Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

[Puisi] Lari

ketika satu yang dicari, dan sekaligus satu yang paling dihindari ada tanpa ada tandanya. maka: Garis-garis hati, yang dicari menari. saat nadanya bertanya, gendang mendadak tuli. lidah bukan lagi menjawab. kaki, bawa aku lari sebelum hatiku meledak di tempat haha, lucunya.

Tentang PDH

Foto Pakaian Dinas Harian, layar biru semua. foto itu sepertinya membentuk sebuah opini betapa ketatnya seragam para lelaki itu. dulu, ketika baju kami hanya dipenuhi dengan warna hitam dalam seminggu, aku menganggap 'wah' pada seragam yang satu ini. ketika masih baru-baru memakai bivak di kepala, terlihat seperti mau sholat jumat saja mereka. baru kemudian disosialisasikan bagaimana cara pemakaian atribut PDH dengan benar.  seragam yang dari lama aku anggap berkharisma itu, baru kupaham rasanya ketika kukenakan sendiri. baru paham rasanya bagaimana memasang monogram-monogram dan satu dua atribut lainnya.  paham bagaimana rok blue navy itu memperlambat langkahku untuk berangkat apel sehingga harus kuangkat sedikit.  PDH hanya ada di hari selasa. dan hari selasa adalah jadwal kami libur. bagus bukan? seragam kebanggaan itu tak akan pernah kami pakai selain untuk apel dan acara-acara formal kampus lainnya.  setelah satu mata kuliah digeser menj...

Cadar dan Mengapa

(Murni opini, terlepas dari benar atau salah) wanita atau lebih tepatnya muslimah yang bercadar masih menjadi pusat perhatian di kerumunan. meskipun yang bercadar jumlahnya tak sedikit, tapi aku pribadi (dan mungkin juga kalian) menyisihkan waktu beberapa detik hanya sekedar untuk tertegun menatap langkah mereka. cadar dalam kacamata masyarakat masih lekat dengan kata 'berlebihan'. bahkan kerabatku mengatakan bahwa itu sebenarnya tidak perlu. benar. aku tidak menyangkal bahwa cadar memang tidak perlu, tapi aku juga tidak setuju bila cadar tidak harus ada. bagian yang tidak termasuk aurat dari seorang wanita memang hanya telapak tangan dan wajah. lalu untuk apa bercadar? kadang, meskipun wajah bukan sesuatu yang harus ditutupi, tapi bermula dari wajahlah semua dimulai. tidak perlu mereka tau selurus apa helai rambutmu yang tertutup jilbab sepanjang mereka sudah tau bahwa parasmu cantik.  Siti Sarah, simbol kecantikan seorang muslimah dalam is...

R A N T A U

"merantaulah. bertemu jarak akan membuatmu menghargai. kau akan mengenal rindu, dan kau akan akrab dengan berjuang" Ketika sampai di jalanan desaku, wah. Yang ada hanya kucing di emperan Masjid. Aspal menjadi lebih gelap karena tidak ada lampu motor yang lewat sekedar melintas, hanya motor yang ditumpangi aku dan sepupuku saja waktu itu. Rumah-rumah tertutup rapat, warung kopi kelar. tidak ada seorangpun. Saat aku mulai heran dan bertanya pada sepupuku jam berapa sekarang, baru jam sembilan lewat lima belas katanya.   Kalau aku coba mengingat lagi, jam Sembilan itu adalah waktu dimana aku baru keluar kos untuk beli soto atau mungkin pecel lele di Jalan Genteng. Pondok jaya baru benar-benar tidur ketika waktu sudah mengarah pukul satu malam. Tidak terlalu ramai memang, tapi setidaknya tidak sesepi kampung halaman. Butuh beberapa hari untukku agar sadar bahwa aku sudah benar-benar berdiri di rumah. Dinding kamar yang penuh coretan spidol tentang motivasi...

Saat Negara Api Masih Jauh, SMA

Sekarang 21:54 di Bintaro. 4 Juli dengan folder-folder tua berisi tulisan-tulisan yang entah kapan. ---------------------------------------------------------------------------------------- SMA   Selayaknya mereka yang masih duduk di bangku SMA, aku benci hari senin. Bukan hanya karena harus memakai seragam putih abu-abu yang akan membuat kulit gelapku terlihat seperti lelucon di samping gadis-gadis berkulit putih yang rajin membuat masker kecantikan dari tawas, tapi hari senin memang membosankan. Tiap senin pagi aku berdiri tegak di halaman depan bersama para sekongkolan anak-anak yang juga telat masuk. Tapi berdiri menghadap matahari dan menyapu mushola terasa lebih membahagiakan daripada harus mendengarkan amanah kepsek di upacara sana. Bebas bosan.. juga terbebas dari tangan-tangan guru yang siap mengelus kami dengan keras bila ketauan memakai sepatu selain hitam.             Seperti senin-senin sebelumnya,...

Keributan Dua Hari (baca: MAKRAB)

kalau wacana pertama adalah buka bersama, maka wacana kedua adalah malam keakraban. Kas kelas sekian rupiah Kas angkatan sekian Asturo menteri menyapa sekian Perpisahan sekian Buka bersama sekian membaca semua tagihan itu rasanya kata makrab sudah tak mungkin lagi. awalnya mereka (yang itu-itu saja) menyusun konsep akan kemana kita nanti. sampai sejauh dibentuk divisi-divisi seperti acara, konsumsi, dan perkap. dan tentu saja, aku tak jauh-jauh dari nasi. maka jadilah aku anggota seksi konsumsi. setelah melihat beberapa dari mereka sudah sampai ke tahap survey, wah, sepertinya kali ini bukan wacana. mungkin.  baiklah, kita berangkat bulan januari.  "nggak bisa. aku udah beli tiket pulang", kata A "nggak bisa di-reschedule?" "no" oke kalau begitu geser ke hari sesudah liburan. "aku nggak ikut ya, soalnya masih belum balik", kata B februari, maret, april, mei kini sudah juni. mungkin daripada makrab, l...