Karena dunia tidak adil.
Kata guru agama sekolah dasarku, rukun iman itu ada enam.
Percaya dan yakin bahwa Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, Qadha' dan Qadhar memang ada. Aku hafal itu karena memang keluar sebagai materi ujian sekolah dulu.
Belajar membaca Iqro jilid satu bersampul merah sampai seterusnya. Bermula dari 'A Ba Ta' hingga An-Naba. Usia lima tahun berangkat ke TPQ dan membaca huruf-huruf arab itu dengan mbak-mbak yang dengan teganya menulis kata 'Diulang' di kertas mengajiku. Menghafal bacaan ini dan itu, berangkat kesana kemari, dan menulis berlembar lembar tugas sekolah hanya karena aku takut pada Ibuku. Karena mereka menghafal, maka aku juga harus menghafal. Aku membaca karena guruku menyuruhku membaca. Menulis karena kata mereka memang harus ditulis. Tanpa paham kenapa aku harus menghafal bacaan sholat, kenapa aku harus praktik takbir hingga salam, kenapa harus mengaji, dan banyak kenapa-kenapa lainnya.
Dunia kanak-kanakku hanya berputar di sekitar uang jajan, memasak pasir, tidur di rumah tetangga, lalu menangis. Tidak ada bayangan bahwa di kanan kiri ada Malaikat Raqib Atid yang mengikutiku kemana-mana dan mungkin aku akan menangis bila bisa melihatnya. Hujan hanya hujan, tanpa tau bahwa Malaikat Mikail yang menurunkan dengan seizin-Nya. Yang penting pagi ada Dora dan Boots di Lativi atau Rudy and the ChalkZone di Global Tv.
SMP lanjut dengan urusan sistem pencernaan, gelombang longitudinal, dan jaring-jaring makanan yang aku sudah tidak mengerti itu semua sekarang. SMA kemudian kuliah, melihat kuis kehidupan di samping soal-soal pelajaran sekolah membuatku sadar bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Ketika aku berselisih dengan temanku, kepada siapa aku bisa berbagi cerita? Ibuku?
Jika Ibuku saja membuatku menangis, lalu kepada siapa aku mengadukan tangis? Ayahku?
Kalau ayahku lebih mendengar kata ibu bahwa aku memang bersalah lalu pada siapa lagi aku bersandar? Dinding?
Lingkaran kecil itu terus dan terus menjadi lingkaran besar tanpa tau sebelah mana titik sudutnya.
Dengan mereka yang mengikat kucing lalu diikat di bamper motor kemudian ditariknya di jalanan dengan terbahak-bahak, apakah mereka akan begitu saja?
lalu apakah peluru itu memang pantas menjadi balasan sapaan "Hello brother" yang diucapkan oleh korban pertama teror Cristchurch?
Apakah yang kelaparan akan tetap kelaparan? Apakah musim dingin akan tetap menjadi musim dingin?
Pertanyaan-pertanyaan itu baru 'Apa'. Baru 'What', belum menjangkau 5W+1H. Hingga sampai di titik teori bahwa dunia memang tidak adil. Kenapa ada pertanyaan tanpa jawaban? Kenapa ada jawaban tanpa alasan?
Apakah dunia memang begitu?
Apakah semua soal-soal itu akan tetap diakhiri dengan simbol 'sama dengan' dan menjadi bonus pertanyaan kehidupan yang tanpa jawaban seperti ujian-ujian sekolahan?
Padahal, setauku hitam perlu putih agar orang-orang paham bahwa hitam itu gelap dan ada yang lebih terang yaitu putih. Setauku bila air mengalir dari tertinggi ke terendah dengan sifat mudah tercampur dengan sekelilingnya, ada minyak yang kental dan tak akan menyatu dengan larutan. Setauku daerah subtropis ada empat musim, musim dingin tidak akan berlanjut selamanya.
Dendam terkadang benar untuk satu dua kejadian. Apakah akan baik-baik saja bila ada pencurian tanpa hukuman? Apakah akan kembali seperti semula lapar tanpa makanan?
Semua tanda tanya yang membosankan ini seakan menemukan jawabnya ketika mengingat kembali bahwa kata guruku Allah itu Maha Adil, meskipun dunia tidak.
Memang harus ada yang membalas sesuatu yang harus dibalas. Harus ada yang mempertemukan mereka yang dipisahkan. Harus ada yang memberi kepada mereka yang kehilangan. Harus ada.
Melihat mereka yang menyimpang tapi masih meninggal dunia dengan tumpukan uang, dimana itu akan dibalaskan?
Jadilah aku percaya hari kemudian. Akhirat, 7 surga, dan 7 neraka.
Akhirnya aku paham kenapa harus menghafal, kenapa sholat dan kenapa harus memanusiakan manusia.
Katakanlah Muhammad, "Dia-lah Allah Yang Maha Esa". Allah tempat meminta segala sesuatu. tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (Al-Ikhlas: 1-4, dengan tanpa kata ikhlas di dalamnya. Karena ikhlas ada untuk diyakini, bukan dikatakan)
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbuat kebaikan benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (Al-Infithar:13-14)
Sesungguhnya Tuhanmu sangatlah mengawasi. (Al-Fajr: 14)
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Al-Baqarah: 2)
Kata selamat jalan yang belum terucapkan kepada mereka yang telah meninggalkan, akan berganti kata selamat datang di hari kemudian. Semua akan terbalaskan seperti semut yang menemukan potongan kaki yang lama dicari. Kenangan bisa diulang di masa kemudian. Karena bumi terlalu mengerikan untuk berputar selamanya.

Komentar
Posting Komentar