27 Januari 2018 02.54 p.m Kereta Gaya Baru Malam Selatan (Kompilasi Terbaik NAIF 28 menit 48 detik)
Baru empat jam, Masih ada Sembilan jam lagi.
Aku sudah bosan dengan handphone. Isinya hanya suara vokalis Naif dengan nyanyiannya “Kau yang teristimewa.. Cuma engkau saja..”. Cukup sudah. Khatam.
Mungkin penumpang lain yang duduk di depanku (dan sebelahnya juga) membatin melihatku menguasai stop kontak yang kupakai untuk infus agar laptopku tetap hidup. Sudah lebih dari dua tahun laptop Asus milikku hanya kuat menyala kurang dari sepuluh menit dengan napasnya sendiri.
-Maaf, Mas. Anda bisa pakai stop kontak yang di sebelahnya-
Kereta kali ini biasa saja. Tidak ada kesan FTV seperti terakhir kali aku meninggalkan rumah. Tidak ada topik bagi kami berempat. Sebenarnya ada cemilan-cemilan yang kubeli dari Harmoni kemarin di bawah kursiku. Ada jajanan khas ‘Amanda’ untuk oleh-oleh keluargaku juga di sana.
Belakangan mulai menyadari betapa cerdasnya aku. Membawakan oleh-oleh dari toko yang bahkan sudah ada di rumah dan jaraknya tak lebih dari satu kilometer. Setidaknya Ada alasan kalau aku yang akhirnya memakannya sendiri. Yang kutelan dari pagi hanya roti kacang dan sari kedelai. Aku mencari kesempatan untuk mengambil barang satu saja cemilan dari kresek putih bertuliskan ‘The Sandals’ bekas dari Tanah Abang kapan lalu.
Tapi perutku mengalah, dia bilang: ‘jangan makan, roti itu tidak akan mengeluarkan rasanya kalau kau hanya makan sendiri. memang kau berani sekedar basa basi menawarkan makananmu pada mereka?’. Ah.
Hijau di jendela kananku pun kali ini terlihat hijau yang biasa saja. Tidak seperti pertama kali membawa niat pergi ke Jakarta untuk kuliah. Hijau itu melambai-lambai berkata sampai jumpa lain kali. Iya. Memang aku saja yang hiperbola. Apa menariknya daun goyang?
Mungkin ini karena Bintaro. Makadam dan mereka-mereka yang mengabadikan setiap momen kehidupan. Beruntung sabarku masih penuh. Masih tahan dengan potret sekedar lampu, daun, atau aspal yang mereka abadikan entah dengan alasan apa.
Sampai di stasiun entahlah apa namanya, kupingku masih tertutup headset, pikirku membayangkan rutinitasku di rumah nanti. Beberes rumah, makan, tidur, dan TV. What a simple life.
Baiklah, positifnya aku akan bertemu orang tua yang hampir enam bulan tidak ku temui. Momen tahun baru kemarin aku keluar dengan tetangga kamar. Tak jauh, sekedar ke teras depan dan jelalatan mencari kembang api di langit lalu kemudian memutuskan untuk pergi ke tempat yang Alhamdulillah hiruk pikuknya sudah kelar saat kami tiba untuk menikmatinya.
Yang kedua adalah TV. Dia masuk barang prestise di catatanku. Silahkan saja anggap berlebihan, hanya saja kalian harus tau ketika samping kanan kirimu membicarakan topik Setya Novanto, Gedung BEI yang runtuh, dan aku sendiri tidak tau apa yang mereka bicarakan.
Bisa memang kalau aku sedikit usaha mengklik Line Today, membaca artikel dan lepas dari kekudetan. Tapi tidak, Line Today terlalu berisik buatku. Bagaimana dengan streaming? Haha. Kamarku jauh dari semua sinyal. Sinyal wifi hanya lewat nama tanpa ada garis satupun. Sinyal handphone 4G beralih menjadi hanya E. jadilah aku beraktifitas dalam lubang goa. Tapi untungnya router wifi kini kuletakkan di keramik dapur. Udara segar..
Teringat lagi bahwa ternyata hanya aku yang libur. Karibku dari UNS, UB, UGM, dan yang lain mulai masuk di awal februari. Terlebih lagi ketika di rumah aku tidak akan dapat uang saku. Bahkan untuk sekedar untuk beli gorengan depan rumah.
Sampai Januari ini, terimakasih Bintaro.
Aku bertemu dengan anak-anak kelas yang Alhamdulillah kompak bermutu standar. Tidak ada dari kami yang benar-benar mencolok dan menjadi primadona angkatan. Di depan mereka aku bisa berkata dan tertawa yang tak bisa aku lakukan setahun yang lalu. Aku yang dulu enggan berpose sekalipun, sekarang wajahku jadi bahan guyonan di grup. Galeriku penuh. Terakhir kali, mereka menambahkan tulisan ancaman bagi yang belum membayar kas di mukaku yang kebetulan sedang dalam ekspresi yang sangat mendukung.
Mengajakku pergi menyusuri pintu-pintu tempat makan di Ceger dan PJMI, ke Mall sekedar membuat kesemutan di kaki. Terimakasih ayam geprek level tiganya kemarin. Melihat mereka yang memesan level Sembilan menangis dari lubang hidungnya, mari besok-besok coba yang level nol saja.
Sampai jumpa di 26 Februari
Komentar
Posting Komentar