Langsung ke konten utama

Stairway




Dingin.


Selalu ingat, tentang leherku yang terus menatapnya tinggi. Mendapati matanya sekitar dua puluh senti dari mataku. Yang aku tak pernah terima ketika ia mendapat kotak pensil biru sedangkan aku tak menerima apa-apa. 

Gadis itu setiap hari meninggalkanku di belakang.
Ia lari dan lari lalu dengan tawanya saling dorong dengan sebaya-sebayanya. Lalu aku di tempat yang sama, dengan pasir yang sama, kutepuk-tepuk menjadi adonan lalu pura-pura memasaknya. 

Dulu sekali, ia pernah (benar-benar) mengayunkan kursi plastik padaku yang terduduk di lantai hanya karena bandana barunya kupatahkan. Mendorongku jatuh ke ubin dengan kakinya dari atas kasur lalu melarangku masuk ke kamarnya selama seminggu. Kemudian di lain malam, dia yang menendangku itu mendadak ada di sampingku untuk tidur. Takut katanya.

Pertengahan 2016, tas-tasku penuh dengan baju yang terlipat rapi. Bukan aku yang memasukkannya. Tapi dia. Membantuku karena paham aku terlalu tidak tau tentang barang mana yang harus kubawa dan barang mana yang harus kutinggal. 

Angin dari Minahasa memberinya warna putih yang bisa lebih menyala ketika disandingkan denganku. Disandingkan denganku yang dipanggil 'Tempe gagal olah' sejak masih di Sekolah Dasar dulu. Entah karena mereka yang terbiasa rasis atau memang warna kulitku terlihat tidak selevel dengan orang-orang Jawa di kelas. 

Ia menghabiskan waktu di kelasnya, begitupun aku. Kini, di sela-sela dua tahun antara libur semester dan hari besar, barulah aku bisa bertemu dengannya.

Mata dua puluh sentinya itu hilang. 

Hari ini, puncak kepalanya hanya setinggi tulang tengah hidungku. Tak ingat lagi waktu kapan aku menghina tubuh gemuknya karena kini tak tersisa lagi lemak kulitnya. Terlihat seperti jarum jam mulai berputar ke arah kanan, dan semua terbalik. 

Agar mata kami saling bertemu, aku harus menunduk dan ia harus mendongak. Warna kulitnya tak lagi se-membanggakan dulu. Lebih-lebih ketika kulihat warna tangannya bergradasi dari coklat muda-matang-sangat matang. 

Kota Malang memang dingin. Tapi sedingin apapun aku pasti tetap bisa sejenak keluar gerbang mencari makan. Aku mengizinkannya.

"Buka gerbangnya"

"Aku di depan"

"Cepet. Maghrib nih"


Kata perintah singkat yang menyebalkan itu, sebenarnya punya sisi lain. Sekadar sabun cair, ia memberikan miliknya padaku. Kue abon, dadar telur yang disembunyikan sisi gosongnya, bahkan aku bertaruh bahwa dia pasti akan terlebih dulu menyelamatkanku ketika tenggelam jika dibanding ia harus menyelamatkan suaminya kelak.

Aku tak punya botol sabun. Lalu esoknya kulihat botol bernuansa putih berdiri di dalam gayung mandiku di kos. Justru ketika aku berkunjung ke kosnya, wadah handbody macam apa yang ada di gayung mandinya ini. Kenapa ia segala membawa barang macam ini ke kamar mandi. Baru kupaham bahwa isi dari wadah handbody itu tak lain adalah sabun cairnya. Kemana botol asli sabun ini? Ya, botol putih itu ia berikan padaku tanpa kupaham kapan ia meletakkannya di gayungku. 

Tapi persaudaraan kami tak selalu sebaik itu. Kami tetap saling hina. Ia menghina jerawat-jerawatku lalu kubalas dengan aku yang mengejek hidung tanggungnya itu. Kalau kami mulai saling melempar kalimat tajam di jalan, ia menurunkanku dengan paksa dan pergi tanpa permisi. Tapi benar, ia tetap datang lagi keesokan-malamnya.

Andai dunia melihatnya seperti aku menganggapnya. Tapi sayangnya, tentang wadah handbody itu, juga tentang kue abon dan dadar, semuanya tak terlihat. Yang ditau hanya dia dengan dunianya, yang aku tidak setuju dengan itu. 

Ketika kanan kiri mendorongnya demi mengangkatku, tau apa mereka tentang kue abon dan dadar yang ia berikan padaku. Pahamkah ketika ia bersama masalahnya tetapi tetap menyediakan tangannya untukku. Tak peduli meskipun tak terlihat. Aku mampu bertahap ke atas karena ia memberikan tangannya untuk kupanjat.

Meskipun dunia melihatnya tetap dengan cara yang sama. 

Saudara. Meskipun parasnya berbeda, tapi darah mereka tetap sama. Ketika yang satu terlihat lebih tinggi, ia tidak pernah setuju ketika darahnya yang lain direndahkan. Masing-masing mereka akan hebat dengan jalannya sendiri. 

Dunia, jangan menghakimi dari apa yang tak terlihat.

---


Aku tak ingat kapan terakhir kami berfoto bersama. Atau memang kami tidak pernah saling meminta sejenak berpose bahkan sekali saja. Ia gengsi, apalagi aku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...