Langsung ke konten utama

A1, Sampai Jumpa Kapan-Kapan

Lulus ternyata bukan berarti kami bebas bangun pukul dua siang. Kami masih harus naik kereta beberapa kali lagi. Kawan-kawan yang rumahnya di seberang pulau sebagian memutuskan untuk 'tak pulang dulu. Biar di Jakarta saja sampai semua dokumen-dokumen itu rampung. 

Tanggal 3 sampai 13 Desember kami harus di Rawamangun. Liburan yang membuat kami jarang berpikir ini seolah memaksa untuk menerawang akan dimana kami dua minggu nanti. Dan tentu saja berpikir lagi tentang tiket pulang pergi.

Lebih lega rasanya ketika membaca pesan masuk di grup oleh Zetta yang mengabarkan kami untuk tinggal sementara di A1. 

A1 adalah rumah berpagar hijau di Jalan Bujana Tirta Raya. Sebuah rumah dinas milik pegawai yang kabarnya pernah duduk satu lingkaran bersama kami di Masjid Baitut Taqwa kapan lalu. Tentu saja, kami lupa yang mana orangnya. 

Kamar 1: Fatma, Rina, Dinda, Laila, Suci, Zuhro
Kamar 2: Tika, Afifah, Aku
Kamar 3: Zetta, Umi, Reni, Yusvi, Soffa, Dilla

Itu adalah bagian-bagian kamar yang telah dibagi. Sekali lagi, peraturan ada untuk tidak dipatuhi. Zuhro lebih banyak tidur di ruang tengah depan TV karena tak bisa berdamai dengan AC kamar. Zetta turun ke kamar 2 di lantai bawah di minggu terakhir karena punggungnya lebih cocok di bed sana. Fatma juga pernah tidur di depan TV dengan bantal di kaki. Sedangkan aku tidur berkeliling secara teratur di sofa ruang tamu, karpet ruang tengah, atau di kamar. 

Tulisan ini bukan tentang Bubur Madura tujuh ribuan depan Pusdiklat yang membuat Rina dan Dinda bolak-balik kesana saking enaknya. Bukan juga tentang batuk pilek yang dibawa Fatma dan ditularkan secara urut padaku, Zuhro, dan Laila. Intro sepanjang ini sebenarnya tentang siapa yang membuka tangannya untuk kami selama dua minggu. 

Terimakasih ruangannya, token listrik, tiga tingkat telur, sekarung beras, tempe mendoan, dan jajanan-jajanan yang kalian letakkan di meja ruang tamu.

Bu Leni, Bu Wisnu, Bu Desak, 
maaf kami tak membuang sampah pagi-pagi, tak mencabut anak kunci sehingga Bu Leni tak bisa masuk, salah memasukkan nomor token sehingga listrik mati hampir tengah malam, dan banyak kelalaian lainnya.

"Pas saya tau kalian butuh tempat tinggal, saya minta Zuhro ajak teman-temannya kesini. Kamar atas muat enam orang, kamar bawah yang AC bisa enam orang juga, kamar yang itu muat empat orang. Kalau masih ada lagi bisa tidur di sini sambil gelar karpet. Atau di ruang tamu situ. Bisa juga di kamar Umi, biar nanti Umi tidur sama Bu Desak"

Kalimat Bu Leni (Umi) itu seperti menempatkan dirinya di nomor sekian. Bukan dulu soal listrik dan air, yang penting bagaimana caranya kami berlima belas bisa tidur dengan pantas di rumah dinasnya. 

Saat Umi menyebut kedelapan anak-anaknya, aku yang hanya dua bersaudara itu langsung kaget. Bayangan ini dan itu datang satu-satu membayangkan membesarkan delapan putra putri. Tapi aku lebih kaget lagi ketika Umi bilang bahwa sebenarnya beliau hanya mempunyai anak tunggal. Tujuh yang lain adalah mereka yang dianggap Umi sebagai keluarga sendiri. Anak sendiri. Menariknya, aku yang kecil dulu kesal karena tak hafal-hafal juga surat Al-A'la seperti malu sendiri ketika Umi mengatakan bahwa kedelapan anaknya adalah penghafal Al-Quran. 

Aini, putri kelima, sudah hafal dua puluh tujuh juz di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun. Aku yang tua begini saja surat yang sering dibaca di TPQ tak juga meresap di kepala. Umi sendiri telah hafal enam juz. Anak-anaknya didaftarkan ke Pondok Pesantren sedangkan dua lainnya yang masih kecil masih di Bandung bersama neneknya.

Aku tak tau dari sisi mananya, yang jelas Umi adalah pribadi yang tak bosan untuk dipandang. Kalau soal kulit putih, kulit Dilla lebih putih darinya. Apalagi Reni. Kalau soal mancung, Afifah juga mancung. Kalau soal tinggi, Dinda lebih tinggi dari Umi. Beliau sangat bersahaja. Minggu-minggu terakhir kami di rumah, kami tak melihat Umi seharian karena pulang dinasnya selalu larut. Entah pukul dua belas atau bahkan pukul satu pagi. Belum lagi kami pernah tak sengaja 'menguncinya' di luar malam-malam begitu karena kami sudah terlebih dulu pergi tidur. 




Tiap ba'da Isya, Umi mengumpulkan kami di ruang tengah untuk halaqah. Katanya, tak masalah mau dimanapun penempatan kami nanti. Tak melulu soal homebase, ikan besar di kolam kecil lebih terlihat daripada ikan kecil di kolam besar. Tujuan kalian adalah ibadah. Ikhlaslah.

Umi, terimakasih telurnya. Syukurlah kami tak satupun terkena bisul saking seringnya sarapan telur dadar. Maaf kami sering menyisakan gorengan-gorengan di meja, banyak sekali, Umi. Sayur sop jamur kuping itu enak sekali, belum lagi kare ayam. Rasanya uang makanku utuh selama dua minggu di sini.

"ini basonya direbus dulu sama daging. Nanti ditambahin bawang putih sama daun bawang, ya. Ini mie-nya direbus dulu, atau kalau mau disiram air panas aja juga bisa" - Bu Wisnu

Kira-kira baru 45% progress memasak kami saat Bu Wisnu pamit untuk menjemput Husna di DayCare. Andai Ibu tidak membeli perasa kuah bakso tadi, entah apalah jadinya masakan ini dengan air yang hampir tumpah dari panci. Dengan bawang putih yang mati-matian diulek oleh Tika di lantai dan Afifah yang tiga kali cicip tapi masih hambar saja. Terimakasih tempe mendoan dan pisang gorengnya, Bu. 




Maaf bila suara-suara kami di kamar 2 membuat Dek Husna tak bisa tidur. 
Dek, kapan-kapan Mbak beli nasi goreng pasirnya lagi, ya. Jangan pakai saos tapi. 

Tepuk anak sholeh,
Aku, anak sholeh.
Rajin sholat,
Rajin ngaji.
Orang tua.. dihormati.
Laailahaillallah Muhammaddarrasullullah

Begitu saja ia ulang terus sampai dua puluh kali. 




Beberapa kali Bu Wisnu menjadi imam sholat kami. Selepas itu mengaji dan halaqah. Masih dengan Husna yang tiba-tiba menangis minta dibukakan camilan di kamar demi mendapat perhatian kami. 

Kemudian ada Bu Desak, wujud Julia Roberts di mata kami dan Bu Leni. Berpostur tinggi tegap serta suara teduhnya sangat berkharisma. Hampir-hampir kami mengira Bu Desak masih gadis saking kerennya. Tidak kawan, beliau punya putra putri dewasa di Bali sana. Dari Bu Desak kami belajar rumus toleransi. Kalau kita bukan saudara dalam iman, kita adalah saudara dalam kemanusiaan. 

Maaf kami tak mengganti air galon di dapur. Maaf pula baju-baju kami memenuhi jemuran depan. Dan banyak maaf-maaf lainnya. 

Hari jumat adalah waktu dimana Bu Leni, Bu Wisnu, dan Bu Desak harus pulang ke rumahnya masing-masing. Kalau tidak ada kami, sepi tiga hari. Jumat, sabtu, dan minggu. Bu Leni pulang ke Bandung, Bu Wisnu ke Ciputat, dan Bu Desak ke Bali. Minggu sore atau malam, mereka kembali lagi ke Rawamangun untuk dinas keesokan harinya. Bu Wisnu beda, beliau baru kembali hari seninnya. 

Usia mereka di akhir empat puluhan tapi masih tetap pulang pergi empat kali sebulan. Masih seimbang memikirkan antara keluarga dan pekerjaan. Lalu baru aku ingat bahwa kami berlima belas masih harus melewati tiga puluhan tahun lagi untuk berada di posisi mereka. Dan selama tiga puluh tahun itu harus rela tidak bertemu keluarga dari senin sampai kamis. Di hati ada yang dirindukan, di pundak ada yang harus dilakukan. Mereka tak lain dari dua kata luar biasa. 

Seluar biasa Rina yang selalu membangunkan kami sholat malam dan menawarkan roti tawar untuk sahur. Telingamu sudah baik-baik saja kan?

Dinda yang bisa duduk selama dua jam dalam posisi yang sama hanya untuk membaca buku setebal hasta. Aku tak percaya dia dari Medan. Buktinya dia lebih halus suaranya dari Laila yang asli Banyumas. Din, di Aceh ada Bubur Madura tidak?

Suci yang kapan lalu aku kaget melihat wajahnya berbuih karena memakai masker busa yang entah siapa yang menjual itu, Tika dengan payung hasil dari lelaki yang ia doakan, Zuhro yang bingung dengan air galon dan listrik, juga Afifah yang belang kulitnya seperti terkena hantaran setrika. Belum sempat kembali normal, keluar penempatan bahwa ia harus ke PSO. Hahaha, sehat-sehat ya, Fah.

Zetta yang membawakan kami router wifi-nya. Laila, betah-betah ya di Rawamangun lagi. Juga Umi, Reni, dan Yusvi yang bahkan kami sempat lupa kalau ada mereka karena saking jarangnya turun ke bawah. Sekali turun mereka pamit ke Warung Beni membeli nasi. Tapi mereka selalu ada ketika jamaah sholat hampir dimulai di bawah. Dengan Fatma yang merusuhiku dimana-mana, berharap asap pop mie-nya menggangguku di kamar, dan menyedekahkan pileknya padaku di tengah-tengah masa orientasi. Sofa! kita tak terpisahkan, ya. Ayo kapan-kapan kita foto di jepang-jepangan Surabaya. 



***

Masih dengan kipas putaran terendah. Bagaimana cara membebaskan Surabaya dari invasi nyamuknya?

Penghujung 2018, biarlah aku tidur sampai tahun depan. Siapa tau nasibku ikut berubah seperti kalender. Bertemu dengan para bijak yang lebih menginspirasi lagi. Simpan saja kembang apimu. Kenapa tak membakar langsung saja uangmu bila harus memutar terlebih dahulu ke warung mercon yang akhirnya kau ledakkan juga merconnya. Lebih baik beli martabak manis kacang coklat mumpung lapaknya sudah buka.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...