Langsung ke konten utama

R A N T A U



"merantaulah. bertemu jarak akan membuatmu menghargai. kau akan mengenal rindu, dan kau akan akrab dengan berjuang"


Ketika sampai di jalanan desaku, wah. Yang ada hanya kucing di emperan Masjid.

Aspal menjadi lebih gelap karena tidak ada lampu motor yang lewat sekedar melintas, hanya motor yang ditumpangi aku dan sepupuku saja waktu itu. Rumah-rumah tertutup rapat, warung kopi kelar. tidak ada seorangpun. Saat aku mulai heran dan bertanya pada sepupuku jam berapa sekarang, baru jam sembilan lewat lima belas katanya. 

Kalau aku coba mengingat lagi, jam Sembilan itu adalah waktu dimana aku baru keluar kos untuk beli soto atau mungkin pecel lele di Jalan Genteng. Pondok jaya baru benar-benar tidur ketika waktu sudah mengarah pukul satu malam. Tidak terlalu ramai memang, tapi setidaknya tidak sesepi kampung halaman.

Butuh beberapa hari untukku agar sadar bahwa aku sudah benar-benar berdiri di rumah. Dinding kamar yang penuh coretan spidol tentang motivasi untuk batinku sendiri. teringat waktu masih SMA dulu waktu dihadapkan dengan ujian-ujian yang antre di belakang, tidak ada yang memotivasiku. Jadilah tembok yang menyemangati tiap hari. Ada nama beberapa orang yang kuanggap sebagai rival di sekolah dan harus kusaingi. Antagonis sekali aku dulu.

Kini kamarku kurang pas bila disebut sebagai kamar tidur. Lebih cocoknya adalah ruang dilengkapi kasur. Abu gunung mana yang debunya bisa setebal ini di atas printer dan meja kamar.

Dengar kabar bila ada salah satu teman SMA yang sudah menjadi ibu, tetangga sebelah yang beda dua tahun denganku anaknya sudah berumur dua tahun. Rumah depanku penghuninya bertambah satu lagi bayi perempuan. Benar-benar aroma desa.

Di Bintaro dan Jogja dulu berbeda. Wanita lebih memilih berkarir dulu. Bersuami di umur tiga puluhan pun tidak masalah asalkan ijazah S2 sudah di tangan.

Masih pagi ibu memintaku mengantar bubur merah ke rumah-rumah tetangga. Wah iya, aku hampir lupa dengan kebiasaan satu ini.

Di kosku, aku tidak tau nama tetangga samping rumah. Semua hidup dengan ceritanya masing-masing. Bahkan saat rambutannya berbuah dan mengejekku dari celah jendela dengan warna merahnya, aku tidak berani meminta buahnya barang sebiji pun. Yang aku kenal hanya Uni depan kos. Pemilik warung makan yang anaknya berisik tapi senyumnya tidak pernah dipaksa-paksa.

Bintaro Plaza, Lotte, dan BXC, adalah tempat umum kalau kami anak kos sedang tidak ingin makan pecel lele. Tentu saja kami akan mencari tempat makan yang sedang promo di sana. Pernah kami datang ke Burger King dan membeli salah satu paket ayam. Yang datang di piringku paha goreng yang bahkan aku bingung di sebelah mana dagingnya. Terakhir, kami datang ke XXI untuk nonton salah satu film Ernest Prakasa, Susah Sinyal.

Kini di rumah, iklan program musik yang aku lihat enam bulan lalu masih ada. Tidak ada inovasi. Acara gossip juga masih lancar, bahkan makin banyak. Perseteruan antara Annisa Bahar dan Juwita Bahar menjadi topik pertama hari ini.
Rumah dan rantau memang saling timpang. Hari ini berbahasa jawa, kapan hari harus berbahasa Indonesia. semester depan juga ditambah lagi dengan bahasa inggris. Ada masing-masing sudut yang membuat rumah lebih tenang dari kos. Ada juga sudut lain yang membuat kamar kos di makadam lebih nyaman dari rumah. Lalu, kesimpulannya? Tidak ada kesimpulan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...