Langsung ke konten utama

Keributan Dua Hari (baca: MAKRAB)

kalau wacana pertama adalah buka bersama, maka wacana kedua adalah malam keakraban.

Kas kelas sekian rupiah
Kas angkatan sekian
Asturo menteri menyapa sekian
Perpisahan sekian
Buka bersama sekian

membaca semua tagihan itu rasanya kata makrab sudah tak mungkin lagi. awalnya mereka (yang itu-itu saja) menyusun konsep akan kemana kita nanti. sampai sejauh dibentuk divisi-divisi seperti acara, konsumsi, dan perkap. dan tentu saja, aku tak jauh-jauh dari nasi. maka jadilah aku anggota seksi konsumsi.

setelah melihat beberapa dari mereka sudah sampai ke tahap survey, wah, sepertinya kali ini bukan wacana. mungkin. 
baiklah, kita berangkat bulan januari. 

"nggak bisa. aku udah beli tiket pulang", kata A

"nggak bisa di-reschedule?"

"no"

oke kalau begitu geser ke hari sesudah liburan.

"aku nggak ikut ya, soalnya masih belum balik", kata B

februari, maret, april, mei kini sudah juni. mungkin daripada makrab, lebih baik kita reuni akbar saja nanti di tahun 2035. masuk ke gedung reuni sambil mengemong anak sepertinya seru juga.

sampailah di Juli.
akhirnya diputuskan bahwa kelas akan tetap berangkat dalam keadaan tidak lengkap atau tidak makrab sama sekali.

dua dari tiga puluh delapan tidak bisa ikut karena menjadi.. entahlah. panitia acara kampus yang tak tau kapan ujungnya.

Minggu, 1 Juli 2018

yang awalnya aku sudah mengatur setelan apa yang harus kupakai pagi itu, mendadak jadi serba hitam. aku sudah tak peduli lagi akan tampak seperti apa warna bajuku hari itu. minggu adalah jadwalku mencuci baju. jadi meskipun ketua kelas menyuruh kami berkumpul pukul tujuh di air mancur, maaf ketua, aku harus taat dulu dengan jemuranku. karena satu yang pasti, seperti selayaknya Indonesia, pasti molor. n g a r e t.



"bukan karet tapi elastis. Janji"

sudah pukul 07.21, tapi yang kulihat di air mancur baru mereka-mereka dengan training dan kaosnya lalu berlari-lari sebagai bagian dari kegiatan kampus. tak ada benda berbentuk bis di sana. karena belum sarapan, aku ke Alfamidi seberang sana untuk membeli apapun yang kupaham pasti akan sedetik habis saat kutawarkan pada teman-temanku nanti. 

belum juga sampai di pintu masuk, Yosner dengan batak-betawinya itu bertanya padaku tentang double tape. pantas saja, dia belum membuat kado yang nanti akan ditukar-tukarkan. melihat dua pasta gigi di tangannya, sepertinya aku paham bahwa sikat gigi itu tak lain akan jadi 'hadiah' yang akan dibungkusnya nanti. aku tidak akan bertanya kenapa harus sikat gigi? kenapa bukan sesuatu yang lebih berkesan? tidak, karena aku sendiri juga hanya membungkus empat sabun shinzui kemasan ekonomis.

sepertinya kebanyakan hadiah nanti akan berbau semua aksesoris di toilet. benar, ketika makrab kuharap mereka semua tetap mandi. 




Alhamdulillah, (akhirnya) bis datang. sekarang pukul sembilan pagi lebih. sari roti rasa coklatku yang berisi 10 sisir tadi habis sudah. dua sisir untukku, delapan lainnya entah kemana. bungkusannya tak lagi kembali. 

bis kecil kami cukup sederhana. pintunya bisa auto-buka alias geser-geser sendiri. sampai di jalan tol, mendadak ada bapak-bapak yang naik dan menawarkan manisan kedondongnya. ada lagi pengamen yang bernyanyi di saat speaker musik kami juga bernyanyi. jadilah mereka berkolaborasi. kulihat di jalan ada beberapa masha without bear yang menari-nari di tengah jalan. kenapa mereka bisa menari di tengah jalan tol? karena memang jalan tengah macet. beberapa dari mereka tak beralas kaki. aku dan mereka yang duduk di dalam sini saja sepanas ini, apa kabar dengan mereka yang meskipun telah bertopeng tapi tetap tidak bersepatu juga. semoga rezeki di sisi mereka.

ternyata,
supir bis kami tidak bisa membawa bis sampai ke tujuan. kami sampai sekitar pukul dua belas siang padahal check in villa masih sekitar tiga jam lagi. tiga jam dengan kami yang terpaksa turun di parkiran hotel. yang entah mau apa selama itu. di sela-sela siang yang anehnya berhawa dingin, beberapa dari kami memulai hotel tour ke toilet belakang, ke warung, dan ke semua sudut. Nasya selalu memanggilku tak lupa dengan hiasan nama-nama makanan di belakangnya.

"makan yuk"

"Yin, ada cilok tuh"

"beli bakso, yin"

itu masih sebagian. pagi sampai kembali pagi di villa, dia tetap memanggilku dengan kata cilok di belakangnya. 

Makrab.
entah apa yang sebenarnya akan kuceritakan tentang topik ini. yang jelas para hawa di lantai dua sangat berterimakasih dengan mereka yang bermain billiard di samping kamar sampai pagi. tentu saja dengan teriakannya, dan tak jarang mereka yang sudah pro mendadak membuka bimbingan belajar tentang teknik-teknik mengatasi bola-bola itu dengan benar.

saat kembali ke kosan, kudapati satu bungkus indomie goreng dalam tas yang kuingat ternyata adalah bukti tanggapnya diriku ketika mengamankannya dari mereka para pemain billiard itu.

sendi bahu kiri mulai terasa bergeser ketika sudah tak lagi mengipasi bakaran yang katanya barbeque itu. aku mengipasinya dengan baki besar dan ketua kelas beberapa kali mengatakan, "yang keras biar apinya kecil". "lagi.. lagi". "udah. nah terus yin" -_-

meskipun mungkin buah dari makrab ini adalah foto-foto aib di google drive, tapi terimakasih telah pernah membuatku, membuat kami, berkeliling villa dengan listrik mati demi menjalani sebuah game. menyelami air yang aku sendiri tak bisa berenang sekedar mengambil koin. mengipasi sate-sate sosis yang membuatnya butuh waktu beberapa jam tapi hilangnya hanya sekitar lima menitan. 

 "lurus! lurus!" dan kami hampir berakhir di air kolam










(Dan beberapa foto aib lainnya)
Terimakasih Tim HPD.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...