Langsung ke konten utama

Selembar Mutasi



Jarum jam di hari-hariku sudah berputar seperti itu selama hampir tiga bulan. Naik ke lantai dua kosan untuk mencari garis-garis sinyal berharap menjadi setidaknya empat garis 3G, syukur-syukur kalau 4G. Aplikasi ojek online adalah keempat yang paling sering kubuka setelah WhatsApp, Google, dan Instagram. Kalau berangkat lebih pagi aku masih bisa berangkat bersama Irma yang katanya harus makan tepat waktu itu. Menu sarapannya bisa ditebak. Nasi goreng, soto, sayur asam. Malamnya berganti ke mie ayam, bakso, geprek. Siang masih untung kami dipersilahkan ke ruang makan dengan menu zig-zag yang bervariasi.

Kemeja putih ini membuatku perlahan lupa hari. Diam-diam sudah tanggal 22 maret saja. Seingatku baru kemarin aku duduk di ruang rapat sepanjang hari memikirkan Indonesia dengan calon presiden nomor satu atau nomor dua. Membantu rekap surat-surat lalu kembali duduk lagi.

Hingga tersadar tinggal empat hari masa training ini selesai, aku masih sempat membeli dua bungkus nasi pecel malam-malam seturunnya dari Bus Mira. Masih mencuci tumpukan piring yang ditabung Ibuku di wastafel seharian. Sampai ketika grup itu penuh dengan kata: “Semangat ya!”

Apa ini?

Jumat keramat, link sakti itu pun muncul. Dengan handphone-ku yang hanya berputar-putar saja ketika mulai mengunduh dokumen itu. Tak tahan, aku mengirim link pada Ibu dan memintanya membuka di handphone-nya. Ternyata Ibu tak bersedia meminjamkan gadgetnya ketika tau bahwa itu adalah Skep Definitif. Jadilah aku bersimpuh di kiri Ibu mengimbanginya yang tengah berbaring. Detik itu aku ingin menggulirkan halaman ke atas dan ke bawah secepatnya untuk mencari namaku. Rupanya, tidak dengan Ibu. Beliau bercita-cita membaca skep dari atas dengan bijaksana. Mengeja nomor surat dan membaca nama-nama mulai dari nomor satu, dua, tiga, hingga dua puluh aku masih sabar. Nomor dua puluh enam aku masih tetap mencoba sabar. Sampai nomor tiga puluh tujuh aku mengatakan pada Ibu bahwa masih ada seribu ratusan sekian yang ada di bawah. Dan saudara tau apa jawabnya?

Ya nggak apa-apa..”

Tabah sekali.

Dengan sengaja aku mulai menggoyang-goyangkan bahunya dan mengatakan bahwa malam semakin malam dengan Ibu yang masih membaca dengan pelan. Akhirnya beliau mempersilahkanku mencari namaku lewat simbol kaca pembesar di ujung layar. Bagus sekali, ternyata dokumen itu hasil scan. Aku tak menemukan apapun. Akhirnya aku menggulir layar dari Indonesia barat, sumatera, Jakarta, Surabaya, dan.. namaku ternyata di Madura. Seperti yang diduga karena grup WhatsApp itu mencurigakan ramainya. Sontak terbahak-bahak dan enam puluh persen kemungkinan untuk pindah itu terwujud sudah. Dari awal aku memang berencana pindah kos, tapi tak kusangka kos yang baru nanti seratus kilo meter jauhnya dari kosku yang sekarang.

Mulai muncul kuis-kuis kehidupan tentang bagaimana pindahnya, kapan jalannya, dimana hidupnya, dan tanda-tanda tanya yang lainnya. Makin lebar lagi tawaku ketika baru tadi sore aku menyusun bukti aktualisasi sebagai tugas pelatihan di kantor training. Ketika meja kerja nanti bukan di kantor itu lagi, maka otomatis aku harus mengganti semua tulisan-tulisan di lembar tugas itu. Dan lebih ingin tertawa lagi ketika mundur dan mengingat tentang aku yang banting setir sehari sebelum pengumpulan formulir dengan merombak semua yang ada. Kini aku akan merombaknya lagi. Bila sekali revisi lagi, maka sah telah mengamalkan sunnah ketiga kali. Dunia, memang suka bercanda ya.

Desember di Rawamangun dulu, teringat tentang aku dan mereka yang siaga depan layar menunggu pengumuman penempatan. Harapanku, semoga Allah bersedia memberiku pulau Jawa karena aku tak yakin kalau harus membeli tiket pesawat di ujung bulan seperti itu. Jangan yang terlalu dekat dengan rumah, pun jangan yang terlalu jauh. Daerah Jawa Barat sepertinya indah juga. Jangan yang berbahasa jawa, aku ingin berbicara bahasa lainnya. Jangan ini, jangan itu, wahai diri, ini bukan tentang memilih bawahan rok di Ramayana. Tidak ada ingin ini ingin itu.

Dan akhirnya,
aku membaca namaku di Surabaya.

Maju lagi menjadi saat ini, tak kusangka jawaban dari keinginan-keinginan itu adalah Madura. Tidak terlalu dekat, pun masih di Jawa Timur. Juga tidak berbahasa Jawa. Aku tak paham emoji apa yang paling pas menggambarkan raut wajahku saat ini. Untung Suramadu sudah tak berbayar, hahaha.

Tiga bulan berkesempatan di Surabaya dengan dipenuhi tawa-tawa kering Gung Tirta di ruangan kerja. Irma, jangan lupa helm-ku ya. Betah-betah dengan Wira. Tak perlu membuat grup line baru kalau kalian hanya berdua, haha. Sherin dan Gung Tirta, masih ingat candaan kita yang berharap kalian ke Juanda agar lebih mudah pulang pergi ke Bali? Ternyata harapan kalian didengar oleh dinding-dinding Sekjen di pusat sana. Terbayang bagaimana senin nanti menjadi hari penghabisan kita berenam. Tak perlu kesan untuk Annas, karena ia masih akan bertemu denganku di bulan-bulan selanjutnya. Mari kita jalankan wacana-wacana yang ada. Tentu bukan untuk terakhir kalinya.

Tempat baru selalu begitu. Tak perlu menjelaskan siapa aku yang dulu. Jadi apa yang dimau dan meninggalkan apa yang harus berlalu. Kalian dan aku masih akan berhadapan dengan mutasi-mutasi selanjutnya. Entah dokumen UP9 itu muncul ketika sarapan atau pasca cuci piring sepertiku kini.

Hidup,
Mengejutkan ya.  

Komentar

  1. Iyyin, selalu suka sama diksinya ���� semangat yaa.. semoga kita bisa bertemu saat pelantikan di kantorku nanti

    BalasHapus
  2. Huuuuuuuuuh, kamukamu meninggalkanku begitu saja setelah membuatku nyaman bersamamu !

    BalasHapus
  3. Skrng aku lg tertawa sambil berkaca-kaca karna tulisan u iyinnn masuk!!! Sebel akutu

    BalasHapus
  4. Semangat iyinnn.. iyyin makin mantap

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...