Bahkan sebelum muncul buku "Sebuah Seni untuk Menjadi Bodo Amat"-pun, aku sudah terlebih dulu menjadi seperti mereka yang tidak peduli. Tidak peduli telat kuliah, tidak peduli mode kemeja terkini, termasuk tidak peduli fitur-fitur baru instagram yang membuatku tak upgrade app yang satu itu bahkan sampai sekarang. Dan banyak tidak peduli-tidak peduli yang lain.
Ketidakpedulian itu kumpul menjadi satu kesatuan partai tanpa kupilah dulu mana yang baik dan mana yang tidak. Perlahan aku memanen hasil dari semua sifat apatis yang tak sengaja kutanam. Menjadi manusia yang lempeng-lempeng saja, tidak tau apa-apa, dan hanya bisa menjawab 'iya' dan 'iya'.
Kuliah memberiku teori tak tertulis tentang bagaimana seharusnya hidup. Menjadi guardian angel Sufi yang mudah asma itu, aku dilatih untuk bagaimana sabar menunggunya naik tangga. Tentang apa yang harus kulakukan saat ia balik kanan dan keluar barisan saat upacara, dan berlatih peduli-peduli yang selayaknya.
Seperti tumbuhan rambat, rasa peduliku menjalar kemana-mana. Mendadak aku menjadi peduli dengan tepuk tangan manusia, peduli dengan seperti apa aku di mata mereka, dan peduli dengan filter foto WhatsApp.
Tapi, ada sesuatu yang sebagian dariku tidak setuju. Apakah menjadi peduli memang baik?
Konteks lain,
Agama.
Ah, agama lagi. Ibarat langsung 'tap' story untuk skip sesuatu yang tak menarik, seperti itu agama kini.
"Bicara agama, mereka-mereka itu seperti hidup untuk mati saja. Begitu biar apa? Sudah tau besok mau sarapan dimana? Jangan dulu tentang mati, selagi sehat logisnya masih bisa ini-itu kok. Kamu muda, yakin mau gini-gini aja? Kerjaan masih susah lho. Mending seimbang dunia sama akhiratnya. Lihat mereka, be free!".
Itu bukan kalimat siapa-siapa. Hanya kalimat sebagian diriku kepada sebagian diriku yang lain. Dan aku yang seutuhnya hanya melamun dan tak paham harus menjadi apa.
"Hei,
kamu kira aku mau buat kemana-mana pake kaos kaki? Bahkan beli bubur kacang ijo depan kosan aja musti pake.
Adzan sholat tapi youtube lagi muter video bagus-bagusnya, dikira gampang asal berdiri ke Mushola? Tapi ya udah lah ya..
Aku juga punya ciri-ciri manusia ternyata. Pas emosi udah kayak pingin caci maki sejam durasi, lempar barang terdekat, atau apapun biar siapapun itu bisa diam atau lebih-lebih sampai pergi. Tapi diam aja deh. Atau aku aja yang pergi.
Mereka bahas doi-doinya. Aku?
Iya sih sholat bisa kok dijamak, kenapa musti ngoyo ngejar sholat kebut-kebutan sama jam kereta? Tapi sholat sekarang aja deh.
Aku juga mau lho jalan-jalan kesana bareng mereka. Tapi besok Isra' Mi'raj, terus musti gimana ya?
Sebenernya aku bisa kok asal dateng kemanapun, kapanpun, nyapa siapapun yang pingin aku sapa, like apapun yang pingin aku like, sekalian komen ini itu. DM bahkan. Tapi..
Wah jamannya nge-vlog ya. Kok bisa sih pipi para beauty vlogger sebagus itu? Masih punya pori-pori kan mereka? Pingin rasanya
Ih bagus-bagus ya fotonya. Nggak kayak feed instagram-ku. Kering
Banyak ya pinginnya. Cuman kebanyakan tapi. Kenapa musti harus ini harus itu?
Berat kok. Nyuci kerudung, handsock, kaos kaki, rasanya buang-buang sabun. Ngerasa banyak dikekang juga. Tapi kamu tau kok harus apa. Ibarat ujian ada opsi jawaban A, opsi B, opsi C, banyak kan? Tapi yang bener cuman satu. Kunci jawabannya cuman ada satu. Kecuali kalo yang buat soal salah ketik.
Terserah dunia mau ngomong apa, toh hidup memang akhirnya mati kan? Nggak peduli mau harus sakit dulu atau sehat-sehat aja. Kalau besok kena angin duduk gimana?
Jalani yang menurutmu bener dijalani. Kamu tau kalau adzan harus apa, kalau ngomong gimana bahasanya, kalau marah gimana bagusnya. Pun kalau makan doanya apa, kalau minum musti duduk apa gimana, kamu tau jawabannya.
Termasuk kamu tau semua pasti ada tanggung jawabnya. Katanya mau masuk surga? Yakin udah punya tiketnya? Udah nabung bekal apa aja? Reksadana atau sari roti? Yakin cukup?
Jaga segalanya ya. A pasti dibales A. Mata, lisan utamanya, pikiran, hati apalagi. Keluargamu juga nggak selamanya ada. Buktinya udah berapa yang nggak ada? Sempet ngasih sesuatu yang berguna nggak buat mereka? Dan, masih pede kalo kamu bakal baik-baik aja selamanya?
Kalau dunia bilang yang bisa bikin kamu kenapa-napa, kenapa harus peduli?
kenapa harus peduli?
Kenapa harus peduli?"
jawaban dari sebagian aku yang lain kepada aku yang lainnya terasa lebih masuk akal. Dari awal menjadi tidak peduli adalah benar. Benar jika paham apa yang seharusnya tidak didengar dan apa yang seharusnya dipedulikan.
***
(Topik lain)
Sudah berapa ya undangan-undangan nikah teman-teman SD SMP yang aku tak bisa datang?
Baru kenal beberapa minggu dengan mbak senior kantor yang feed instagram-nya kosong tapi sekalinya upload langsung postingannya berisi undangan Walimatul Ursy. MashaAllah
Benar, Allah tau kapan mampumu. Tidak perlahan tapi juga tidak terburu-buru. Silahkan memilih, aku juga pernah. Tapi siapapun itu, bukankah tetap Allah yang memutuskan?
Padaku yang pertama, habis tinta untuk setinggi-tingginya alinea. Berkali-kali membuat kata semoga dan berdiri siap untuk menyapa. Tapi diri memilih kedua, menjadi aku yang diam saja. Sekarang, biar Allah yang bicara.

Komentar
Posting Komentar