Saat menulis ini rasanya kamarku hampir panen padi sekaligus jamur kuping saking lamanya menunggu hari-H Wisuda. Ya, wisuda tinggal enam hari lagi. Kalau saja aku masih di Jogja maka saat ini harusnya aku masih semester lima.
Tulisan ini adalah sedikit kilas balik anehnya diriku tembus di kampus kedinasan. Seharusnya usahaku tidak sepadan bila ditukar dengan apa yang telah diraih. Terlebih ketika otakku bekerja secara sederhana dan gampang mengembun bila disuguhi tugas yang meskipun sedikit tapi aku tak suka. Jurnal pembalik misalnya.
Ah, apa kabar dosen-dosen Akuntansiku dulu..
Kuliah semester satu, aku tak tau mau jadi apa di masa depan. SMA dulu, aku tak tau mau lanjut kuliah dimana. SMP dulu, aku bingung baiknya masuk SMA mana. Remang-remang sekali pendirianku dari dulu. Kalau aku harus mengikuti hasil tes psikologi jaman SMP, harusnya aku tidak mengambil program studi Manajemen SV. Pergi saja ke Jakarta dan duduk diam di bangku Mall siapa tau ada yang datang menawari casting. Benar, buku hasil tes itu mengatakan aku berbakat menjadi Artis. Spesial bintang lima. Di bawah artis, katanya aku berbakat menjadi tukang kayu atau hal yang berbau bongkar-pasang. Timpang sekali. Pantas saja rasa percaya diriku tinggi ketika memperbaiki printer yang kertasnya kusut di dalam sehingga harus cuti beberapa lama dari fungsinya.
Ternyata prodi Manajemen berprinsip untuk membentuk watak-watak pengusaha dengan ide serba ada dan mahir dalam pemasaran serta keuangan. Beberapa kali dosen meminta ide usaha, dan mereka teman-temanku itu membuat suatu inovasi mulai dari Print delivery, Bento kukuruyuk, dan hal-hal aneh lainnya. Mereka dididik untuk siap rugi dan aku tak bisa untuk itu. Sifat bakhilku akhirnya berkembang.
Bila kanan kiri mengatakan bahwa mereka salah jurusan, sekarang aku paham bagaimana rasanya.
Bu Dosen, aku tak berbakat menjadi pengusaha. Haruskah kalimat itu kujadikan judul Ftv biar semua mengerti?
Aku terlalu demam panggung bila harus membujuk klien. Karib SMA-ku saja memberiku gelar Giring Nidji karena tanganku bisa bergetar-getar bila berdiri di depan umum. Aku juga tidak bisa ber-ide seperti itu karena rumusku hanya berilah aku tugas maka aku akan kerjakan. Hebat sekali mereka, kawan-kawanku, yang masih mencoba akrab dengan Dasar-dasar pemasaran, Manajemen Resiko, dan peranakannya.
Masuk semester dua, aku memutuskan untuk pergi.
***
1. Buku Kunci Masuk STAN
Bukan mudah ketika hari-hari sudah berjalan setengah tahun dan kau memutuskan untuk banting setir. Alhasil aku tak cukup nyali untuk mengatakan pada orang tua bahwa aku ingin mengikuti tes lagi. Keputusan benar-benar bulat saat bulan sudah Januari. Februari, Aku mengumpulkan materi-materi dan soal-soal usang dari tahun 1990an hingga 2016. Tes dijadwalkan tanggal 23 April 2017, dan segala wacana belajarku baru terlaksana sekitar bulan Maret.
Keputusan ini membawaku kepada hobi baru, duduk di perpustakaan pusat mencari komputer dengan posisi strategis untuk download ini dan itu. Tab pertama mencari motivasi hidup, tab kedua materi STAN, tab ketiga Vlogger Youtube. Seimbang sekali.
Kebetulan, USM STAN bersamaan dengan minggu-minggu UTS semester dua. Otakku mulai tak paham apa yang harus terlebih dulu dibaca. Kunci jawaban soal STAN yang berbeda-beda tiap sumber membuatku makin berasap.
Dari akun instagram yang aku ikuti, ia menawarkan buku Kunci Masuk STAN (mungkin begitu judulnya) dengan deskripsi yang cukup menarik. Ini salah satu alasan aku tak cocok jadi marketer. Bukannya aku yang membujuk, malah aku yang iya-iya saja dengan tawaran-tawaran yang ada. Buku itu terbilang mahal bagiku yang telah membayar tes dengan uang bulananku sendiri karena tak sanggup mengatakannya pada orang rumah.
Buku itu dikirim langsung dari Bintaro. Hari-hari dilewati dengan mengintip meja depan barangkali paketku sudah sampai. Meskipun aku membeli satu buku, kuharap yang datang dua dengan harapan yang satunya bisa kujual mungkin. Haha
Bahaya, dompetku mulai ringan. Meskipun biasanya memang ringan tapi kali ini ringan sekali. Akhirnya pagi dimulai dengan sarapan soal, siang lauk soal, lupakan nasi. Sebelas hari lagi hari tes tapi bukuku tak datang juga. Aku mulai sering melamun di kelas dan kena damprat dosen Manajemen.
Siang hari, kakiku menuruni tangga kos untuk bergegas ke kampus dengan tanpa gairah sampai kulihat ada bungkusan coklat tipis di meja depan. Wah!
Sudah kuambil, ternyata ada paket-paket lain. Isinya kosmetik-kosmetik milik para tetangga. Tapi ada satu paket lagi yang bentuknya sama persis dengan paketku. Ketika kulihat nama penerimanya, kaget sekali saat yang terbaca adalah namaku.
Apalah ini. Aku mendapat kelebihan paket seperti gumamku dulu.
Sebenarnya saat itu mungkin aku sedang diuji. Mau kuapakan akhirnya buku itu. Menjelang tes, rasanya aku sedikit takut berbuat dosa. Aku takut dosa-dosa itu duduk di bahuku ketika ujian dan membuat pensilku menjawab pilihan yang salah. Alih-alih kujual atau kusimpan saja sebagai bonus, buku itu kukirimkan lagi pada pengirimnya. Kusisipi selembar surat yang intinya tunggu aku di Bintaro. Dengan lugunya aku menulis itu.
Keluar dari ruang JNE, aku merasa seperti Wonder Woman yang telah menyelamatkan dunia.
2. Tes Kesehatan
Ternyata banyak juga oknum-oknum di kelas yang memutuskan untuk ikut tes ini dan itu. Temanku yang berwajah sangat mirip dengan Kapten Pattimura ingin ikut tes IPDN. Teman berkacamataku yang lain mengambil D3 Pajak STAN katanya. Dia, dia juga, dan dia lainnya. Banyak juga.
Saat kelas, kulihat bangku yang kududuki meninggalkan wasiat bertuliskan "STAN 2016". Ternyata kampus ini memang sudah begini dari dulu.
Awal Mei, Pengumuman peserta yang lolos dirilis. Dua dari kelasku berhasil melewati tes tahap pertama. Usai pengumuman, mereka yang awalnya diam-diam saja ternyata juga ikut tes dulu.
Selanjutnya tes kesehatan. Badanku sudah seperti kapuk dihembus-hembus angin belakangan ini. Aku sudah tak ingat lagi bagaimana caranya lari dengan semangat. SMA dulu masih lumayan, bersepeda dan lari dua kilometer menjadi kebiasaan mata pelajaran Penjaskes. Kini? Bahkan makan siang dan malam saja dilewati dengan alasan malas berjalan. Terlebih lagi kamar seberang kedatangan sekitar lima orang mahasiswi magang yang tidur di satu ruang. Bisa bayangkan bagaimana ketika hawa bertermu hawa. Jadinya mereka membuka Talkshow sendiri dan tak tau kapan diamnya. Jam tidurku pukul satu pagi, ada mereka membuatku hampir saja berkokok bersama Ayam karena terbangun sampai subuh.
Saat aku perlu partner untuk menghitung waktu lariku, teman-temanku sibuk dengan laporan praktikumnya yang entah apa isinya yang jelas kalau itu dibungkus sarung bantal maka tak ada yang sadar bahwa itu tumpukan laporan, bukan alas kepala. Tekanan darah rendah, saraf yang tak peka bila disentuh, membuat makin dan semakin khawatir saja. Terlebih jarak antara pengumuman dan tes kesehatan hanya empat hari. Aku hanya punya empat hari.
Sehari sebelum tes, survey lokasi seperti biasa. Lokasinya bertempat di Paskhas 474 TNI AU, Bantul, Yogyakarta. Sempat aku dan driver ojek online tersasar di kompleks hunian TNI AU, menerobos palang depan tanpa terbaca tulisan di papannya bahwa itu kompleks militer. Saat balik kanan, Bapak-bapak di pos depan dengan wajah yang aku tak ingin mengingatnya menyuruh kami untuk ambil push up sepuluh kali. Setelah nego yang panjang, akhirnya kami dilepas dan leherku terlalu enggan untuk menoleh ke belakang. Habis kami sore itu.
Malamnya, tetangga depan kamar berulah lagi. Tak mempan rupanya kertasku dulu yang inti dari isinya "Tolong diam". Kuselipkan di celah pintunya. Tapi apalah, hari itu aku tidur pukul tiga pagi, lalu terbangun pukul empat. Tidur macam apa itu.
Rekor latihan paling tinggi hanya 0.64 mil. Tentu jarak itu masih sangat kurang untuk waktu dua belas menit. Latihan lari angka delapan juga masih sesekali. Ibu-ibu yang biasa menjaga lapak di depan Panti Rapih agaknya kurang akrab dengan pemandangan seorang gadis sepertiku mengumpulkan botol air mineral untuk dijadikan tiang poros.
Tiba di lokasi pukul enam pagi, ternyata giliran lariku tengah hari bersamaan dengan adzan dhuhur. Mendapat rompi kuning dengan angka tujuh membuatku sedikit optimis. Kuning, pajak. Tujuh, lucky seven. Begitulah.
Tak banyak yang kuharapkan saat itu. Tidur satu jam, tidak sarapan, langit panas, apa lagi. Tapi saat itu.. lariku sangat ringan. Tak jarang aku membuka lengan sebahu dan membayangkan menjadi P-Man yang terbang bersama angin. Selama dua belas menit, aku tak berjalan sama sekali. Lapangan seluas 475 meter itu akhirnya bisa dicapai sebanyak empat putaran lebih seratus meter. Entah apa yang kupikirkan saat itu.
Setelah usai, aku duduk di depan gerbang dan memasang raut paham bahwa ojek online yang kupesan pasti akan lama datangnya karena tempat ini memang sulit dijangkau. Baru dua menit, ternyata driver itu langsung sampai di depanku. Secepat itu.
Esoknya ketika mata kuliah Manajemen Resiko, aku masuk dengan kaki dan sendi serta perut yang biasa saja. Padahal kala SMA dulu ketika usai praktik lari dua kilometer rasanya tubuhku serasa ditekuk-tekuk dan terjepit daun pintu. Bahkan sholat saja harus duduk. Begitu selama kurang lebih tiga hari. Anehnya, kali ini aku baik-baik saja.
3. Tahap Akhir
Bila USM waktu itu bersamaan dengan minggu-minggu UTS, maka TKD bersamaan dengan UAS semester dua. Gairah belajar mulai naik turun. Aku tak nafsu belajar untuk UAS, pun belajar untuk TKD. Jenuh ketika yang terlihat hanya tulisan-tulisan panjang yang harus dihafalkan. Akhirnya suatu hari, bukannya lurus berjalan ke kampus untuk ujian aku malah berbelok ke stasiun sepeda menuju perpustakaan pusat. Aku bolos UAS komputer.
Kali ini belajarku dibantu dengan buku paduan CPNS. Tapi agaknya buku itu tak terlalu membantu. Kertasnya akan langsung lepas ketika kubalik dengan putus asa. Banyak pula soal yang kunci jawabannya hanya "D", "A", "C", tanpa diuraikan kenapa bisa D dan kenapa bisa A. Praktik di laptop-pun begitu, dari tiga tipe soal, aku malah gagal di tipe soal kepribadian.
Hari-H tes, bagiku semua soal terlihat sulit. Bukan hanya terlihat, ketika kupikirpun malah makin sulit. Mungkin pengawas yang duduk di depan yakin bila aku tak akan lolos TKD karena melihatku memajukan kursi kemudian memundurkannya lagi. Memajukan lagi, dan memundurkannya lagi. Soal nomor satu terasa sulit, dua juga, kugeser sampai nomor terakhir dan ternyata juga sulit. Bahkan UN SMA dulu tidak seabu-abu ini. Soal yang keluar dominan keluar dari materi yang bahkan aku tak mengira akan ada soal semacam itu. Bahasa Melayu, pasal ini, pasal itu. Mana kutau.
Tes kepribadian soalnya sepanjang jalan tol Anyer-Panarukan. Aku tidak mengada-ada, tapi soalnya memang begitu. Di tengah-tengah waktu yang hampir putus asa, terbesit perasaan bahwa aku harus menyiapkan kata maaf untuk orang tua. Terbesit bagaimana bagusnya kalimat yang harus kusampaikan.
Dua puluh menit terakhir, aku mulai mengerjakan puluhan soal yang kulewatkan. Anehnya, tiap soal yang kubaca terasa masuk akal.
"Lah kalau soalnya begini berarti jawabannya yang ini lah."
"Kenapa aku melewatkan soal ini ya?"
Deretan soal-soal itu mulai terjawab. Kali ini aku tak banyak memegang bulpoin karena jawaban dari soal itu terasa logis bila hanya dibayangkan. Tapi tak sedikit juga soal yang asal saja kujawab tentu dengan diawali bismillah sebelum mengarangnya. Dan, waktu habis.
Kulihat, skorku terbilang aman 'mungkin'. Aku tak mengira skorku akan begitu setelah hampir mematikan CPU komputer tadi saking putus asanya.
Begitulah.
***
Minggu kedua Ramadhan, pengumuman dirilis. Alhamdulillah aku lolos di prodi yang entah apa itu dan aku tak mengerti apa isinya.
Bila kupikir bahwa hasil yang kuraih adalah hasil usaha sendiri, rasanya tidak.
Tidur yang kurang tapi lancar saat tes kesehatan. Tekanan darah tidak terganggu. Baru benar-benar fokus belajar USM sepuluh hari sebelum tes, dan mukjizat dua puluh menit terakhir TKD. Begini yang masuk akal, dunia ini rumusnya hemat pangkal kaya. Belajar pangkal pandai. Kalau kau belajar dari jauh-jauh hari, maka lolos adalah suatu hal yang mungkin. Bila tidak, siapkan untuk tak menemukan namamu di pengumuman. Tensi-pun begitu. Kalau kau begadang, berarti harusnya tekanan darahmu rendah. Bahkan bukan tidak mungkin kau pingsan di tengah-tengah rute.
Tidur yang kurang tapi lancar saat tes kesehatan. Tekanan darah tidak terganggu. Baru benar-benar fokus belajar USM sepuluh hari sebelum tes, dan mukjizat dua puluh menit terakhir TKD. Begini yang masuk akal, dunia ini rumusnya hemat pangkal kaya. Belajar pangkal pandai. Kalau kau belajar dari jauh-jauh hari, maka lolos adalah suatu hal yang mungkin. Bila tidak, siapkan untuk tak menemukan namamu di pengumuman. Tensi-pun begitu. Kalau kau begadang, berarti harusnya tekanan darahmu rendah. Bahkan bukan tidak mungkin kau pingsan di tengah-tengah rute.
Saat itu aku sadar bahwa aku tidak belajar sendiri. Pun tidak berlari sendiri. Keberuntungan yang berbaris itu ada karena suatu sebab. Entah karena doa orang tua yang tak kudengar atau karena alasan lain. Yang jelas dibaliknya ada Ia Yang Maha Tinggi.

Gilsssss
BalasHapusNing yosner merindukanmu
HapusMotivasikuuhhh
BalasHapus