SMA
Selayaknya
mereka yang masih duduk di bangku SMA, aku benci hari senin. Bukan hanya karena
harus memakai seragam putih abu-abu yang akan membuat kulit gelapku terlihat
seperti lelucon di samping gadis-gadis berkulit putih yang rajin membuat masker
kecantikan dari tawas, tapi hari senin memang membosankan. Tiap senin pagi aku
berdiri tegak di halaman depan bersama para sekongkolan anak-anak yang juga
telat masuk. Tapi berdiri menghadap matahari dan menyapu mushola terasa lebih
membahagiakan daripada harus mendengarkan amanah kepsek di upacara sana. Bebas
bosan.. juga terbebas dari tangan-tangan guru yang siap mengelus kami dengan
keras bila ketauan memakai sepatu selain hitam.
Seperti senin-senin sebelumnya, aku masuk kelas paling akhir. Kulihat mereka
duduk sekedar mengistirahatkan kaki yang kejang selama upacara. Namun kelas
terlihat agak sepi karena ditinggal penghuninya ke kantin untuk membeli es
jeruk. Aku lalu berjalan dengan tanpa hati menuju bangkuku yang dengan
beraninya berada tepat di depan meja guru. Si bodoh mana yang mau duduk di
sana. Itu gara-gara segerombolan anak lelaki memindahkan tas dari bangku baris
kedua di sebelah utara saat hari pertama kenaikan kelas. Terpaksa aku dan teman
sejawatku, Ema, duduk di satu-satunya bangku yang tersisa, bangku depan meja
guru.
Tas ungu Ema tergeletak di atas meja
bersama dengan speaker berbentuk kotak rokok dan headset putih. Aku pun duduk.
Duduk. Dan tetap duduk. Ah.. ternyata jam kosong. Aku ingat saat jamkos di
kelas sebelas dulu, aku bersama teman-teman langganan menonton film india dan
korea. Kukeluarkan laptop hitam yang telah tak mampu lagi hidup tanpa infus
dari charger. Menonton bayi kembar tiga dari korea menjadi pilihanku ketika aku
tak tau lagi harus melakukan apa selain duduk. Aku sendiri paling suka si bayi
sulung yang tampan menurutku. Aku ingat, Ema sangat menyukai bayi kedua. Imut
katanya. Sampai menit akhir, kulihat bangku samping kiriku tetap kosong. Karena
sibuk menatap layar, aku sampai tak tau bahwa ternyata Ema sudah di dalam kelas.
Ia duduk bersama mereka yang juga menyukai mas-mas korea yang mempunyai perut
bersegi-segi.
Bel terakhir hari itu tiba. Biasanya
ada Ema di sampingku dengan segala guyonan dan mimpi-mimpi memacari lelaki
putih kurus kelas sebelah. Kami berjalan beriringan sampai di parkiran. Pun
pulang beriringan pula. Padahal Ema membawa motor dan aku hanya membawa sepeda.
Tapi Ema selalu memaksakan motornya untuk berjalan selambat sepedaku sampai di
tikungan tempatku berbelok. Tapi sekarang aku berjalan sendiri. tadi saat
kutanya apakah Ema akan pulang bersamaku atau tidak, “duluan aja. Aku masih mau
nge-dance bareng unni”, ujarnya. Hari itu aku berjalan pelan. Aku terpaksa
menyapa mereka yang sebenarnya tak ingin kusapa. Padahal biasanya aku hanya
akan berbicara dengan Ema tanpa harus peduli dengan mereka yang berpapasan
denganku. Hari ini lain.
Aku
adalah seorang introvert. Aku memandang orang lain dengan cara yang berbeda.
Bila ada seseorang memberi sedekah kepada sesama di depanku, mungkin menurut
kebanyakan orang penderma itu adalah orang yang ringan tangan. Namun tidak
bagiku. Bagaimana kalau dia memberi sedekah karena ingin dihargai? Bagaimana
kalau dia hanya sekedar cari muka? Aku melihat senyum tipis yang memuakkan di
wajah penderma itu. Begitulah caraku menjalani hidup. Tiap hari penuh dengan
prasangka.
Sifatku
yang seperti itu membuatku tak mudah untuk dekat dengan orang baru. Sifat itu
bisa membuatku melupakan seribu kebaikan demi satu dosa yang telah dilakukan
orang lain padaku. Aku bisa membencinya bahkan untuk seumur hidup. Banyak dari
mereka di kelas yang terpaksa tersenyum di depanku. Terpaksa bicara denganku. Itu
yang aku heran pada Ema. Kenapa ia bisa dengan lepas berbicara denganku? Untung
saja aku sekelas dengannya selama tiga tahun di SMA. Maka aku pun tak perlu
dekat dengan mereka yang berpura-pura di depanku.
Belakangan
aku merasa sepi. Bosan. Sendirian.
Di tengah
pelajaran, tak jarang Ema meminta permisiku untuk memberi jalan karena ia mau
pindah duduk ke tengah sana bersama teman-temannya. Aku tak tau apa yang bisa
aku lakukan saat duduk sendiri. kulihat yang lain selalu mempunyai bahan untuk
ditertawakan. Apakah kalian tau bagaimana rasanya diam di tengah suara tawa?
Siapapun juga akan menghakimi diriku sebagai seseorang yang tak punya teman.
Saat itu juga, aku ingin kelas tiga SMA segera berakhir.
Seminggu
lagi drama kelasku akan ditampilkan. Aku yang dengan sialnya ditunjuk sebagai
sutradara harus segera merapikan latihan yang bahkan aku sendiri tak
menyukainya. Mereka yang belum hafal skrip, mereka yang enggan latihan,
lengkap. Sebulan latihan sama sekali tak menghasilkan apapun. Tiba-tiba suatu
pagi, Ema membisikiku bahwa ia mendengar desas desus bahwa anak-anak kelas
tidak setuju dengan scenario buatanku. Mereka ingin menggantinya. Saat itu juga
aku sangat marah. Bukan salah mereka bila tak tertarik dengan jalannya skrip
drama. Salah mereka adalah kenapa mereka baru menyebar desas desus itu seminggu
sebelum hari H. aku memasang muka datar. Kutaruh wajahku di atas lipatan tangan
dan memutuskan untuk tidur. Si bodoh mana yang bisa tidur saat suasana kelas
menentangku. Si bodoh mana yang bisa mendengkur di tengah-tengah suara
sudut-sudut kelas yang membangun rencana untuk merobohkan scenario yang mereka
tunjuk sendiri dahulu.
Jalan
ceritanya memang membosankan. Aku setuju itu. Aku pun sama sekali tak menyukai
peranku sebagai sutradara. Namun dengan keputusan guru seni budaya, aku harus
mengatur 27 anak lengkap dengan perannya.
Pelan-pelan
entah air dari mana, pipiku basah.
Lusa saat
mereka menampilkan skenario baru, seisi kelas setuju. Kudengar kalimat, “bagus
nih ceritanya”, dari salah satu teman dekatku. Entah kenapa, tapi aku merasa
sakit. Mereka mengutusku menjadi narrator. Tugasku hanya duduk dan membaca
narasi. Dari jauh kulihat mereka tertawa-tawa saat latihan. Begitu juga Ema.
Melihat kebahagiaan mereka membuatku merasa gagal. Gagal dalam hal apapun.
Gagal dalam hal menjadi sutradara, dan gagal dalam hal menjadi seorang teman.
Dengan egoku, terasa sedih saat melihat Ema tertawa lebih lebar ketika bersama
mereka.
Kelas dua
SMA adalah masa terbaik di hidupku. Selain karena aku sekelas dengan dia yang
menjadi hobi baruku, Ema menjadi alasan utama. Terbesit waktu itu aku, Ema, dan
dua teman lainnya mengumpulkan uang untuk membeli timun, nanas, cabai, dan gula
merah untuk membuat rujak buah di rumah Ema. Aku dibonceng Ema waktu itu.
Melewati jalanan dengan tepian hijau dan langit mendung membuatku jujur merasa
bersyukur. Apalagi saat salah satu motor temanku harus berhenti di bengkel
karena bannya meletus, aku sangat bersyukur. Aku bisa duduk bersama dengan Ema
dan yang lainnya di tepi sawah sembari menertawakan nasib kala itu dan menunggu
orang bengkel selesai dengan tugasnya.
Aku yang sama sekali belum pernah
merasakan persahabatan, membuatku berterimakasih atas hal sekecil itu. Dahulu
juga begitu. Saat sekolah tiba-tiba mencanangkan diri sebagai sekolah adiwiyata
dan mengharuskan setiap kelas untuk selalu bersih. Mereka yang entah mendapat
ide dari mana, ingin membuat kebun sendiri di lahan sempit samping kelas.
Mendadak kami menjadi barisan keluarga Toyib yang tak pulang-pulang. Bekerja
sampingan menjadi pelajar sekaligus tukang gali tanah. Demi merubah taman yang
dulunya menjadi tempat penimbunan kayu menjadi taman yang hidup atas nama kami.
---------------------------------------------------------------------------------------
beberapa sudah tak relevan lagi dengan tulisan itu. SMA dan kampus memang dua yang benar-benar berbeda. mereka dan tetap dengan kalimat itu-itu saja tak lupa menyuruhku untuk diam. beberapa malah tak sungkan bertanya kenapa aku hidup. karena aku memang tak ingat bahwa pernah seberisik ini di kelas.
Kini Ema di Solo. Qotul di Malang, Ongky di Yogyakarta, dan aku di Bintaro.
Kami masih dengan kami.
Masih.
Komentar
Posting Komentar