |
| D-day (Cr bdkmalang) |











Kok namanya bukan runner, number one atau dancer???
BalasHapusMerpati lebih oke
HapusUwU
BalasHapusSAMAPTA 💕
Namaku banyak banget disebut wkw. Btw itu bukan kayu singkong, tapi kayu lamtoro :)
BalasHapusSiap Kolibri
Hapus