Langsung ke konten utama

Antara Toa, Kenangan, dan Dewasa

Sore.
Lagu-lagu ini terdengar dari entah toa mana. Khas sekali, dengan seruling pendek di awalnya. Biasanya ini bagian dari gejala hajatan tetangga. Mereka, anak-anak kecil yang baru pulang mengaji Iqro jilid satu hingga lima itu, mencari-cari arah toa-nya.

Entah mereka dihimbau untuk datang atau sekadar turut bersama ayah ibunya ke hajatan, yang jelas di bayangannya hanya bungkusan kresek yang kadang berwarna hitam, belang merah-putih, hingga ungu dengan bunga putihnya. Acara dimulai, mereka bercanda. Masuk ke acara inti, mereka sudah tak dijumpai lagi wujudnya. Sampai di sesi pembagian bungkusan, mendadak ruangan penuh dengan mereka yang tadi hilang dan tau-tau ada.

Pernah kulihat empunya rumah tak tau mau apa karena tangan yang menjulur meminta bungkusan lebih banyak dari bungkusan yang ada. alhasil karena para belia itu masih belum paham dunia, jadilah tuan rumah hanya membagikan uang seadanya. Kemudian muncul peristiwa dimana yang mendapat bungkusan memilih untuk menukar dengan uang, dan yang sudah menggenggam uang tidak berminat untuk memberikan.

Tentu saja bungkusan itu tak langsung ada, harus ada mulanya. Mulanya adalah peringatan yang terdengar dari speaker kepada mereka yang tak kunjung datang. Begitu sampai tiga kali. Dengan nada formal seperti sedang di upacara apa. dilanjut dengan pembukaan lalu pembacaan sholawat.

Saat itu tak bisa benar-benar duduk dengan nyaman, ada saat dimana ibu jari kaki tertindih betis mereka para tetua. Dan karena bermodal sungkan, jadilah telapak kaki yang tertindih itu berjalan sampai lima episode. Ditahan sampai Srakalan (srokal, srokalan) tiba.

dari: google images

“Asroqol Badru Alaina..” terdengar, kami berdiri. Saat dimana kaki yang kejang entah karena terlalu lama bersila atau tertindih berkesempatan untuk lurus kembali. Ada berbagai golongan saat Srokalan. Para tetua biasanya berdiri bergerombol dan menatap lurus pada buku Diba’ yang tak tau lagi dimana sampulnya. Mereka bersholawat dengan wajah-wajah segan melempar-lemparkan giliran mikrofon yang padahal mereka sendiri ingin menyanyikannya. Calon-calon Isyana dan Raisa bisa kalian lihat di sana.

Golongan lain adalah yang berdiri hanya bertiga atau berempat di pojok ruangan dengan keadaan Diba’ tertutup atau bahkan tak membawa Diba’-nya. Mereka memulai topik dengan membicarakan siapa berpacaran dengan siapa. Diiringi dengan ekspresi-ekspresi kaget dan agaknya tak percaya. Golongan selanjutnya adalah mereka yang mini-mini itu berteriak-teriak diluar bermain petak umpet di balik dinding. Selagi yang lain bermain, yang lainnya lagi mencari warung terdekat untuk membeli permen tak lupa membawa daftar titipan jajanan apa saja yang harus dibeli. Tentu saja, itu titipan mereka yang bermain, dan mereka yang bergosip itu. Golongan yang terakhir adalah mereka yang pulang ke rumahnya di tengah-tengah acara karena saking dekat posisi rumah saat itu. Mereka menonton tv. Tak jarang juga sampai tertidur. Lalu kembali ketika merasa bahwa bungkusannya hampir dibagikan.

Tuan rumah awalnya turut bernyanyi di permulaan. Mengaji juga sesekali. Tapi kemudian mereka lebih banyak menghilang di balik gorden pintu yang aku paham pasti mereka menghitung jumlah bungkusan di ruang tengah. Keluar lagi menghitung jumlah tamu yang masih tersisa barangkali ada yang putus asa lalu pulang, lalu masuk lagi. Setelah acara hampir disudahi dan bungkusan telah terbagi, para tetua mengeluarkan botol bekas larutan penyegar yang tutupnya dilubangi lalu diisi dengan gulungan-gulungan kertas berisi nama-nama mereka yang ketika gulungannya terpilih keluar dari botol, maka merekalah yang akan menjadi tuan rumah selanjutnya. 

Senang rasanya ketika mendapat giliran itu. Beberapa dari mereka sibuk mengecat ulang ruang tamu, meminjam karpet ke masjid dan tetangga, membeli bawang putih untuk bumbu suguhan nanti, dan menyiapkan kopi untuk takmir masjid yang datang membawa toa yang akan mengeluarkan lagu-lagu sholawat jaman SD dulu. Ketika tiba giliran itu, umurku masih sangat belia. Ketika kulihat satu persatu tamu masuk, aku menyapanya lalu berlari ke dalam sambil tertawa-tawa pada orang rumah karena keheranan kenapa banyak sekali yang datang. Sampai halaman rumah penuh karena berganti fungsi menjadi parkiran yang dengan eloknya mereka memarkir sepeda secara zig-zag di sana. Begitu kiranya gambaran singkat tentang beberapa tawa masa kecil dulu. Diba'an.

Kini, saat kudengar masjid yang berjarak dua ratus meter dari kos selalu menyanyikan sholawat sebelum adzan, aku ingat dulu pernah seperti mereka. Dengan orang yang sama, namun dengan masalah dan cerita-cerita dunia yang lebih kompleks. Berada di jalanan dengan semua mobil ber-plat B, mbak-mbak rupawan yang berjalan di trotoar, dan apalah aku yang dari pinggir kota ini.

Sekarang boleh kau dimana, besok dimana, begitu juga dengan lusa. Jakarta hanya Jakarta, Bintaro sekadar Bintaro. Mall itu, konser-konser itu, bukan alasan untuk mengubahmu menjadi cicak yang bisa melepas ekornya dimanapun. Bawa asalmu dan ingat dirimu. Mereka boleh berbisik, tapi pilihan untuk mendengarnya atau tidak tetap ada di tanganmu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Pada Akhirnya

  Pada daun-daun hijau tinggi yang menutupi, aku mengucap permisi. Jalanan ini baru, namun terasa sangat tidak asing, dan terasa mudah saja bila aku ingin kemana. Serasa aku harus ke tempat itu untuk melihat sesuatu dan untuk bertemu seseorang. Dan akhirnya aku melihatnya. Wanita berbaju hijau panjang yang apik, baju yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hijau menenangkan yang bergerak-gerak. Hijau lembut yang bersahabat dengan pandangan mata dan hijau yang tidak berupaya menutupi sinar-sinar hijau dedaunan di sana. “kenapa lama sekali?,” sambutnya padaku untuk pertama kali. Tidak mampu aku menjawabnya, dan kiranya Ia juga merasa tidak perlu mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri. “Kamu terlihat sangat lelah. Duduklah di sini, di sebelahku”, katanya lagi. Ditepuknya bangku ayunan panjang di samping kirinya dan mempersilahkanku duduk berayun bersama. Kami saling diam beberapa saat seakan Ia memberiku jeda untukku berpikir dan menata apa-apa saja yang ingin kukatak...