Langsung ke konten utama

Saat Negara Api Masih Jauh, SMA


Sekarang 21:54 di Bintaro.
4 Juli dengan folder-folder tua berisi tulisan-tulisan yang entah kapan.

----------------------------------------------------------------------------------------

SMA  


Selayaknya mereka yang masih duduk di bangku SMA, aku benci hari senin. Bukan hanya karena harus memakai seragam putih abu-abu yang akan membuat kulit gelapku terlihat seperti lelucon di samping gadis-gadis berkulit putih yang rajin membuat masker kecantikan dari tawas, tapi hari senin memang membosankan. Tiap senin pagi aku berdiri tegak di halaman depan bersama para sekongkolan anak-anak yang juga telat masuk. Tapi berdiri menghadap matahari dan menyapu mushola terasa lebih membahagiakan daripada harus mendengarkan amanah kepsek di upacara sana. Bebas bosan.. juga terbebas dari tangan-tangan guru yang siap mengelus kami dengan keras bila ketauan memakai sepatu selain hitam.

            Seperti senin-senin sebelumnya, aku masuk kelas paling akhir. Kulihat mereka duduk sekedar mengistirahatkan kaki yang kejang selama upacara. Namun kelas terlihat agak sepi karena ditinggal penghuninya ke kantin untuk membeli es jeruk. Aku lalu berjalan dengan tanpa hati menuju bangkuku yang dengan beraninya berada tepat di depan meja guru. Si bodoh mana yang mau duduk di sana. Itu gara-gara segerombolan anak lelaki memindahkan tas dari bangku baris kedua di sebelah utara saat hari pertama kenaikan kelas. Terpaksa aku dan teman sejawatku, Ema, duduk di satu-satunya bangku yang tersisa, bangku depan meja guru.

          Tas ungu Ema tergeletak di atas meja bersama dengan speaker berbentuk kotak rokok dan headset putih. Aku pun duduk. Duduk. Dan tetap duduk. Ah.. ternyata jam kosong. Aku ingat saat jamkos di kelas sebelas dulu, aku bersama teman-teman langganan menonton film india dan korea. Kukeluarkan laptop hitam yang telah tak mampu lagi hidup tanpa infus dari charger. Menonton bayi kembar tiga dari korea menjadi pilihanku ketika aku tak tau lagi harus melakukan apa selain duduk. Aku sendiri paling suka si bayi sulung yang tampan menurutku. Aku ingat, Ema sangat menyukai bayi kedua. Imut katanya. Sampai menit akhir, kulihat bangku samping kiriku tetap kosong. Karena sibuk menatap layar, aku sampai tak tau bahwa ternyata Ema sudah di dalam kelas. Ia duduk bersama mereka yang juga menyukai mas-mas korea yang mempunyai perut bersegi-segi.

          Bel terakhir hari itu tiba. Biasanya ada Ema di sampingku dengan segala guyonan dan mimpi-mimpi memacari lelaki putih kurus kelas sebelah. Kami berjalan beriringan sampai di parkiran. Pun pulang beriringan pula. Padahal Ema membawa motor dan aku hanya membawa sepeda. Tapi Ema selalu memaksakan motornya untuk berjalan selambat sepedaku sampai di tikungan tempatku berbelok. Tapi sekarang aku berjalan sendiri. tadi saat kutanya apakah Ema akan pulang bersamaku atau tidak, “duluan aja. Aku masih mau nge-dance bareng unni”, ujarnya. Hari itu aku berjalan pelan. Aku terpaksa menyapa mereka yang sebenarnya tak ingin kusapa. Padahal biasanya aku hanya akan berbicara dengan Ema tanpa harus peduli dengan mereka yang berpapasan denganku. Hari ini lain.

Aku adalah seorang introvert. Aku memandang orang lain dengan cara yang berbeda. Bila ada seseorang memberi sedekah kepada sesama di depanku, mungkin menurut kebanyakan orang penderma itu adalah orang yang ringan tangan. Namun tidak bagiku. Bagaimana kalau dia memberi sedekah karena ingin dihargai? Bagaimana kalau dia hanya sekedar cari muka? Aku melihat senyum tipis yang memuakkan di wajah penderma itu. Begitulah caraku menjalani hidup. Tiap hari penuh dengan prasangka.

Sifatku yang seperti itu membuatku tak mudah untuk dekat dengan orang baru. Sifat itu bisa membuatku melupakan seribu kebaikan demi satu dosa yang telah dilakukan orang lain padaku. Aku bisa membencinya bahkan untuk seumur hidup. Banyak dari mereka di kelas yang terpaksa tersenyum di depanku. Terpaksa bicara denganku. Itu yang aku heran pada Ema. Kenapa ia bisa dengan lepas berbicara denganku? Untung saja aku sekelas dengannya selama tiga tahun di SMA. Maka aku pun tak perlu dekat dengan mereka yang berpura-pura di depanku.

Belakangan aku merasa sepi. Bosan. Sendirian.
Di tengah pelajaran, tak jarang Ema meminta permisiku untuk memberi jalan karena ia mau pindah duduk ke tengah sana bersama teman-temannya. Aku tak tau apa yang bisa aku lakukan saat duduk sendiri. kulihat yang lain selalu mempunyai bahan untuk ditertawakan. Apakah kalian tau bagaimana rasanya diam di tengah suara tawa? Siapapun juga akan menghakimi diriku sebagai seseorang yang tak punya teman. Saat itu juga, aku ingin kelas tiga SMA segera berakhir.

Seminggu lagi drama kelasku akan ditampilkan. Aku yang dengan sialnya ditunjuk sebagai sutradara harus segera merapikan latihan yang bahkan aku sendiri tak menyukainya. Mereka yang belum hafal skrip, mereka yang enggan latihan, lengkap. Sebulan latihan sama sekali tak menghasilkan apapun. Tiba-tiba suatu pagi, Ema membisikiku bahwa ia mendengar desas desus bahwa anak-anak kelas tidak setuju dengan scenario buatanku. Mereka ingin menggantinya. Saat itu juga aku sangat marah. Bukan salah mereka bila tak tertarik dengan jalannya skrip drama. Salah mereka adalah kenapa mereka baru menyebar desas desus itu seminggu sebelum hari H. aku memasang muka datar. Kutaruh wajahku di atas lipatan tangan dan memutuskan untuk tidur. Si bodoh mana yang bisa tidur saat suasana kelas menentangku. Si bodoh mana yang bisa mendengkur di tengah-tengah suara sudut-sudut kelas yang membangun rencana untuk merobohkan scenario yang mereka tunjuk sendiri dahulu.

Jalan ceritanya memang membosankan. Aku setuju itu. Aku pun sama sekali tak menyukai peranku sebagai sutradara. Namun dengan keputusan guru seni budaya, aku harus mengatur 27 anak lengkap dengan perannya.
Pelan-pelan entah air dari mana, pipiku basah.

Lusa saat mereka menampilkan skenario baru, seisi kelas setuju. Kudengar kalimat, “bagus nih ceritanya”, dari salah satu teman dekatku. Entah kenapa, tapi aku merasa sakit. Mereka mengutusku menjadi narrator. Tugasku hanya duduk dan membaca narasi. Dari jauh kulihat mereka tertawa-tawa saat latihan. Begitu juga Ema. Melihat kebahagiaan mereka membuatku merasa gagal. Gagal dalam hal apapun. Gagal dalam hal menjadi sutradara, dan gagal dalam hal menjadi seorang teman. Dengan egoku, terasa sedih saat melihat Ema tertawa lebih lebar ketika bersama mereka.

Kelas dua SMA adalah masa terbaik di hidupku. Selain karena aku sekelas dengan dia yang menjadi hobi baruku, Ema menjadi alasan utama. Terbesit waktu itu aku, Ema, dan dua teman lainnya mengumpulkan uang untuk membeli timun, nanas, cabai, dan gula merah untuk membuat rujak buah di rumah Ema. Aku dibonceng Ema waktu itu. Melewati jalanan dengan tepian hijau dan langit mendung membuatku jujur merasa bersyukur. Apalagi saat salah satu motor temanku harus berhenti di bengkel karena bannya meletus, aku sangat bersyukur. Aku bisa duduk bersama dengan Ema dan yang lainnya di tepi sawah sembari menertawakan nasib kala itu dan menunggu orang bengkel selesai dengan tugasnya. 

         Aku yang sama sekali belum pernah merasakan persahabatan, membuatku berterimakasih atas hal sekecil itu. Dahulu juga begitu. Saat sekolah tiba-tiba mencanangkan diri sebagai sekolah adiwiyata dan mengharuskan setiap kelas untuk selalu bersih. Mereka yang entah mendapat ide dari mana, ingin membuat kebun sendiri di lahan sempit samping kelas. Mendadak kami menjadi barisan keluarga Toyib yang tak pulang-pulang. Bekerja sampingan menjadi pelajar sekaligus tukang gali tanah. Demi merubah taman yang dulunya menjadi tempat penimbunan kayu menjadi taman yang hidup atas nama kami.






---------------------------------------------------------------------------------------

beberapa sudah tak relevan lagi dengan tulisan itu. SMA dan kampus memang dua yang benar-benar berbeda. mereka dan tetap dengan kalimat itu-itu saja tak lupa menyuruhku untuk diam. beberapa malah tak sungkan bertanya kenapa aku hidup. karena aku memang tak ingat bahwa pernah seberisik ini di kelas. 

Kini Ema di Solo. Qotul di Malang, Ongky di Yogyakarta, dan aku di Bintaro.
Kami masih dengan kami.
Masih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...