Seperti berlari delapan puluh kilometer per jam, bukankah dunia begitu cepat?
Televisi masih tentang iklan-iklan handphone dengan iming-iming kamera canggih yang tak ada habisnya. Kiri-kananku juga tetap sibuk memilih warna sepatu apa bagusnya yang akan mereka pesan di situs belanja online.
Hari ini koran hampir pensiun, sesekali masih digunakan untuk mengusir lalat yang mendarat di dagangan ayam bakar depan kos. Ketika alat-alat doraemon perlahan menjadi nyata, aku masih di sini dengan segaris sinyal 4G.
Dunia, aku rindu masa lalu.
Masa ketika aku berkali-kali menjawab pertanyaan Dora saat ia bingung harus ke gunung atau ke hutan. Masa ketika tabung televisi masih membuat kami menonton dengan damai tanpa berebut remote karena memang tak ada remote-nya. Ruang tamu nenek riuh karena para tetangga yang juga sepupuku membawa sepupu-sepupunya.
Dunia, apakah kau tau?
Dulu aku tidur sembarangan dimana saja dan meminta makan kepada siapa saja. Tetangga sebelah rumah dan sebelahnya lagi adalah adik dari nenekku. Rumah berdinding putih di depan juga masih keponakannya.
Hari Raya terasa seperti benar-benar Hari Raya ketika datang ke rumah mereka dan dijamu dengan toples berjajar warna-warni. Setelah teh manis habis, aku dan kakakku bersalaman dengan mereka dan tau-tau kami pulang membawa lembar uang sepuluh ribuan.
Dunia, kemana mukenah pasar buahku yang dulu?
Mukenah yang hampir membuatku pulang tarawih duluan kalau saja aku tidak menunggu nenekku sampai sholat witir.
Kain putih itu dihiasi dengan bordir-bordir nanas hingga semangka sebesar telapak tangan dan bergelantungan, aku malu. Ketika pulang lampu jalanan masih redup dan mereka para gadis desa itu tersipu-sipu ketika berpapasan dengan kaum bersarung di masjid.
Hari ini aku sudah sibuk dengan kertas dan printer. Adik sepupu yang dahulu selalu mengekoriku sudah biasa berbahasa ‘wich is-literally’.
Ketika sekeliling sibuk menghitung uang, aku rindu dan ingin pulang. Pulang kepada irisan-irisan ingatan yang meskipun saat itu kami tak tau apa-apa tapi tetap bahagia.
Abi, sekarang aku bebas menonton TV saat puasa. Tidak seperti dulu ketika Abi melarangku dengan alasan banyak iklan sirup dan minuman soda. Takut aku tak tahan katanya. Benar, andai Abi tau kalau dulu gelas kaca itu kuletakkan ke tempat asalnya untuk menghilangkan bukti bekas minumku di siang hari.
Kata apapun tentang Ramadhan membuatku mengurai lagi semua kenangan.
Kenangan, salam untuk Ibu. Katakan ‘maaf’ dariku yang tak mampu untuk pulang sekali seminggu. Ibu, siapa sekarang yang mengantar makanan ke masjid? Terakhir dua tahun yang lalu, aku masih dengan terpaksa membawa keranjang itu kesana. Rasa terpaksa karena banyak dari mereka-mereka yang duduk di teras masjid kemudian berhasil membuatku merasa terancam.
Kapan ya Ibu akan bertanya lagi padaku tentang menu berbuka? Pertanyaan tentang kegelisahan antara Es Blewah atau Kolak Nangka.
Puasaku masih baik-baik saja. Berangkat tarawih dan ingat dahulu siapa yang akan membawa kunci rumah ketika akan ke masjid. Ah, Abi sering membawa kunci tapi tak pulang-pulang dan melupakan tiga kartini terkunci depan pintu.
Ketika kini masih bingung mau berbuka di warung yang mana, teringat dulu piringku terisi oleh tahu isi dan makanan empat sehat gratis di rumah sana. Sahur, bukan lagi terbangun oleh suara Abi yang sering mengatakan imsya’ kurang lima menit meskipun nyatanya masih satu jam lagi.
Ramadhan, apa kabar kakakku? Apakah ia masih segemuk dulu dan tetap menjadi tukang makan andalan?
Terakhir bertemu dulu bobotku terlihat lebih berat darinya. Apakah ia juga sedang tidak baik-baik saja?
Ketika aku memilih untuk pulang, aku diharuskan terjaga di bis patas antar kota selama tiga jam. Belum lagi ketika laju bis mendadak hampir oleng lima belas derajat ke kiri ketika menyalip pengguna jalan yang lain di depan. Musik dan dua earphone itu setidaknya membuatku sekejap merasa baik-baik saja dan berakhir mensugesti diri bahwa jalanan itu indah dan aku pasti akan selamat.
Sampai di Terminal Purabaya, langsung menuju jalur delapan belas jurusan Solo-Jogja dan sudah kuduga akan berdiri nantinya. Belum hilang ingatan ketika id card yang terkalung di balik hijabku tak sengaja terkait di resleting tas bapak-bapak dan leherku langsung tercekik.
Setelah hampir lima jam, akhirnya aku bisa tidur di kamar lamaku jam dua belas malam. Bulan Ramadhan, jam kerja berakhir pukul 15.30 sore. Tapi meskipun jam pulang satu setengah jam lebih cepat tapi aku tak bisa untuk selalu pulang.
Tapi kenapa harus mengeluh ketika aku hanya dengan bis antar kota sedangkan banyak dari mereka yang harus lebih lama di jalan untuk pulang?
Dunia, bangunkan aku ketika kalender sudah sampai di tanggal merah bertuliskan cuti bersama.
Hingga sampai saat itu tiba, tabahkan mereka yang jauh dan kuatkan mereka yang lelah. Bisakah Ramadhan kali ini akan menjadi cerita panjang untuk keluargaku di masa depan?
Semoga sama berkesan dan menanam ingatan-ingatan kebaikan.
(Ditulis 5 Mei untuk sebuah media literasi)

Iyin, C U besok lusa 😋
BalasHapusNulis seminggu 3 kali kek.. biar paling engga aku jadi gemar membaca
HapusDiam berbi, hayati tidak bisa renang
Hapus