Langsung ke konten utama

Cadar dan Mengapa



(Murni opini, terlepas dari benar atau salah)

wanita atau lebih tepatnya muslimah yang bercadar masih menjadi pusat perhatian di kerumunan. meskipun yang bercadar jumlahnya tak sedikit, tapi aku pribadi (dan mungkin juga kalian) menyisihkan waktu beberapa detik hanya sekedar untuk tertegun menatap langkah mereka.

cadar dalam kacamata masyarakat masih lekat dengan kata 'berlebihan'.
bahkan kerabatku mengatakan bahwa itu sebenarnya tidak perlu.

benar. aku tidak menyangkal bahwa cadar memang tidak perlu, tapi aku juga tidak setuju bila cadar tidak harus ada. bagian yang tidak termasuk aurat dari seorang wanita memang hanya telapak tangan dan wajah.

lalu untuk apa bercadar?

kadang, meskipun wajah bukan sesuatu yang harus ditutupi, tapi bermula dari wajahlah semua dimulai. tidak perlu mereka tau selurus apa helai rambutmu yang tertutup jilbab sepanjang mereka sudah tau bahwa parasmu cantik. 

Siti Sarah, simbol kecantikan seorang muslimah dalam islam, hanya dengan wajahnya ia mampu membuat Nabi Ibrahim hampir dibunuh oleh Raja Mesir.

dari wajah, kita bisa segera memulai apa yang mereka sebut dengan jatuh hati.
dari wajah, kita bisa segera stalking semua-mua akun media sosialnya.
dari wajah, kita bisa membeli belasan gulungan poster mereka yang biasa di layar kaca.
dari wajah, kita bisa mengingat satu nama yang kemudian berlanjut ke harapan.

sepanjang apapun hijab seorang muslimah, setertutup apapun, mereka (para lelaki itu) tidak serta merta berhenti bersiul pada kita.

masih ada cuitan.
bahkan sekedar ucapan salam saja bisa beralih menjadi bahan godaan.
godaan dan cuap-cuap itu memang tidak semasif ketika kita tidak memakai hijab, tapi semua itu judulnya sama: gangguan.

mereka yang belum berani atau bahkan tidak berani bercadar kadang harus menutup wajah mereka dengan masker dari apotik atau masker apapun itu. sekedar untuk menjauhkan diri dari gangguan.

lalu,
dengan cadar (insyaAllah) bisa menemukan seseorang yang menerima kita apa adanya. terlepas dari mereka harus tau seberapa lancip hidung kita, seberapa tipis bibir kita, seberapa runcing dagu kita. yang mereka lihat dan yang mereka tau hanya sifat dan sikap, sudah. 

ketika wajah adalah satu-satunya alasan kalian dalam memilih, entah dengan ceroboh atau dengan berbagai pertimbangan, atau mungkin hanya sekedar agar tidak terlalu malu ketika membawa pasangan ke kondangan, menurutku itu tidak bijak.

di atas langit masih ada langit.
kalau kau memilih yang cantik atau tampan, kalian akan berpapasan dengan banyak lagi yang lebih rupawan. 
ketika menurutmu dia sudah yang paling rupawan, diamu itu tetap tak bisa melawan penuaan. rupawannya itu bisa hilang sewaktu-waktu, entah tergores apa, entah tertabrak apa, entah alergi apa.

bayangkan, ketika paras yang sekian lama tertutup itu, yang sekian lama terlindungi dari debu dan sengatan matahari, asap knalpot, dibuka pertama kali hanya kepada yang ditakdirkan padamu.
ia memilihmu karena akhlak. ketika melihat wajahmu yang terjaga itu, makin bersyukurlah hatinya.

banyak dari kita, aku, dan kalian yang ingin jauh dari gangguan, ingin menemukan mereka yang menerima apa adanya, tak perlu kita harus masuk akun mahasiswi cantik dulu, namun tak mampu dan tak memungkinkan untuk bercadar.

kondisi sosial, lingkungan akademik, keluarga yang tidak setuju, atau akhlak yang dirasa belum pantas, semuanya berputar-putar di wadah yang sama.

hentikan anggapan ekstrimis pada muslimah yang bercadar. 
pernah aku melihat mereka membuka kain kecil itu di tempat wudhu, dan aku menyaksikan sendiri betapa ayunya paras mereka.
pernah aku melihat mereka sejenak melepas cadar untuk memakai mukenah, lalu mereka tertawa-tawa dengan karibnya. dengan topik biasa, yang juga sering dibahas mereka kebanyakan. dari situ kupaham, oh ternyata mereka juga manusia. manusia biasa.

tapi meskipun mereka juga biasa-biasa saja, mereka harus menerima tatapan-tatapan sinis itu. gunjingan itu, dan segala tuduhan itu.

hentikan.
setidaknya mereka lebih maju daripada kita yang masih dengan bangga berjalan dengan rupa masing-masing, memolesnya, dan mengabadikannya. lalu diedit-edit entah dengan menambah tingkat brightness atau apapun sejenisnya.

setidaknya mereka mampu menutup apa yang seharusnya tak apa bila tak ditutup. mereka mampu menahan memperlihatkan sesuatu yang mereka kebanyakan perlihatkan. bahkan kita, memakai kaos kaki saja masih dianggap aneh. "ngapain pake kaos kaki sih orang cuman jalan ke depan kok." entahlah, mungkin mereka hanya belum tau.

tak apa. cadar hanya alat. jika bercadar maka makin baik, bila tidak tetap tak masalah.


semoga Allah swt. melindungi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...