Langsung ke konten utama

Uang Uang Uang Uang Uang




Sepanjang rambutku tumbuh tiga senti, pekerjaanku masih sederhana.

Rotasiku hanya sebatas lantai dua dan tiga.  Lebih banyak berurusan dengan kertas dan printer.
Usia dua puluh tahun aku lebih senang jajan daripada jogging atau sejenisnya di Car Free Day.

Dengan usia dimana tulang-tulangku belum tumbuh seratus persen ini, aku dan teman-teman mendapat semacam notifikasi rezeki yang bukan main jumlahnya. Aku yang awalnya memakai sampo dengan sehemat-hematnya mendadak tak peduli bila sampo itu cepat habis bahkan tumpah sekalipun. Yang awalnya membeli barang dengan uang pas, kini bisa menarik uang bahkan tanpa melihat nominalnya, mengambil barang di rak minimarket tanpa harus peduli dengan bandrol harganya. Pun membeli makanan apapun tanpa harus tau mereknya.

Uang, benar-benar ya.

Aku masih muda.
Muda yang tidak bijaksana.

Aku yang tidak bijaksana ini, dan uang yang sebanyak itu.
Seperti anak SD yang ingin cari permen tapi malah diberi uang untuk sekalian beli warungnya.

Harus kemana baiknya uang ini? Rasanya ingin kutanam saja.

Melihat mereka yang membeli gadget kisaran sebelas digit, aku pun ingin juga. Tapi gadget itu bisa memberi apa untukku yang telah mengeluarkan uang setebal itu? Lalu mau kukemanakan gadget lawasku? Kujadikan alarm? Atau hanya kujadikan kaca saja?

Entah aku yang kikir atau apa, yang pasti ada rasa tidak rela mengeluarkan uang setebal itu demi barang setipis handphone. Tapi ceritanya akan lain bila gadget itu tahan dua puluh lima tahun sampai anakku masuk SD, atau anti api, atau bisa sekaligus kujadikan telenan dapur.

Kameranya memang bagus, sangat bagus bahkan. Tapi untuk apa buatku yang payah menata feed instagram?

Processornya bagus juga, cocok untuk game. Tapi seumur-umur aku hanya memainkan game ular berkelit dan berburu bebek di nitendo. Bebek itupun kusasar dengan pistol game yang jaraknya hanya dua mili dari TV.

Mungkin aku akan membelinya bila gadget itu mempunyai fitur alarm dengan volume super untuk menyadarkan bahwa hidupku masih panjang.

Lucu sekali ketika tweet dari netizen itu berkata bahwa untuk apa handphone dengan empat kamera? Oh mungkin satu untuk selfie, satu untuk mengantar anak ke sekolah, satu untuk menanak nasi, dan satunya lagi untuk membeli garam di pasar. Komplit juga.

Menjadi remaja dengan hidup yang hanya memikirkan lambung sendiri, uang uang itu akan sangat berlebih. Aku bisa makan empat sehat lima sempurna dengan itu. Tapi apakah akan sama ketika aku sudah tak sendiri lagi?

Harga sawi saat ini boleh dua ribu, tapi apakah lima tahun lagi akan tetap dua ribu?



Kesimpulan
Alasan membeli barang hypebeast:

"Uang bisa dicari" 
-benar.
Rekening memang akan selalu terisi. Mereka yang biasa-biasa saja ibarat akan punya lahan kelapa sawit dengan rezeki itu di saat kalian masih saja menanam rumput teki

"Lebih canggih" -mungkin

"Tahan lama" -yakin?

"Kekinian" 
-pastinya.
Sayang sekali. Semua iming-iming itu tak akan ada habisnya. Dan segala keinginan itu juga akan sama panjangnya. Rasa lapar tidak akan selesai hanya dengan satu suapan.

Kalau barang-barang itu membuat tidur kawan tidak benar, belilah. Kalau itu memang membantu mengatasi delapan puluh persen beban kalian, silahkan. Diri yang paling paham, kalian dewasa dan kalian tau itu.




Jadi?







Komentar

  1. Selalu...






    Membaca tulisanmu membuatku tertawa kecil ditengah lelah dan jengahnya bekerja




    Thankyou iyins ��

    BalasHapus
  2. kapan aku bisa belajar langsung dengan seorang penulis yang bergaya JK Rowling ini?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...